Raden Sahid


Tumenggung Wilatikta adalah tumenggung Tuban. Ia mendapat puteri trirnan dari Prabu Brakumara dan dengan puteri ini mendapat dua orang anak. Yang tertua laki-Iaki, bagus rupanya, bemama R. Sahid, dan yang mud a perempuan, cantik jelita bemama Dewi Rasawulan. Kedua anak tumenggung Wilatikta itu sangat suka bertapa, R. Sahid suka pula berjudi. Dewi Rasawulan bertapa “ngijang”, artinya hidup seperti seekor kijang, bersama-sama dengan mereka di hutan.

Pada suatu hari tumenggung Wilatikta memanggil anakanaknya. Isterinya pun ikut hadir dalam pertemuan itu. Tumenggung Wilatikta berkata:

“Anak-anakku, sekarang kamu telah dewasa. Ayah ibu telah menanjak usia tua. Oleh karen a itu aku ingin kamu menikah. Pilihlah isteri, Sahid, di antara puteri-puteri bupati-bupati, dan kamu Rasawulan, pilihlah suami yang kau sukai. Ayahlah yang nanti akan melamamya.”

Kedua anaknya diam saja. Lama-lama R. Sahid tak tahan. lagi, ia berdiri, lalu pergi . . . berjudi. Raden Tumenggung mengulangi . pertanyaannya kepada anaknya yang perempuan: “Bagairnana Rasawulan. Maukah engkau kawin?” Dewi Rasawulan menjawab dengan honnat: “Ayah dan bunda. Pada hemat hamba, tak baik hamba kawin mendahului kanda Sahid. Hamba mau kawin, setelah kanda Sahid beristeri.”  Ia pun lalu berdiri dan lenyap, masuk ke hutan rimba berlantara.

R. Sahid fak pernah menang dalam berjudi. Hal itu sangat membuat hatinya marah, sehingga ia memutuskan untuk menjadi penyamun. Tiap kali uangnya habis di perjudian, ia menghadang orang di tengah hutan. Lenganglah jalan-jalan karena orang takut akan penyamun sakti, putera bupati Tuban. Hal itu terdengar oleh Sunan Bonang, seorang wali Allah yang sakti. Beliau berkata kepada murid-muridnya: R. Sahid itu sebenarnya kekasih Allah. Hanya karena ia belum mendapat guru, maka hatinya masih belum tetap. Marilah kita uji.”

Pada hari Jum’at Sunan Bonang hendak pergi bersembahyang ke Mekkah, melewati hutan tempat R. Sahid selalu menghadang mangsanya. Sunan Bonang memakai sisir emas bertatahkan ratna mutu manikam, cerlang-cemerlang cahayanya ditimpa sinar matahari. R. Sahid dari jauh telah melihat beliau. Di dalam hatinya ia telah berkata: “Mujur benar aku hari ini.”

Setelah Sunan Bonang dekat, ditegurnya : “He, paman. Alangkah bagusnya sisirmu itu. Berikanlah kepadaku. Bila tak kau berikan, akan kurebut. Bila kau hendak melawan, boleh menikam.”

Sunan Bonang menjawab: “Ah! Mengapa engkau mengganggu orang berjalan. Saya hendak bersembahyang ke Mekkah. Kalau hanya harta dunia yang kau sukai, ambillah itu.” Sunan Bonang menunjuk ke pohon enau, dan berubahlah enau itu menjadi emas, ratna mutu manikam.

“Ambillah itu. Harganya jauh lebih besar dari pada sisirku ini!” berkata Sunan Bonang lagi.

R. Sahid terpaku keheran-heranan. Dengan takgir Allah swt. ia dapat merasa, bahwa diririya telah dapat dikalahkan, dan sadarlah ia. Timbullah keinginannya hendak berguru kepada Sunan Bonang. Oleh karena itu ia mengikuti perjalanan beliau, sehingga di tengah hutan. Sunan Bonang mltnegurnya: “Heh anakku. Apakah belum cukup harta dunia yang kuberikan kepadamu?”

.R. Sahid menjawab: “Hamba tidak menginginkan harta dunia lagi. Hamba ingin berguru kepada paduka, agar supaya hamba dapat seperti paduka.”

Sunan Bonang: “Apakah betul kamu ingin berguru. Tetapi berat beayanya. Tidak dalam ujud harta benda, tetapi dalam.  ujud keta’atan dan kesetiaan. Apakah engkau berani dan sanggup kukuburkan di hutan ini selama 100 hari?”

R. Sahid: “Biar sampai matipun, hamba akan menuruti apa yang paduka suruhkan.”

Sunan Bonang: ” Baiklah.”

Sunan Bonang menyuruh sahabat dan murid-muridnya untuk menggali lubang di hutan Gambira itu. R. Sahid dikubur hidup-hidup. Sunan Bonang meneruskan perjalanannyake M~kkah. Dalam sekejap mata telah sampai. Setekah selesai bersembahyang Jum’at, Sunan Bonang kembali ke Bonang. Lama kelamaan Sunan Bonang ingat akan R. Sahid. Disuruhn·ya murid-muridnya menggalinya dan membawanya ke .Bonang. R. Sahid tak ingat akan dirinya, tetapi setelah disuap dengan nasi, baru ia menjadi siuman. R. Sahid diaku adik oleh Sunan Bonang, di kawinkan dengan adiknya sendiri dan disebut Seh Malaya. ***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s