Teluh Condong-campur


Tersebutlah perkataan tentang kerajaan Majapahit. Kota kerajaan yang megah, rarnai dan makmur dahulu, kini sedang dilanda penyakit. Banyak rakyat yang mati, apalagi sakit, bahkan istana Sri Baginda pun tidak bebas dari pada penyakit yang tak pandang bulu itu. Rakyat bersedih, mengeluh, menangis, mengerang-erang. Prabu Brawijaya sendiri tidak sakit, tetapi permaisuri Dwarawati sakit sejak permulaan wabah mulai merajalela.

Tubuhnya tidak sakit, tetapi mendengar keluhan rakyat, melihat rakyat menderita, hatinya seperti didera dengan pecut yang meletup-Ietup. Lebih-Iebih bila melihat wajah permaisuri yang pucat bagai mayat. Permaisuri tidak mengerang, tidak lagi merintih, mungkin karena tidak mampu lagi mengerang dan merintih . Tetapi tubuhnya makin kurus, matanya makin hilang sinarnya. Baginda tidak sakit tubunnya, tetapi hanya supaya lebih peka perasaannya, supaya darah lebih deras dapat rnengalir, supaya jantung lebin keras berdetak-detak. Pendeta, petapa dan brahmana Siwa dan Buddna dikerahkan untuk mencari penolak bala.

Tetapi selama ini, korban dan sajian, puja dan mantra belum lagi mendapat jawaban dari dewata raya. Baginda mengeluarkan perintah, supaya setiap orang yang tak dapat bertugas sebagai pengawal malam, mewakilkan tugasnya kepada anaknya, karena bila tak demikian, mungkin istana akan sepi dari pengawal. Malam itu sepi. Hujan rintik-rintik sejak sore, angin sedikit kencang. Angkasa biru gelap, mendung putih-kelabu menggantung. Sejak tunggang-gunung tadi tak ada lagi orang yang berani keluar rumah.

Atis …. di luar. Atis di dalam hati Empu Supagati hams berjaga di istana malam itu, tapi ia sakit. Anaknya yang bemama ki Jigja terpaksa mewakilinya. Empu Supadriya adik empu Supagati hams berjaga-jaga malam itu, tetapi iapun sakit. Untunglah anaknya yaitu Ki Supa yang bam kemarin datang dengan isterinya untuk melawatnya, dapat menggantinya. Berangkatlah kedua saudara sepupu itu ke istana dengan hati berat. Meninggalkan ayah yang sakit untuk menunggu pennaisuri yang sakit. Baginda menyambut mereka dengan sebuah pertanyaan : “Apakah kamu bangsa empu, tahu juga tentang obat-obatan?” Ki Jigja dan Supa menjawab: “Ampun, beribu ampun Tuanku. Kami empu tidak tahu tentang obat-mengobat.” Baginda: “Kalau begitu, sedapat-dapat jangan tertidur malam nanti. Aku akan , mencoba tidur, karena telah lama sekali tak dapat tidur.” Ki Jigja dan Ki Supa: “Baiklah, Tuanku.” Hujan di luar tidak juga kunjung berhenti. Titik-titiknya seperti memperpanjang malam yang dingin itu. Titik-titiknya yang teratur itu pula makin memberatkan kelopak mata yang hams berjaga-jaga. Belum sampai tengah malam, para pengawal dan inang pengasuh yang menjaga Ratu Dwarawati telah terayun dalam tidur yang resah tetapi lelap. Tinggal dua orang yang belum tidur, yang masih berusaha menahan kantuknya yaitu Ki Jigja dan Ki Supa. Tetapi makin larut, pertahanan Ki Jigja makin goyah dan akhimya duduknya tidak bergerak-gerak lagi.

Ki Supapun tunduk. Matanya tinggal satu baris tipis, merah. Kemudian terdengar suara. Bukan suara titik air hujan. Ki Supa memperbesar baris merahnya. Dan dia menjadi ketakutan. Andaikata , ia tidak takut, matanya tentu akan terbuka lebar bahkan terkejut dan heran. Dari peti tempat pusaka-pusaka keraton disimpan, keluarlah sebuah keris. Ki Supa tahu betul-betul, itulah kyai Condongcampur. Ia keluar bagaikan sebuah teluh braja menyebar penyakit dan derita. Tiba-tiba Kyai Sengkelat yang dipakai oleh Ki Supa keluar sendiri dari sarungnya Ialu menyerang Kyai Condong-campur.

Pertempuran terjadi ramai sekali. Terdengar Iagi sebuah suara aneh. Keris Ki Jigja keluar dari sarungnya dan ikut menyerang Kyai Condong-campur. Pertempuran menjadi lebih seru. Keris Ki Jigja hanya kecil saja, sehingga serangannya hanya bersifat mengganggu. Kyai Condong-campur sungguh-sungguh tangguh. Sambil bertahan terhadap desakan-desakan Kyai Sengkelat, ia masih sempat melancarkan serangan-serangan yang berbahaya kepada keris Ki Jigja. Ia tahu,bahwa agar supaya perhatian yang penuh dapat ditujukan kepada Kyai SengkeIat, keris kecil tapi berbahaya itu harus dilumpuhkan dulu.

Sekonyong-konyong Kyai Condong-campur membelok ke samping. Keris Ki Jigja terlanjur ke depan, sehingga menghalangi Kyai Sengkelat. Dan ketika dalam posisi yang kurang menguntungkan, keris kecil Ki Jigja tak dapat mengelakkan serangan Kyai Condong-campur yang mengenai punggungnya, hingga menjadi bengkok. Keris yang kecil itu terpaksa meninggalkan’ medan perkelahian dan

kembali. ke sarungnya. Tinggal sekarang Kyai Sengkelat yang berhadapan dengan Kyai Condong-campur. Lama kelamaan kyai Condong-campur terdesak, kembang kacangnya terpotong, pamomya rontok. Dengan terbirit-birit ia kembali ke peti pusaka. Tetapi karena terburu-buru ia membuat suara yang mengejutkan Sri Baginda. Sementara itu Kyai Sengkelat telah kembali ke sarungnya.

Baginda mengusap-usap matanya. Dilihatnya Ki Supa masih berjaga. Belum lagi Baginda berbicara, ratu Dwarawati bangun. Permaisuri merasa badannya segar kembali. Hujan di Iuar telah berhenti. Tinggal air yang masih tersangkut di daun-daunan yang sekali-kali jatuh, bila angin menggoyangkan dedaunan dengan keras. Di ufuk timur fajar telah menyingsing. Kokok ayam jantan bersaut-sautan, burung-burung berkicau-kicauan. Agaknya malam gerimis telah menyisih. Pagi dengan sinar kemerahan yang membawa kehangatan telah disambut oleh kicau burung di pohon-pohon yang masih basah dengan air hujan.

Ki Supa dan Ki Jigja pulang dengan hadiah-hadiah dari Baginda karen a permaisuri sembuh lagi kebetulan pada waktu mereka berjaga. Setelah sampai di rumah mpu Supadriya, Ki Jigja singgah karena Ki Stipa memintanya. Mereka duduk di pendapa. Ki Supa berceritera ten tang kejadian semalam. Mendengar bahwa kerisnya yang berdapur sabuk-inten ~mendapat bencana semalam; Ki Jigja menariknya ke luar dan memeriksanya. Benar juga punggungnya bengkok seperti kata Ki Supa. Dengan beberapa pijitan, kerusakan itu telah dibetulkan. Kyai Sengkelat masih utuh, hanya di sana-sini terlihat beberapa goresan seperti kena kikir.

Ki Jigja berkata: “Adi Supa. Kerisml1 baik sekali dan kejadian semalam adalah kejadian yang sangat rumit. Janganlah berceritera kepada siapa pun, karena mungkin dapat berbahaya.” Ki Supa menjawab: “Kalau begitu, saya akan segera kembali ke Tuban.” Ki Jigja: “Ya sebaiknyalah begitu.” Keesokan harinya pulanglah Ki Supa dan isterinya ke Tuban. Ayahnya telah sembuh. Rakyat Majapahit telah sembuh. Pada suatu hari yang baik, Prabu Brawijaya hendak mengasapi pusaka-pusakanya: Dupa telah dibakar, saji-sajian telah lengkap . Baginda mengambil Kyai Condong campur hendak diasapi.

Alangkah terkejutnya. Keris pusaka seakan-akan telah rontok. Kembang-kembang kacang terpotong, pamornya rontok, badannya berlubang-Iubang. Baginda heran . .. . akhirnya memutuskan untuk membasmi Kyai Condong-campur dan membuat keris yang baru. Kyai Supagati, Supadriya, Japan, Jigja diminta membasmi kyai Condong-campur. Saji-sajian lengkap, puja mantra telah dibacakan, Kyai Condongcampur telah dipola bentuk dan ukurannya oleh Patih Gajah Mada lalu diberikan kepada Empu Supadriya. Kyai Condong-campur telah ditaruh di atas api, merah membara. Ketika palu dan godam hendak menimpa, Kyai Condong-campur dengan cepat melesat ke angkasa bercampur dengan teluh braja dan berubah menjadi bintang berekor x). Banyak sekali rakyat yang melihat, bahkan baginda pun ikut melihatnya. Ketika itu bintang itu berkata: “Hai Prabu Brawijaya. Kamu telah berbuat kejam terhadapku. Aku hanya menjadi pelaksana, membuat pertanda “pagering” bagi raja. Laksanakan maksudmu hendak membuat keris itu .dengan dapur nagasasra.” ***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram108–112

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Teluh Condong-campur

  1. Damar berkata:

    Cerita dongeng yang cukup menarik. Walaupun sayang sekali cerita yang berkaitan dengan sejarah itu telah dibumbui hal2 yang nggak masuk akal dan akhirnya membikin kacau sejarah itu sendiri.

  2. jatmiko berkata:

    saya berani memastikan. cerita anda salah, kebalik. justru condong campur yang mengalahkan kyai sengkelat pembuat huru hara.

  3. aji narasimhamurti berkata:

    cerita diatas adalah jenis saga atau cerita tutur yang di wariskan turun temurun. Dan memang saga selalu mendapatkan tambahan bumbu-bumbu prosa. Hanya sejarawan amatiran yg kemudian menjadikan saga sebagai patokan sejarah, karena keduanya berbeda jalur dalam menceritakan sejarah jika dibandingkan dengan kitab atau karya tulis. Setahu saya secara garis besar sama antara tulisan di atas dengan sejarah aslinya, kyai sengkelat mengalahkan condong campur…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s