Kinom (Ki Supa-anom) (2)


Usaha Prabu Brawijaya untuk membuat keris dengan dapur nagasasra masih belum berhasil. Segala empu yang dikumpulkan dari seluruh penjuru kerajaan tidak juga berhasil menciptakan keris itu, sehingga patih Gajah Mada pun disuruhnya pergi mencari empu yang sanggup mengerjakan titah Baginda itu, dan dilarang pulang bila tidak berhasil.

Pada suat hari ketika Baginda melihat-lihat kerja para empu pandai keris, ia ingat akan Ki Supa yang pada waktu itu tidak hadir.Baginda berkata kepada Empu Supadriya:
”Empu Supadriya. Di manakah anakmu yang bemama Ki Supa? Saya tidak melihatnya.”
Empu Supadriya: “Ampun Tuanku. Pacal Tuanku Ki Supa sekarang ada di Tuban, diambil menantu oleh Adipati Wilatikta”.
Baginda: “Kalau begitu, pergilah ke Tuban, panggillah ,anakmu itu.”
Empu Supadriya: “Daulat Tuanku. Titah Tuanku Patih junjung.” Empu Supadriya segera ke luar, terus berangkat ke Tuban.

Kita tinggalkan yang ada diperjalanan, kita tengok yang ada di kadipaten Tuban. Kinom atau Supa-anom, putra Ki Supa yang di tinggal pergi oleh ayahnya. Ia tumbuh dengan pesat, seperti diburu-buru tumbuhnya tapi hatinya senantiasa bersedih, karena rindu akan ayahnya. Ia jarang sekali makan, sekali dua kali sebulan. Banyak-banyaklah ia pergi kehutan untuk bertapa. Lama-lama ia mepjadi sakti dapat bergaul dengan roh-roh halus. Mampu berpande diangkasa dan didalam air, karena dipungut anak oleh mpu Anjanirama.

Pada suatu hari Kinom menghadap nenek dan ibunya. Ia bertanya tentang ayahnya, pertanyaan yang sudah diulanginya untuk beberapa kali. Tapi kali ini neneknya menjawab dengan lebih panjang lebar:

“Cucuku. Ayahmu sedang mengikuti gurunya yaitu Sunan Kalijaga yang sedangberkelana. Sukar untuk dapat mengatakan di mana sekarang, karena Sunan Kalijaga itu amat sakti, pergi tak ketahuan tujuannya, datang tak ketahuan datangnya.”

Kinom “Siapakah Sul’lan Kalijaga itu, nenda?” Adipati Wilatikta: “Sebenamya Sunan Kalijaga itu masih pamanmu sendiri, kakak ibumu ini. Apakah kamu tak ingat, ketika pamanmu itu datang kemari lalu disuguhi ayam panggang oleh ibumu? Kaupun ikut makan daging ayam itu. Ayam itu hidup kembali.”

Kinom: “Hamba tiada ingat lagi. Tapi apakah sebabnya ayam saya tak berbmtu?” Adipati Wilatikta: “Ya cucuku. Juga Si-Reges, ikan tak berdaging di kolam itu adalah kenang-kenangan kepada pamanmu itu.

Sedang mereka bercakap-cakap itu, datanglah Tumenggung Supadriya dari Majapahit. Dengan hormat ia dipersilahkan naik dan duduk. Setelah bertukar salam, empu Supadriya berkata:

“Adipati Wilatikta. Kedatangan hamba ini kecuali menengok adi sekeluarga ada juga tugas yang saya bawa. Seluruh empu dikerajaan Majapahit dititahkan berkumpul di Majapahit, oleh karena itu saya datang untuk menjemput menantu adi Ki Supa.”

Adipati Wilatikta: “Ah kakang Tumenggung. Putera kakang sedang pergi dengan gurunya mengedari dunia. Baru saja cucu kakang bertanyakan ayahnya, katanya hendak menyusul.”

Empu Supadriya turun dari tempat duduknya, dipeluknya Kinom dan dibawa duduk didekatnya. Kinom bertanya kepada sang adipati:
“Siapakah tamu ini nenek?”
Empu Supadriya menjawab: “Akupun nenekmu ngger. Aku ini ayah dari pada ayahmu.”

Alangkah suka Kinom mendengar jawaban itu. Dirasakan seperti ‘bertemu dengan ayahnya sendiri. Keesokan harinya, ketika Empu Supadriya hendak kembali, Kinom ingin ikut, tiada lagi dapat ditahan-tahan. Akhirnya diijinkanlah ia ikut ke Majapahit. Tiba di Majapahit, Empu Supadriya langsung menghadap Sri Baginda, katanya:

“Tuan ku. Ketika hamba datang di Tuban, pacal Tuanku Ki Supa tidak ada dirumah. lni hamba bawa anaknya yang bernama Kinom, dengan maksud agar supaya ayahnya lekas menyusul kemari.”
Baginda berkata: “Betul apa yang kau kerjakan itu. Sekarang ingin aku bercakap-cakap dengan cucumu itu.”
Kinom dianjurkan kemuka oleh neneknya. Baginda berkata:
”Wahai Supa-anom. Kamu anak seorang empu, cucu seorang empu. Dapatkah engkau berpande? Cobalah jawab: Dapatkah kau membuat keris dengan dapur nagasasra?”

Kinom menjawab: “Tuanku. Hamba pernah juga bermain-main pande keris. Besalen hamba dilautan Jawa. Tentang titah Tuanku membuat keris berdapur nagasasra itu, hamba tak berani menyanggupi hanya hamba akan mencobanya. Dengan doa restu Baginda semoga dapat melaksanakan titah Tuanku itu. Hanya hamba mohon, agar segala macam besi tua, besi bekas dan sebagainya dibawa ke pantai lautan Jawa, dekat Tuban tempat besalen hamba. ”

Baginda dan Empu Supadriya terheran-heran. Mereka tidak mengira, anak yang semuda itu dapat berkata seperti itu. Oleh karena itu timbul harapan Baginda, bahwa mungkin Kinom akan dapat membuat keris yang dikehendaki Baginda. Dengan tidak ayal lagi. Baginda memerintahkan untuk memenuhi permintaan Kinom, si pande keris yang berpande di lautan.

Tersebutlah pula Ki Supa yang sekarang bergelar Adipati Pangeran Sendang Sedayu. Ia ingat anak istrinya yang ditinggalkan di kota Tuban. Juga ia ingat akan Kyai Sengkelat yang disembunyikan di sungai. Tetapi berat pula ia meninggalkan istrinya yang benama Retna Sugiyah, karena isterinya sedang mengandung 7 bulan. Tetapi ingatan akan tugas membawa pulang Kyai Sengkelat dapat mengatasi perasaannya. Oleh karena itu pada suatu hari ia minta diri kepada isterinya untuk pulang ke Tuban. Pada waktu berpisah ia berpesan:

“Istriku. Bila anakmu lahir laki-laki, berilah ia nama Jaka Sura. Dan ini aku meninggalkan besi calon keris 12 buah. Simpanlah baik-baik.”

Pangeran Sendang Sedayu dengan cepat pergi, tidak menoleh-noleh lagi. Langsung ia menuju ke Belambangan dan dengan diam-diam dapat mengambil Kyai Sengkelat dari sungai. Dibungkusnya keris dalam upih, lalu disimpan di bawah pakaiannya. Dengan cepat ia kembali ke Tuban.

Sunan Kalijaga sedang ada di pertapaannya di pulau Upih. Ia mengetahui, bahwa kemenakannya sedang dalam kesukaran, karena telah terlanjur sanggup kepada Prabu Brawijaya untuk membuat keris dengan dapur nagasasra. Telah banyak sekali besi ditempanya, tetapi tak ada yang jadi. Sunan Kali amat kasihan. Timbul maksudnya untuk menolong. Sunan Kali menyentuh air terasa panas sekali. Kemudian ia berseru: “Kinom, keluarlah sebentar. Pak Tua hendak bertemu.” Dengan terkejut Kinom berhenti, keluar dari air menghadap Sunan Kali. Dalam sekali pandang ia dapat mengenal pamannya itu, lalu bersujud di kakinya. Sunan Kali berkata:

“Wahai Kinom, anakku. Mengapa engkau berpande di lautan?” Kinom menjawab: “Sebelum hamba mengatakan, Tuanku telah mengetahui!”

Sunan Kali berkata: “Sudahlah ngger. Memang aku dating hendak membantumu. Terimalah besi dari “kodrat” hanya sebesar biji asam, buatlah keris.”

Kinom menerima besi itu, lalu berkata: “Bagaimana mengerjakan Tuanku. Besi hanya sebesar biji asam. Padahal hamba telah menghabiskan besi sebesar gunung, itupun tak berhasil.”

Sunan Kali: “Besi itu sama dengan bukit.” Aneh sekali. Besi di tangan Kinom tumbuh menjadi sebesar bukit. Kinom terpaksa meletakannya di sampingnya. Sedang Kinom terheran-heran, datanglah orang ketiga di tempat itu. Orang itu ialah Ki Supa atau Pangeran Sendang. Ia mendengar berita, bahwa segala empu di kerajaan Majapahit dikerahkan untuk membuat keris dapur sewu di tepi pantai. Oleh karena itu ia berjalan sepanjanK pantai. Tiba-tiba dilihatnya Sunan Kali di tepi pantai dengan seorang anak.
Sunan Kali : “Selamat datang, Adi. Apakah perjalananmu berhasil?”
Ki Supa: “Dengan doa restu Tuanku hamba berhasil juga.” Ia mengeluarkan Kyai Sengkelat dan diserahkan kepada Sunan Kali.
Sunan Kali : “Adi, pemuda inilah Kinom, puteramu sendiri. Kinom, itulah ayahmu.” Ayah dan anak itu berpelukan karena rindu hatinya. Lama mereka melepaskan rindunya itu. Akhirnya Sunan Kali berkata:
“Hai, Kinom, jangan lupa membuat besi yang sebesar asam itu menjadi keris. Lihatlah Kyai Sengkelat ini. Buatlah sebagai contoh.”
Kinom segera mengambil besi yang telah menjadi sebesar biji asam, lalu masuk kembali ke dalam laut.
Sunan Kali: “Teruskanlah ceriteramu Adi.”
Ki Supa berceritera tentang segala pengalamannya, tidak ketinggalan tentang perkawinannya dengan puteri Belambangan dan pengangkatannya menjadi adipati di Sendang Sedayu. Di akhirinya ceriteranya dengan: “Pada waktu hamba tinggalkan, istri hamba sedang mengandung 7 bulan.”
Sunan Kali: “Itu namanya berhasil dan masih dapat keuntungan.”

Ki Supa: “Ya, karena berkat dan restu Tuanku”. Baru sampai sekian, Kinom telah ke luar dari laut membawa sebilah keris. Diserahkannya keris itu kepada Sunan Kali. Sunan Kali mengamatinya dan membandingkannya dengan Kyai Sengkelat. Besar kecilnya sama, bedanya hanya gambar naga pada keris Kinom. Sunan Kali mengangguk-angguk puas sambi! berkata:

“Kamu berhasil membuat keris dengan dapur seribu, tetapi naganya hanya seekor. Saya namakan keris ini Kyai Segarawedang, karena dibuat di laut yang airnya menjadi panas sekali. Terimalah ini dan berikan kepada Sri Baginda.”

Keris Kyai Sengkelat juga hendak diserahkan kern bali kepada Ki Supa, tetapi ia menolak, takut akan hilang lagi. Sunan Kali rninta diri dari kedua ernpu anak-beranak itu, lalu gaib. Kernudian Ki Supa membawa anaknya kepada para empu yang lain. Empu Supadriya sangat gembira bertemu dengan anaknya dan melihat cucunya telah berhasil dalam pekerjaannya. Dalam saat berikutnya para empu itu telah sibuk dengan persiapan kembali ke Majapahit.

Prabu Brawijaya sangat senang akan keris dapur nagasasra yang bemama Kyai Segarawedarig itu. Ki Supa dititahkan untuk menatahnya dengan ratna mutu manikam. Pada hari penghadapan itu Prabu Brawijaya bertitah: “Tumenggung Empu Lobang. Siarkan ketetapan saya:
1. Kinom kuangkat jadi adipati Tuban mengganti neneknya yang telah tua sekali.
2. Ki Supa tetap menjadi Pangeran Sendang, merdeka dari Belambangan.
3. Patih Wahan dari Daha kuangkat jadi patih Majapahit, karena Gajah Premada tak kunjung kembali. Mungkin dia sudah  mati.

Empu Lobang ke luar ke paseban untuk menyiarkan titah Sri Baginda. Semua rakyat/tentara menyetujuinya.
Kemudian kepada tumenggung Kinom, Sri Baginda bertitah:
“Kinom, kamu kuijinkan pulang ke Tuban dengan segera.” ***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI, Galuh Mataram, hlm. 124-129

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s