Pemerintahan Majapahit Antara Tahun 1309—1350


Sepeninggal Kertarajasa Jayawardhana pada tahun 1309, putranya Kalagemet atau Jayanagara yang baru berusia 15 tahun naik tahta kerajaan Majapahit. Ia adalah satu-satunya putra laki-laki dan sejak kecil Jayanagara telah diangkat sebagai Raja Muda (kumara raja). Kadua adik perempuannya bernama Tribhuwanatunggadewi  menjadi Bhatara di Kahuripan dan Dyah Wiyat Sri Raja dewi menjadi Bhatara di Daha.

Dalam masa pemerintahan Jayanagara banyak timbul pemberontakan. Timbulnya rentetan pembe­rontakan ini sebenarnya disebabkan oleh adanya rasa ketidak puasan terhadap, sikap Kartarajasa mengenai pemberian kedudukan kepada para pengikutnya. Namun karena pemerintahan Krtarajasa cukup kuat maka tidak memungkinkan terjadinya pemberontak­an. Banyaknya pemberontakan itu membuktikan pemerintahan Jayanagara lemah. Di samping itu juga mengakibatkan tidak ada kesem­patan untuk mengembangkan kekuasaannya. Pada tahun 1311 timbul pemberontakan Lembu Sora, kemudian pemberontakan Jurudemung pada tahun 1313 dan pemberontakan Gajah Biru pada ta­hun 1314.

Dua tahun kemudian terjadi pemberontakan lagi yang dipimpin oleh Nambi dan berpusat di Lumajang. Pemberontakan ini dapat dipadamkan pada tahun 1316 dan Nambi sendiri tewas dalam pertempuran itu. Peristiwa itu dikenal juga sebagai perang Lumajang. Pada tahun 1319, jadi baru tiga tahun sesudah perang Lumajang, terjadilah pemberontakan Kuti. Kuti ber­hasil menduduki ibukota Majapahit. Raja Jayanagara dengan beberapa prajurit setianya di bawah pengawal­an Gajah Mada terpaksa mengungsi ke desa Badander. Peristiwa inilah yang kemudian lebih dikenal dengan peristiwa Badander. Dalam peristiwa Badander ini muncul nama Gajah Mada sebagai kepala pasukan Bhayangkari yang kemudian menjadi tokoh besar dalam politik pemerintahan Majapahit.

Pada tahun 1328 Raja Jayanagara menderita sakit. Sebagai seorang tabib kerajaan, Tanca diminta untuk mengobati sakitnya Raja. Tapi rupanya Tanca bertindak lebih jauh, Jajanegara dibunuhnya. Kemu­dian Tanca dibunuh pula oleh Gajah Mada. Jajanagara meninggal dan didharmakan di candi Srangga-pura di Kapopongan. Peristiwa pembunuhan Jayana­gara ini dikenal sebagai Peristiwa Tanca. Jayanagara wafat tanpa meninggalkan putra. Oleh karena itu adik perempuannya yang bernama Tribhuwanatunggadewi diangkat sebagai penggantinya menduduki takhta kerajaan Majapahit. Sebenarnya yang lebih berhak menduduki takhta ialah Rajapatni, permaisuri mendiang Krtarajasa, namun ia sudah puas dengan kedudukannya sebagai penasehat Raja, Tribhuwanattunggadewi dinobatkan sebagai Raja Majapahit pada tahun 1328 dan bergelar Jayawisnuwardhani. Ia kawin dengan Krtawardhana. Masa pemerintahannya berlangsung sampai tahun 1350.

Beberapa peristiwa penting yang terjadi dalam masa pemerintahan Jayawisnuwardhani antara lain pemberontakan Sadeng yang dapat dipadamkan pada tahun 1331. Kemudian peristiwa pengangkatan Gajah Mada menjadi patih amangkubumi di Majapahit pada tahun 1334 menggantikan Aria Tadah. Pada waktu upacara peresmian itu Gajah Mada menyampaikan program politiknya di hadapan Tribhuwanatunggadewi. Ucapan itulah yang kemudian dikenal dengan “Sumpah Palapa”. Sebagai pelaksanaan program politiknya Gajah Mada mengirim ekspedisi ke Bali pada tahun 1343 dan berhasil mengalahkan Raja Bali yang bernama Astasura Ratnabhumi banten.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Trowulan Bekas Ibukota Majapahit [Booklet]. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987/1988.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Pemerintahan Majapahit Antara Tahun 1309—1350

  1. dan satu lg majapahit bukan diserang kerajaan islam demak agar tdk mnimbulkan fitnah Cerita versi BABAD TANAH JAWI dan SERAT KANDA itulah yang selama ini populer dikalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah juga diajarkan disebagian sekolah dasar dimasa lalu. Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan kemenangan Islam. Padahal sebenarnya sebaliknya, bisa memberi kesan yang merugikan, sebab seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan
    darah. Padahal kenyataannya tidak begitu. … komentar lebih lengkapnya klik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s