Cak Durasim (2)


Seniman Ludruk

Nama lengkapnya adalah Gondo Durasim, tetapi ia lebih dikenal sebagai Cak Durasim. Sebuah nama yang dikenal di dunia seni, khususnya seni ludruk, meskipun tidak mudah mencari data-data pribadi maupun keluarganya. Begitu terkenalnya nama Cak Durasim hingga anak-anak muda pintar di Institut Tehnologi Bandung yang mengelola klub seni ludruk selalu tak lupa menyebut namanya bila berdiskusi tentang kesenian ini.

Cak Durasim sebenarnya bukan sekeedar seniman, apalagi seniaman biasa. Reputasinya menjulang tinggi melewati batas-batas dunia seni karena ia juga satu di antara sedikit tokoh yang berani berkata “tidak” kepada penguasa penjajahan Jepang di Indonesia. Kidungannya yang secara jelas mengritik keras penguasa Jepang sangat melegenda:

“Pegupon omahe doro, urip melu Nippon tambah sengsoro.”

Sampai beberapa waktu, peguasa Jepang belum tahu apa arti kidungan Cak Durasim tersebut. Namun kemudian, gntah melalui siapa, mereka mengetahui artinya hingga menimbukkan kemarahan besar. Aki barnya bisa diduga. Ketika Cak Durasim dam beberapa kawannya mengadakan pergalaran ludruk di Desa Mojorejo, Kabupaten Jombang, ia dan kawan-kawannya ditangkap.

Sampai di sini setidaknya ada dua versi kelanjutannya. Satu sumber menyebut Cak Durasim meninggal di dalam penjara akibat penganiayaan tentara Jepang pada tahun 1944, tetapi sumber lain menyebutkan, seniman itu meninggal dunia setelah dibebaskan pada Agustus tahun itu. Hal ini dinyatakan oleh Satari, bekas sri panggung ludruk Organisatie yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut diatas.

Betapa besarnya pengorbanan Cak Durasim itu tidak perlu diperdebatkan lagi. Kita pun sepakat pada pendapat bahwa pesemon Cak Durasim melawan Jepang tersebut telah menjadi benih dari kesenian ludruk yang hidup sampai hari ini. Ada yang menyebut, ludruk kemudian mengalami penyempitan kapitalistik dan menjadi Srimulat, sementara Cak Durasim menjadi syahid karena perlawanan politiknya terhadap kolonialisme dan imperialism kekuatan asing.

Bagaimana Cak Durasim bisa tumbuh menjadi seniman ludruk yang luar biasa itu tentu tak lepas dari lingkingan yang membentuknya. Ludruk sendiri lahir dan tumbuh pertama kali di Jombang. Kesenian ini dirintis pertaman kali oleh Pak Santik, seorang petani dari Desa Ceweng, kini masuk Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Ia adalah petani berpenghasilan kecil, namun seperti tidak pernah sedih, tetapi malah sering melucu. Pada tahun 1907, Pak Santik mulai mencari nafkah dnegan mengamen dengan iringan musik lisan alias mulut.

Begitulah, ia kemudian berkenalan dengan Pak Amir dari Desa Plandi, dan iringan music pun dilakukan dengan kendang. Lalu Pak Pono bergabung dengan mengenakan pakaian wanita, hingga kemudian disebut wedokan. Mereka bertiga keliling dari kampong ke kampong, menyampaikan pesan-pesannya lewat parikan-parikan yang menarik penontonnya. Di antaranya:

Keong nyemplung neng blumbang
Tinimbang nyolong aluwung mbarang
(keong masuk kolam
daripada mencuri lebih baik mengamen)

Mereka yang tertarik mengetahui lebih jauh tentang perkembangan ludruk membaca buku-buku tentang^ kesenian ini, yang jumlahnya kini terus bertambah. Henry Supriyanto, dosen Universitas Negeri Surabaya, misalnya, cukup banyak menulis buku tentang ludruk. Gelar doktornya yang diraih 2006 yang lalu dari Universitas Udayana, Denpasar, juga membahas seni ludruk.

Kembali ke Cak Durasim, tokoh ini memang mncuat menjelang masa penjajahan Jepang. Dalam suatu kisah, Cak Durasim mulai membentuk kelompok ludruk bukan di Jombang, tetapi di Surabaya. Ini karena pembentukan ini disponsori oleh Pak Tom alias Dr. Soetomo, tokoh pejuang perintis kemerdekaan yang terkenal di awal ke-20 tersebut.

Penampilan ludruk Cak Durasim ini disebut jauh lebih modern. Setiap pertunjukan ludruk yang digelarnya sudah termasuk satu kesatuan dari tari remo yang menampilkan kepahlawanan: “Juga dagelan sebagai sisipan dan baru kemudian masuk ke inti cerita,” demikian Dukut Iman Widodo dalam bukunya, “Soerabaja Tempo Doeloe” Buku 1 yang terbit pada 2002.

Dalam perjalanannya, Cak Durasim mengembangkan kesenian ludruk dengan menggali dan mempopulerkan cerita-cerita dan legenda rakyat dalam bentuk drama. Kedatangan bala tentara Jepang yang membuat sengsara rakyat negeri ini tidak membuat kecil nyalinya, berbeda tentang banyak tokoh dan pemimpin di negeri ini. Tidak sedikit yang mencari keselamatan diri dengan cara berdiam diri, yang barangkali lebih baik karena banyak juga yang menjual bangsa sendiri.

Kalau sekarang kita banyak menemukan pabrikan dan pesemon yang bernada kritik terhadap kekuatan atau kelompok tertentu, maka tidak bisa dibantah hal-hal seperti itu banyak “meminjam” atau meniru gaya Cak Durasim.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Djoko Pitono, Profil Tokoh Kabupaten Jombang. Jombang: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jombang, 2010, hlm.119.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jombang, Kesenian, Legenda, Sejarah, Sosok, Surabaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s