Kinom (Ki Supa-anom)


Di ujung timur pulau Jawa, ada sebuah kerajaan yang terkenal dengan nama Belambangan. Kerajaan itu tergolong daerah yang makmur, karena merupakan daerah pertanian yang baik. Lagi pula lautan didekatnya, walaupun kerapkali bergelombang besar, banyak mendatangkan rejeki kepada rakyat. Juga lautan yang keras itu telah mendidik rakyat Belambangan menjadi orang-orang yang berani. Keberanian mereka itu menjadi kunci perluasan wilayah pengaruh kerajaan Belambangan. Rajanya bernama Siung-lautan.

Pada hari penghadapan Senin, raja Siung-lautan bercakap-cakap dengan gurunya, seorang wali ahli nujum yang arief bijaksana, bernama pendeta Tingkir.

Baginda berkata: Menurut pemandangan bapa guru, apakah ada kemajuan di dalam usaha perluasan pengaruh kerajaan Belambangan” Pendeta Tingkir: “Sepanjang penilikan hamba, memanglah bintang kerajaan Belambangan, sedang naik. Mungkin ini berhubungan pula dengan menurunnya bintang kerajaan lain.”
Baginda: “Apa buktinya, bapa guru?”
Pendeta Tingkir: “Sekarang pengaruh kerajaan Belambangan telah meluas ke barat dan ke utara. Kadipaten-kadipaten di seluruh belah timur (bang-wetan) telah berjanji setia kepada Tuanku.
“Baginda: “Itu betul bapa guru. Sekarang bintang kerajaan manakah yang sedang menurun itu bapa guru?”
Pendeta Tingkir: “Kerajaan itu adalah kerajaan Majapahit, anak Prabu.”
Baginda terkejut: “Apakah itu benar bapa guru?”
Pendeta Tingkir: “Itu benar, anak Prabu. Apakah anak Prabu tidak mendengar kabar, bahwa keris pusaka kraton Majapahit yang bernama Kyai Condong-Campur telah musnah bercampur dengan teluh braja? Pada waktu hendak lenyap terdengar suara, bahwa itu merupakan pertanda akan kehancuran raja Brawijaya.”

Prabu Siung-lautan: “Bapa pendeta. Kalau Prabu Brawijaya turun takhta, sayapun ada hak untuk meneruskan riwayat Majapahit. Saya masih keturunan Majapahit, bapak pendeta.”

Pendeta Tingkir: “Hal itu bisa terjadi. Kehendak Tuanku hendak memperpanjang riwayat Majapahit dapat terlaksana, bila Tuanku dapat menguasai keris yang bernama Kyai Sengkelat. Sebabnya ialah sudah tersebut dalam nujum, bahwa raja yang mempunyai pusaka kyai Sengkelat itulah yang akan menguasai pulau Jawa.” Prabu Siung-lautan: “Di manakah keris Kyai Sengkelat itu, bapa guru?”

Pendeta Tingkir: “Keris itu kepunyaan seorang wali yang bernama Sunan Kalijaga dan kini tersimpan di kadipaten Tuban.”
Prabu Siung-lautan: “Itu berarti, bahwa saat ini pulung keraton (wahyu kerajaan) seakan-akan ada di tangan orang-orang Islam. Itu berarti, bahwa riwayat Majapahit betul-betul akan putus.”
Pendeta Tingkir: Rupa-rupanya memang begitulah anak Prabu. Kecuali bila Tuanku berhasil memiliki keris pusaka Kyai Sengkelat itu.”
Prabu Siung-lautan lama berpikir-pikir. Pendeta Tingkir berkata: “Kalau hamba boleh mengingatkan kepada Tuanku, Tuanku mempunyai seorang budak bernama Celuring.”

Muka Baginda makin terang dan berseri-seri. Segera dibubarkannya penghadapan dan menyuruh panggil Celuring, yaitu seorang pencuri, sakti bukan main. Setelah menghadap, Baginda memerintahkannya mencuri keris Kyai Sengkelat. Celuring bekerja dengan cepat dan cermat. Berkat kesaktiannya, dalam waktu sekejap ia telah sampai di Tuban, lalu mempergunakan aji “Panggendam”. Dengan aji itu ia dapat mengambil Kyai Sengkelat, yang keluar dari petinya dan datang kepadanya. Buruburu Celuring pulang ke negerinya, Belambangan. Alangkah senangnya Baginda, sehingga Celuring diangkatnya menjadi Patih.

Tersebutlah pula Sunan Kalijaga yang sedang berkelana. Ia telah tahu bahwa. keris Kyai Sengkelat telah hilang dicuri orang tanpa diketahui oleh adik iparnya: Oleh karena itu ia singgah di Tuban dan bertemu dengan-Ki Supa. Sunan Kali berkata: “Adi, aku ingin melihat Kyai Sengkelat, bagaimana keadaannya sekarang. Ki Supa: “Akan hamba ambil sebentar.” Ki Supa pergi ke kamar tempat menyimpan peti yang berisi keris pusaka. Tetapi betapapun dicarinya tidak ditemukannya.

Ditanyakannya kepada isterinya, tapi dewi Rasawulan pun tak mengetahuinya. Kemudian mereka berdua menghadap Sunan Kali. Dewi Rasawulan menyembah kakaknya.

Sunan Kali bertanya: “Di mana keris Kyai Sengkelat?” Ki Supa: “Hamba telah mencarinya, tetapi belum ketemu. Peti tak rusali kuncinya. Adinda Rasawulanpun tak memindahkannya.”
Sunan Kali berkata kepada dewi Rasawulan : “Adinda Rasawulan, masakkan aku nasi uduk. Aku ingin makan.”
Dewi Rasawulan mohon diri lalu mundur. Agak tergesa-gesa ia menangkap ayam anaknya, lalu menyembelihnya tanpa memberitahu anaknya lebih dahulu, karena anaknya sedang tidur Sunan Kali berbisik kepada Ki Supa: “Adi, kuberitahu, bahwa Kyai Sengkelat telah dicuri pencuri suruhan raja Belambangan, karena dia ingin menjadi raja yang menguasai pulau Jawa. Kalau mungkin, carilah ia ke sana dan bawalah pulang.”

Ki Supa menjawab: “Dengan segala senang hati, perintah tuanku akan hamba lakukan. Hamba mohon doa restu.” Sunan Kali: “Ya. Pergilah dengan restuku. Cepat-cepatlah kembali.”
Sementara itu Kinom, putera Ki Supa, bangun dari tidur, lalu pergi ke kolam hendak memberi makan ikannya. Ia tergelincir, jatuh ke dalam kolam dan mati, terapung-apung di air kolam.
Sunan Kali bertanya kepada Ki Supa: “Sudah lama aku disini tak melihat anakmu. Ke manakah dia? Panggillah kemari. Aku ingin tahu sudah seberapa besar dia sekarang?”
Ki Supa menjawab: “Sedang tidur Tuanku, belum bangun. Sunan Kali: “Panggillah sekarang, karena sudah siang.”

Ki Supa masuk ke dalam, hendak membangunkan anaknya, tetapi tak ada. Dicari dimana-mana, tidak ketemu juga. Akhirnya terdapat di kolam, sudah mati. Ki Supa ingat, bahwa Sunan Kali hendak makan, oleh karena itu tak mau memberi tahu dengan segera, karena takut akan mengejutkan jeng Sunan. Ditahannya tangisnya dalam hati, diangkatnya anaknya, lalu di tidutkannya di tempat semula dan diselimuti. Ia pergi ke dapur menyuruh istrinya untuk lebih cepat bekerja. Sesudah itu ia menghadap Sunan Kali lagi, tapi tak memberitahukan tentang Kinom, anaknya itu. Sebaliknya ia memindahkan percakapan dengan harapan melengah-lengah hati Sunan Kali. Kebetulan tak lama kemudian, istrinya datang dengan makanan, yaitu nasi uduk dengan ayam lembaran, dan ikan tambra utuh, hanya siripnya yang dibuang.

Sunan Kali mulai makan. Diambilnya nasi uduk, diambilnya brutu ayam. Tapi belum mulai makan, menanyakan lagi anaknya.
Ki Supa menjawab : ”Memang anak itu susah dibangunkan, kalau dibangunkan juga, biasanya lalu sakit.”
Sunan Kali berseru: “Hai Supa anom, anakku bangunlah ngger. Marilah makan dengan pak tua.”
Kinom, ialah singkatan dari Ki Supa anom, bangun lalu duduk disamping pak tuanya. Sunan Kali memeluknya sambil berkata: ”Marilah ngger makan.”
Kinom pun makan, seperti anakyang sudah besar. Ki Supa tak dapat lagi menahan air matanya, disapu-sapunya, tetapi tak kering-kering juga.
Kali bertanya : ”Mengapa kau menangis, Ada Apa yang kau susahkan?
Ki Supa menjawab: “0, Tuanku. Tadi anak hamba telah mati, tenggelam di kolam. Tetapi setelah Tuan panggil, ia hidup kembali. Hati hamba sangat terharu.”
Sunan Kali : “Ah, itu tidak mengapa. Hai, Kinom, telah kumakan ayammu, terimalah kembali!”

Ayam itu hidup kembali, terus dipegang oleh Kinom. Kinom lupalah dengan makanannya dan bermain-main saja dengan ayamnya. Sunan Kali meneruskan makan. Diangkatnya daging ikan tambra itu sehingga tinggal kepala, duri-durinya dan ekornya. Karena terasa enak sekali. Sunan Kali bertanya kepada Dewi Rasawulan: “Dimasak apakah ikan itu dinda, maka begitu nikmat rasanya?”
Dewi Rasawulan menjawab: “Ikan itu dimasak urip-urip.”
Sunan Kali menjawab: “Benar sekali, apa yang kau katakan itu. Hidup, semua hidup, Yang makan hidup, yang dimakan pun hidup.”
Tiba-tiba ikan tambra yang ada di piring itu menggelepar hidup kembali.
Sunan Kali berkata: “Kunamai kau Si Reges, karena dagingmu telah habis Kumakan.”
Ikan itu lalu ditaruh dalam kolam, tetapi tidak selalu kelihatan karena ikan itu dapat menghilang.
Akhirnya Sunan Kali minta diri, hendak melanjutkan perjalanan. Ki Supa mengantar sampai di luar kota. Pada waktu hendak berpisah, Sunan Kali berkata:
“Sudahlah Adi. Lebih baik kau berangkat sekarang juga. Kalau pulang dulu, akan menjadi repot lagi.”
Ki Supa menjawab : “Baiklah, Tuanku. Hamba berangkat sekarang juga. Mohon restu.”
Sunan Kali : “Selamat jalan, Adi.” ***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram, hlm. 113-117

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kinom (Ki Supa-anom)

  1. ardianto berkata:

    bisa jadi bahwa pemimpin nanti muncul dari timur, sebagai bukti bahwa pusaka kewahyun yaitu kyai nogo sosro sabuk inten ada di timur yaitu blambangan, mungkin Kinom bisa menelusuri kesana, agar pusaka itu tidak jatuh ke tangan orang yang salah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s