Ki Pitrang


Dalam perjalanan itu Ki Supa ganti nama yaitu Ki Kasa. Ia berjalan ke timur menyusuri pantai utara. Di suatu desa nelayan, ia melihat sebuah perahu layar sedang berlabuh. Awak kapal sedang mencari air minum dan perbekalan lain. Waktu itu mereka telah selesai dengan pekerjaannya, tetapi masih beristirahat sambil minum-minum di warung. Ki Kasa pun masuk ke warung itu, karena telah lama ia tak melalui desa, sehingga makannya pun hanya terdiri dari buah-buahan yang didapatnya di hutan. Sambil makan dan minum awak kapal pun berbual dengan Ki Kasa.

Awak kapal: “Saudara ini siapa namanya?”
Ki Kasa       : “Saya Ki Kasa, panclai besi.”
Awak kapal: “Saudara mau ke mana?”
Ki Kasa       : “Saya mau ke mana saja, karena hendak berguru pada pandai besi di mana saja. Abang ini mau ke mana?”

Awak kapal: “Ya berdagang ke desa-desa, di pantai utara Pulau Jawa ini. Kruru dari Madura, membawa dagangan terutama garam dan ternak seperti kambing dsb.” Ki Kasa: “Apakah abang bisa membawa saya? Saya ingin juga menye berang ke Madura sekali -sekali. ”

Awak kapal: “Barangkali dapat saja. Cobalah saudara bicara dengan nakhoda Singkir. Ia itu pandai besi juga, tapi khusus untuk keperluan lautan. Lihat dia datang.”

Dari arah pantai datang seorang yang bertubuh tinggi, kekar, berpakaian serba hitam, sarungnya hanya dikalungkan dipundak. Pada waktu ia masuk warung, semua awak kapal memberi hormat. Ki Kasa memberi hormat dengan salam’alaikum. Setelah menjawab salam itu, orang itu duduk dekat Ki Kasa. Tukang warung dengan cepat menuang minuman untuknya.

Nakhoda Singkir: “Adi ini siapa?”
Ki Kasa: “Nama saya Ki Kasa, Kyai. Saya pandai besi.”
Awak kapal: “Tadi saudara ini mengatakan akan belajar kepada pandai besi di manapun dan ingin pula ikut kita, kalau kita mengijinkan.”

Ki Singkir melihat kepada Ki Kasa yang masih muda dan berwajah tampan itu. Hatinya sangat tertarik. Oleh karena itu ia berkata: “Sudah barang tentu Adi dapat ikut. Sudahlah, Adi Kasa saya angkat menjadi adik saya, dapat belajar apa yang saya ketahui. Mungkin juga abang dapat belajar dari Adi Kasa, apa-apa yang diketahuinya.”
Ki Kasa : “Terima kasih Kyai.”
Ki Singkir : “Jangan panggil saya Kyai, Adi panggil saja kakang.”
Ki Kasa: “Terima kasih kakang.”

Demikianlah Ki Kasa ikut Ki Singkir. Selama dalam perjalanan mereka bertukar-tukar ilmu. Setelah sebulan lamanya ada di Madura, terutama di kota Sumeneb, Ki Kasa minta diri hendak pergi ke Koripan. Sampai di Koripan ia tinggal dengan seorang empu yang bisu, setengah bulan lamanya. Terus ia berjalan makin ke timur. Ia berpindah-pindah nama pula untuk membuang bekas. Akhirnya ia sampai di Belambangan. Namanya sekarang ialah Ki Pitrang. Ia langsung menuju ke rumah seorang pandai besi yang bernama Empu Sarap, minta bekerja dan belajar kepadanya. Empu Sarap menerimanya dengan baik, dan makin lama makin kasih setelah mengetahui kepandaian dan kerajinan Ki pitrang. Banyak pekerjaan yang lalu dipercayakan kepadanya.

Pada suatu hari Patih Caluring datang di tempat kerja Empu Sarap, minta dibuatkan sebuah pisau. Ki Pitrang yang disuruh mengerjakannya dan setelah selesai diserahkanlah kepada Patih Caluring. Setelah sampai di rumah Ki Caluring hendak mengasah pisaunya. Anaknya perempuan datang, meraih-raih pisau. Dengan tak disengaja tersinggung pada mata pisau yang baru itu. Tangannya luka hanya sebesar rambut, darahnya tak keluar, tetapi anak itu jatuh ke tanah terus mati. Patih Caluring sangat sedih, karena kehilangan anak, tapi ia merasa mendapatkan seorang empu yang sakti. Oleh karena itu setelah selesai pemakaman anaknya, ia ingin mencoba pisaunya. Ia asah pisaunya itu setajam-tajamnya lalu ia pergi ke penjara, ia keluarkan seorang penjahat yang terkenal kedotan, tak lut oleh senjata. Orang itu disentuhnya dengan pisaunya itu, luka sedikit pada tangannya, darah tak keluar, tapi orang itu mati pula. Ia pergi ke sebuah pohon kemuning, dicongkelnya kulit pohon itu sedikit, Tak berapa lama kemudian pohon itu kering. Yakinlah ia sekarang, bahwa Ki Pitrang sebenarnya seorang empu yang sakti.

Keesokan harinya Patih Caluring datang lagi kerumah Ki Sarap, minta dibuatkan keris yang ampuh seperti pisaunya kemarin. Dia mengatakan bahwa pisau itu sangat ampuh, sehingga anaknya terbunuh dengan tak sengaja, hanya karena terluka serambut besarnya. Ia bertanya kepada Ki Pitrang: “Kalau menjadi keris yang bagus, tentu akan saya beritahukan kepada Baginda.”

Ki Pitrang menjawab: “Hamba sanggup membuatnya. Tetapi tentang baik dan buruk hamba tak dapat mengatakan, karena hamba sangat bodoh. Hamba ini hanya mengerjakan perintah Tuan.” Ki Pitrang diberi besi, lalu dipilihnya yang sesuai. Setelah beberapa lama dikerjakan, jadi dua pucuk senjata:
a) sebuah keris dengan dapur tilam-upih
b) sebuah tombak dengan dapur biring.

Kedua bilah senjata itu diserahkan kepada Patih Caluring Ki Patih sangat takjub, belum pernah ia melihat senjata sebagus itu.

Ia berkata: “Ah Adi Pitrang. Bukan alang-kepalang terima kasih saya. Mulai waktu ini, Adi Pitrang saya angkat jadi adik saya, supaya ikut hidup enak di kerajaan Belambangan. Marilah Adi, kita pulang ke kepatihan.” “Empu Sarap. Saya minta kerelaan Kyai. Pembantu Kyai saya minta masuk ke kepatihan.” katanya kepada empu Sarap.

Empu Sarap otak dapat menahan, bahkan ia senang, pembantunya mendapat kesempatan mengabdi kepada Ki Patih.

Ki Patih Caluring amat kasih kepada Ki Pitrang. Segala kehendaknya diturut. Ia berusaha supaya Pitrang kerasan tinggal di Blambangan. Bahkan keris dapur tilam-upih diperlihatkannya kepada Prabu Siung-lautan. Baginda sangat takjub juga. Oleh karena itu dimintanya Patih Caluring membawa Pitrang menghadap.

“Keesokan harinya Ki Patihdan Ki Pitrang menghadap Prabu Siung-lautan. Baginda sudah di takhta keemasan, memperhatikan Ki Pitrang. Hatinya sangat tertarik. “Wajah Ki Pitrang amat tampan dan berseri. Baginda berkata: ”Pitrang. Banyak kudengar dari Patih Caluring tentang pekerjaanmu. Keris tilam-upih itu pun sangat bagus. Tapi dapatkah kamu membuat keris dengan pola keris lain?”.

Ki Pitrang menjawab: “Bila ada polanya, biasanya hamba dapat mengerjakan. Hamba telah pernah membuat keris dengan jalan seperti itu bagi petani-petani dan pedagang-pedagang kayu. Sudah barang tentu keris itu bukanlah keris yang benar-benar sakti.”

Baginda: “Saya ingin membuat kembaran bagi keris pusaka keraton Belambangan. Apakah engkau sanggup?”

Ki Pitrang: “Belum dapat hamba mengatakan sanggup Tuanku, karena keris pusaka itu sangat ampuh. Belum tentu hamba mampu memenuhi syarat-syaratnya. Tapi bila Tuanku dapat memperlihatkah kepada hamba keris itu, mungkin hamba dapat mengatakan sanggup atau tidak.”

Baginda. mengambil keris Kyai Sengkelat dan diperlihatkannya kepada Ki Pitrang, katanya:
“Inilah ujudnya keris pusaka keraton Belambangan.”
Ki Pitrang memperhatikan keris itu. Tak salah lagi. Itulah Kyai Sengkelat. Akhirnya ia berkata:
“Hamba, sanggup membuat kembarannya Tuanku, tetapi syarat-syaratnya sangat berat. Hamba harus mensucikan diri, berpuasa dan bersemadi beberapa hari. Saji-sajian harus selengkap-lengkapnya. Besalen harus ditutup dengan kain putih. Kemudian terpaksa hamba harus bekerja di tempat yang gelap sekali, untuk dapat menangkap sinar pusaka itu sepenuh-penuhnya. Walaupun ujud dapat sama, tetapi bila cahayanya tidak sama, maka kesaktiannya pun tak dapat sama. Dan karena ini adalah pusaka keraton hamba mohon supaya Ki Patih dan Ki Empu Sarap menjaga hamba bekerja.”

Sebetulnya Prabu Siung-lautan tidak mau bercerai dengan kerisnya. Tetapi, setelah Ki Pitrang sendiri minta supaya dijaga oleh Ki Patih yang sangat dipercayainya lagi sakti dan oleh Ki Empu Sarap, pandai besi terulung di Belambangan, hati Baginda menjadi tentram. Tak ada kecurigaannya sedikitpun.

Ki Pitrang mensucikan diri. Berhari-hari ia herpuasa dan hersemadi. Pada hari malam Anggara Kasih, ia minta Ki Sarap menyediakan segala saji-sajian dan mohon Ki Patih untuk mohon keris pusaka dan besi yang akan dibuat keris kembaran itu. Ki Patih segera masuk ke istana, Ki Sarap sibuk dengan segala saji-sajian. Kyai Sangkelat telah di bawa kembali oleh Ki patih di dalam sebuah peti yang tertutup, langsung dibawa masuk ke dalam besalen bertirai kain putih.

Malam itu malam yang gelap gulita. Ki patih dan Ki Sarap menjaga saji-sajian dan api dupa. Ki Pitrang masih ada di dalam sanggar samadi. Baru tengah malam nanti, Ki Pitrang akan bekerja. Suasana sungguh khidmat. Asap dupa yang kemelun, saji-sajian yang lengkap dan dua orang tunduk menghadapi pedupaan. Menjelang tengah malam seorang tokoh lain masuk ke ruangan itu, berpakaian putih. Dua orang itu menoleh, tapi tak berkata-kata. Memang, sebelum pekerjaan selesai mereka tak boleh bercakap-cakap. Tokoh berpakaian putih itu Ki Pitrang. Langsung ia masuk ke besalen. Di sekitarnya keheningan di dalam lingkupan gulita yang pekat.

Ki Pitrang bekerja. Besi yang ada di dalam peti diciptanya menjadi dua bilah keris dapur sengkelat, tepat tak ada bedanya sedikit pun. Diucapkannya mantra “pasirep”  dan seketika kemudian Ki Patih dan Ki Sarap telah tidur lelap di tempatnya masing-masing, tidak terkapar di tanah, tetapi hanya diam mematung. Ki Pitrang membawa Kyai Sengkelat ke luar, disembunyikan di sungai di bawah sebuah batu, lalu ia kembali ke tempatnya. Ditunggunya fajar.

Ayam jantan berkokok bersaut-sautan. Di luar langit telah mulai terang. Ki Pitrang menarik pasirepnya dan kedua orang itu, Ki Patih dan Ki Sarap bangun dari tidur yang tak mereka sadari. Sebentar kemudian Ki Pitrang ke luar.

Ki Patih Caluring bertanya: “Adi, apakah kau berhasil?
Ki Pitrang: “Dengan kurnia dewata agung, dapat berhasil juga. Harap lihat sendiri.”
Ki Patih masuk ke dalam besalen bertirai dan dibawanya peti keris pusaka ke luar. Sementara itu Ki Sarap telah menyalakan lampu. Kedua orang itu untuk beberapa waktu tak dapat bercakap-cakap, karena di dalam peti terdapat dua buah keris yang tak dapat dibedakan yang satu dari pada yang lain.
Ki Patih: “Manakah yang asli dan manakah yang baru?”
Ki Pitrang: “Bagaimana hamba tahu, marilah kita serahkan kepada Sri Baginda.”

Ketiga orang itu memperbaiki letak pakaiannya dan bersiap-siap untuk menghadap Sri Baginda. Tinggal menunggu, agar waktu lebih terang lagi. Sementara itu makanan tersaji. Ki Pitrang membuka puasanya. Habis makan pagi mereka pergi ke istana. Mereka tak perlu menunggu terlalu lama, karena Prabu Siung-lautan juga bangun pagi. Baginda tidak sabar menunggu hasil kerja Ki Pitrang.

Setelah Baginda membuka peti, Baginda ternganga-nganga. Di dalam peti terdapat dua bilah keris yang sama. Diambilnya kedua-duanya, ditawangkannya ke matahari, kilatan-kilatannya pun sama. Baginda mengambil sarung Kyai Sengkelat. Dicobanya satu persatu. Tak ada yang tidak pas. Baginda takjub bukan buatan. Baginda bertanya: “Hai. Manakah yang asli dan manakah yang baru?” Ki Pitrang: “Hamba hanya membuat kembarannya. Setelah jadi hamba tak tahu mana yang asli dan mana yang baru. Hamba baru sebentar melihat keris pusaka Tuan. Ki Patih dan Ki Sarap tak pula dapat melihat keris pusaka Tuan. Tadi kami berharap Tuanku dapat melihat mana, yang asli mana yang baru, karena keris itu telah lama ada pada Tuanku.

Baginda: “Sungguh sempurna pekerjaanmu ki Pitrang. Kedua keris ini betul-betul kembar. Aku tak dapat membedakannya. Sungguh aku berterima kasih kepadamu. Dan sebagai pernyataan terima kasihku itu, kamu kuangkat menjadi adipati di Sendang Sedayu bergelar Pangeran Sendang Sedayu. Lagi pula aku kawinkan dengan anakku yang bernama Retna Sugiyah.”

Hari itu pernikahan dan pengangkatan Pangeran Sendang diresmikan dan dirayakan. Hari berikutnya Pangeran Sendang telah ada dalam perjalanan ke kadipaten yang baru. ***
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI, Galuh Mataram, hlm. 117-122

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s