Mas Trip di Blitar


KEBANGGAAN DAN SIMPATI KAMI PADA PENDUDUK KOTA BLITAR DAN SEKITARNYA

Masuknya Tentara Belanda ke kota Blitar, memang ada perlawanan, sekalipun perlawanan itu hanya dari “Die Kleintjes TRIP” (menurut istilah tentara Belanda)

Perlawanan ini berakhir membawa korban luka-luka, yaitu: Sdr. Moendoro, Sdr. Ichsan dan Sdr. Poetranto. Dan selanjutnya Tentara Belanda bermarkas di kabupaten. Biasanya mereka secepatnya mengadakan operasi pembersihan, tetapi ternyata sampai sore harinya mereka tidak ambil langkah demikian, maka kita akhirnya menetapkan, tetap bersarang di kota sekitar markas mereka. Kira-kira pukul 21.00 malam, kita melancarkan serangan ke markasnya (kabupaten). Sampai di alun-alun, anehnya tidak ada perlawanan dari Belanda. Terbawa oleh emosi anak-anak muda waktu itu, dialun-alun berani menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Sekalipun demikian tetap, tak ada sambutan. Setelah kita berpikir apa sebabnya mereka tidak berani keluar dari sarangnya, maka kita akhirnya pergi melenyapkan diri ke pos. Pagi harinya kita tinggal menunggu, siapa tahu kalau Belanda akan mengadakan pembersihan. Perkiraan ini ternyata benar, dengan menggunakan kekuatan yang besar mereka meng­adakan pembersihan, maka tiada jalan lain kita harus ambil sikap menghindar. Baru setelah mereka kembali dari operasinya sampai dekat kota, bahkan begitu mereka lengah mungkin karena tanpa ada perlawanan, bahkan ada beberapa serdadu yang tertinggal dari teman-temannya, maka timing yang baik ini kita gunakan untuk menyerang mereka hasilnya cukup lumayan. Maklum oleh karena Blitar merupakan kota yang kecil maka lorong-lorong terobosan sekecil apapun kita hafal betul, dan setelah penyerang­an berhasil, kitapun mudah melenyapkan diri.

Ternyata Belanda yang semula menganggap bahwa TRIP itu adalah “de kleine ventjes”, mulailah mengakui bahwa peng­alaman Perang Dunia ke II, tidak bisa diterapkan di Blitar ini.

Desa Salam sebagai basis Komando
Selanjutnya kita menetapkan bahwa desa Salam sebagai basis Komando, dan memperbanyak pos-pos digaris terdepan. Patroli pasukan diintensifkan, agar tiap anggota TRIP mengenal secara cermat daerahnya. Dan patroli ini sampai ke desa nDayu. Yang aneh adalah daerah nDayu yang pernah menjadi basis daerah TNI dan Laskar-laskar karena daerahnya yang strategis, ternyata kosong tak ada seorang tentarapun, maka nDayu kita jadikan basis Garis Pertahanan pertama (eerste linie).

Pagi hari ada informasi, bahwa Belanda akan mengadakan pertandingan sepak bola di lapangan Bendogerit kira-kira jam 13.00.

Maka Soewarno Manuk dan Minabu (Cak Buamin) yang kebetulan sedang patroli, pasukannya dibelokkan menuju Ben­dogerit. Disamping itu ada sebagian pasukan yang lewat sungai sebelah barat gedung sekolah. Semua pasukan siap mengadakan penyerangan. Tinggal menunggu komando. Begitu ada isyarat bahwa penyerangan bisa dimulai, maka segeralah Sdr. Warno Manuk, menembakkan pistolnya, sebagai tanda dimulainya se­rangan. Yang sudah ambil posisi di dekat pertandingan mereka tinggal melancarkan tembakan. Dengan sendirinya Belandapun ngacir tanpa arah. Bahkan wasitnyapun tampak lari terbirit-birit sambil membunyikan sempritannya. Apalagi di tambah tembakan tekidanto Sdr. Prawito dari depan rumahnya Dr. Salamun di Bendogerit. Blaar…Blarr, susul menyusul. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana kocar-kacirnya tentara Belanda yang waktu itu sedang berada di lapangan bola. Mereka ada yang jatuh karena tem­bakan, ada yang terjatuh karena tersandung teman-temannya. Pokoknya korban Belnada besar. Sebagaimana sudah kita duga akan datang bantuan tank atau panser untuk melindungi tenta­ranya, maka mulai menderulah suara panser datang membantu. Oleh karena kebetulan, bahwa tekidanto Prawito jatuh meledak di depan panser, maka panserpun mundur dan menghilang. Dengan rasa puas Sdr. Soewarno memerintahkan kita meninggal­kan tempat, secepatnya. Tak lama kemudian Belandapun menyerang posisi TRIP dengan tembakan mortir bertubi-tubi. Terutama sasarannya ditujukan kearah utara. Setelah itu berhenti sepi tanpa ada pertempuran sekecil apapun.

Kedatangan guru kita Pak Darwis
Namun ada yang mengherankan tiga hari kemudian, kita dikejutkan oleh datangnya pelajar-pelajar sekolah menengah dari Blitar ke desa Salam. Maksud kedatangannya untuk menghibur dan memberikan kenang-kenangan, dipimpin oleh bapak guru Engku Darwis. Peristiwa yang mengharukan ini betul-betul langka sekali, karena ada seorang guru membawa murid-murid­nya ke daerah pertempuran yang berbahaya.

Coba bayangkan jauhnya antara desa Salam dengan kota Blitar berapa kilometer, yang masa itu penuh dengan rintangan jalan. Ditengah hiburan berlangsung, bapak Engku Darwis maju ke depan. Banyak diantara kita yang saling bertanya, apa maksud pak Darwis tersebut. Dalam suasana yang hening, maka pak Darwis memberitahukan, sebagai berikut: Bapak sekarang tahu betul, disamping yang kami dengar dan kami lihat dengan mata kepala sendiri bahwa anak-anakku memang berjuang mati-matian untuk menegakkan kemerdekaan ini, untuk itu terus terang kami sangat terharu dan trenyuh. Dengan ini kami umumkan, bahwa bagi anak-anak SMA kelas tertinggi atau kelas terakhir, akan menerima ijasah tanpa syarat. Meledaklah suasana ditempat hiburan itu. Semua yang hadir terharu, sampai-sampai pak Darwis pun tidak lepas ikut meneteskan air matanya. Tak lama kemudian berakhirlah semua acara, Pak Darwis pun pulang kembali ke

Blitar dengan rombongan dan selamat sampai ke rumah masing-masing.

Beberapa Teman mulai berguguran di Ngadirejo
Tepatnya tanggal 14 April 1949 pagi hari kira-kira pukul 04.30, terdengar dari kejauhan, suatu tembakan. Atas inisiatif sendiri Sdr. Minabu bersama Sdr. Hadisuwarno dan Kituk berangkat menyelidiki datangnya tembakan tersebut, ditengah jalan bertemu dengan Soetadi Rono dan Tony Ibrahim, dan diberitahukan bahwa pasukan sedang menuju ke arah selatan. Akhirnya pasukan yang dicarinya bertemu di Bangsari. Tidak lama kemudian tembakan Belanda mendesing di atas kepala. Tetapi banyak teman-teman yang kalem-kalem saja. Baru setelah diingatkan bahwa “Ini tembakan Londo hio rek, engko nek keno bathukmu, kon dadi gawene wong akeh” baru teman-teman tiarap. Maka kontak senjatapun terjadi antara TRIP dengan Belanda. Dan kejadian ini berlangsung lama sekali, karena tidak ada yang saling menyerah atau mundur. Tak lama kemudian terdengarlah suara “Rek aku kenek Rek” ternyata Mulyadi Tjemot gugur. Kemudian tidak jauh dari tempat TRIP bertempur sengit, sedikit di sebelah utara Bangsari, tepatnya di Desa Ngadirejo, pertempuran tidak kalah sengitnya. Kalau di Bangsari kita unggul melawan pasukan Belanda, maka pertempuran di Ngadirejo ini, kita mengakui terdesak, bahkan lari terbirit-birit ke pekarangan orang bahkan sampai ke sawah. Sdr. Nono Sanyoto sebagai pimpinan memerintahkan mundur pasukannya. Lengan cak Minabu tertembak, dan banyak mengeluarkan darah. Ketika ia memperingatkan teman-temannya jangan sampai ada yang mundur melalui sungai, sebab akan menjadi sasaran empuk nantinya, namun sial. Belanda dari belakang telah menyerang dengan stengunnya. Pertempuran di Ngadirejo inilah yang banyak memakan korban teman-teman TRIP. Perlawanan yang gigih inilah menyebabkan Belanda mundur untuk kemudian menghilang. Pertempuran ini berlangsung dari jam 07.00 sampai pukul 13.00 siang. Setelah dicek ternyata 3 orang ditawan Belanda, yaitu Sdr. Hartawan kena punggungnya, Kuncono kena jari-jarinya dan sdr. Mitro luka tertembak pantatnya. Disamping itu luka terkena tembakan namun selamat tidak tertawan diantara-nya: Sdr. Minabu luka pantat dan lengannya, Sunarno tertembus peluru lengan di atas pergelangannya. Sdr. Soejatko tertembak lengan kanannya. Sdr. Soekriadi, sdr. Kariadji, sdr. Dja’far serta sdr. Moelyadi Tjemot yang gugur dalam pertempuran di Bangsari yang tidak jauh dari Ngadirejo, dengan waktu yang bersamaan. Tampaknya korban dari pihak Belanda banyak juga, karena terlihat beberapa temannya ikut menggotong mayatnya. Namun jumlahnya kita tidak tahu persis. Dari pihak TRIP baik yang luka maupun yang gugur semua ditolong, dan dibawa ke nDayu, diiringi jatuhnya hujan rintik-rintik. Belanda rupanya masih penasaran atas kekalahannya yang ke II ini, dimana disamping banyak korbannya juga dia mundur teratur, maka mereka berusaha balas dendam dengan menembakkan mortir dan Hauwitsernya susul menyusul kearah pertahanan kita di desa nDayu. Dengan cepat para korban yang semula kita bawa ke nDayu, terpaksa kita pindah ke Mondangan terus ke Gilir dan Sumenur. Dari nDayu yang kita kira sudah jauh itupun masih dihujani peluru mortir.

Tidak puas dengan tembakan kanonnya, pesawat mereka menggunakan Mustangnya untuk mengejar kita. Namun kami yakin atas pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, korban yang luka-luka ini bisa selamat sampailah ke Swaru, yaitu dikaki gunung Kelud.

Tentara Belanda beranggapan, selama TRIP masih ada di Blitar dan sekitarnya, Belanda tak akan aman. Untuk itu usaha mereka yang utama “bagaimana caranya TRIP tidak lagi berada di Blitar”.

Setelah beberapa hari pertempuran agak mereda, ada kabar Sdr. Minabu terserang tetanus. Maka teman-teman TRIP berusaha membawa ke RS. Mardiwaluyo di Kota Blitar. Sekarang tinggal bagaimana caranya masuk ke Blitar, dimana penjagaan Belanda ketat sekali. Namun dengan akal teman-teman dian-taranya dibantu oleh Bapak Darmadji (bupati Blitar ayahnya Sdr. Soeprijadi) Dr. Trisulo, dan Dr. Winoto beserta ibu yang waktu itu membawakan baju ke RS. kesulitan tersebut dapat diatasi. Sering juga Belanda akan menawan Minabu, namun para dokter menghalang-halangi.

Berita cease fire
Beberapa hari kemudian terpetiklah berita bahwa kedua belah pihak mengadakan persetujuan bersama, tidak saling menembak. Dibentuklah patroli bersama untuk keamanan kota Blitar. Dan Belandapun berani berjalan-jalan di kota Blitar yang kemudian timbul kepercayaan mereka pada pasukan TRIP. Menjelang diberlakukannya cease fire secara umum untuk terak­hir kalinya TRIP mengultimatumkan Tentara Belanda yang ada di Blitar. Diantara ultimatum tersebut: Belanda pada jam 14.00 harus meninggalkan Blitar, atau menerima serangan TRIP. Karena tidak ada jawaban, maka TRIP langsung mengadakan serangan umum di dalam kota. Serangan dimulai siang hari, sore hari dan malam hari sampai pagi hari lagi.

Serangan malam harinya digunakan oleh Pasukan TGP, untuk meledakkan markas Belanda dengan pos-posnya. Serangan umum ini berhasil baik, yang memudahkan kita sewaktu cease fire, TRIP memiliki daerah yang lebih luas, dan strategis. Begitu hari H-nya penyerahan kedaulatan, TRIP memiliki daerah yang luas dan strategis. Kami yakin semua ini dapat berjalan baik adalah berkat hasil jerih payah dan bantuan rakyat kota Blitar dan sekitarnya. Untuk itu terimalah salam dan simpati kami pada masyarakat dan Rakyat/penduduk Blitar.

Cuplikan dari Cak Buamin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mas Trip Jawa Timur menyambut Hari Pahlawan 1992, di Blitar, tanggal 11-12 Nopember 1992. Jakarta: Sekretariat Darmo 49 (ex. TNI Brigade 17 Detasemen I TRIP Jawa Timur), 1992. Hlm. 12.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Blitar, Blitar [Kota], Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s