Kyai Pandanarang


Namanya dikenal setiap orang. Bukan karena ia adipati di daerah itu, di daerah Semarang. Bukan karena ia seorang yang paling berkuasa di seluruh kadipaten. Bukan. Melainkan karena harta kekayaannya. Karena cintanya kepada harta dunia. Rumahnya besar dan banyak. Ternak, kuda tidak terbilang. Isterinya delapan orang cantik-cantik, lagi keturunan bangsawan. Ya. karena ia sangat kaya-raya dan pandai mencari kekayaan itulah membuat ia menjadi rebutan orang-orang tua gadis yang telah kaya pula.

Kyai Pandanarang. Walaupun urusan pemerintahan banyak, masih sempat ia berdagang, masih sempat ia ke luar masuk pasar rrencari dan menjual dagangannya. Pandai ia mencari dagangan yang murah, pandai ia mencari ketika untuk melemparkannya ke pasar dengan harga yang jauh lebih tinggi. Laba mengalir terus bagaikan sungai lepas hujan lebat. Seperti halnya airbah membawa lumpur yang menyuburkan tanah, seperti itu pula perdagangan membawa harta dunia ke dalam khasanah Kyai Pandanarang.
Anaknya banyak. Cucunya banyak. Memang Kyai Pandanarang orang yang mukti.

Seh Malaya sedang berkelana dan takdir telah membawanya ke pinggir jalan yang biasa dilalui Kyai Pandanarang ke pasar. Takdir telah mempertemukan mereka, tanpa setahu Kyai Pandanarang Seh Malaya tahu, bahwa Kyai Pandanarang itu akan menjadi seorang mukmin besar. Ia tahu bahwa takdir telah mempertemukannya dengan adipati yang gila harta dunia itu, yang hati mukminnya masih dilumuri oleh lumpur dunia itu . Ia merasa Tuhan telah memilihnya untuk membuka tabir hati adipati yang mukti itu. Bukan tugas yang mudah, tapi hatinya yang mukmin yakin, kalau Tuhan telah menunjuknya, tentu telah  siap pula menunjukinya.

Keesokan harinya di sudut pasar ada seorang laki-laki bertopi lebar menjual alang-alang. Hanya sepikul, dua ikat yang besar-besar. Di dalamnya ditaruhnya uang 25 keteng. Orang lakilaki bertopi lebar tidak berbaju itu Seh Malaya yang melaksanakan siasatnya. Pagi itu Kyai Pandanarang juga pergi ke pasar. Dijelajahinya seluruh pasar, tetapi tak ada satupun barang yang menarik perhatian. Dengan lesu ia berjalan tak tentu tujuan. Sekali lagi takdir bermain. Kyai Pandanarang sampai di tempat penjual alang-alang dan terlintas di dalam benaknya, bahwa atap kandang kudanya perlu mendapat perbaikan.
Kyai Pandanarang: ”Paman, berapakah harga alang-alang sepikul ini?”
Penjual: “Dua puluh lima keteng Kyai.”
Aneh. Kyai Pandanarang menerimanya tanpa be rusaha untuk menawannya, katanya: ” Baiklah, antarkan ke rumah.”

Beriring-iring mereka pergi, ke luar pasar ke kadipaten. Sampai di situ harga dibayar dan Kyai Pandanarang memesan alang-alang sepikul lagi. Penjual alang-alang telah lama pergi. Kyai Pandanarang menyuruh pelayannya untuk membuka ikatan alang-alang itu untuk dijemur dan dibuat atap. Pada waktu perintah itu dikerjakan, terdapatlah bungkusan di dalam alangalang itu yang sudah barang tentu langsung diserahkan kepada Kyai Pandanarang. Ketika bungkusan itu dibuka. Kyai Pandanarang sangat heran. Bungkusan itu berisi uang 25 keteng, harga alang-alang itu. Mata yang berselubung emas itu heran seketika. Pada ketika yang lain, melonjak gembira, katanya: “Untungku, membeli tidak perlu membayar.”

Keesokan harinya Kyai Pandanarang habis makan pagi, duduk di pendapa. Dari jauh terlihat si penjual alang-alang datang. Ringkasnya, alang-alang diterima dan sebelum membayar harganya Kyai Pandanarang berkata:
“Duduklah di serambi dulu, paman. Saya ingin berbicara dengan kamu. Di mana rumahmu, maka sepagi ini kamu telah datang di sini?”
Penjual alang-alang: “Rumah kami di gunung Jabalkat, Kyai.” Kyai Pandanarang: “Jauh, sekali, apakah kamu mondok di kota ini?”
Penjual alang-alang: “Tidak Kyai. Pagi-pagi berangkat dan  sore pulang.”

Kyai Pandanarang sangat heran. Orang itu datang dari gunung Jabalkat ke Semarang dan kembali lagi pada sore harinya hanya untuk 25 keteng. Dan kemarin ia tak membawa hasil sama sekali. Tapi sekali lagi hatinya yang masih dilekati ra1na mutu manikam itu tinggal heran, tidak tergerak sedikitpun. Kyai Pandanarang mengambil 25 keteng dan di berikan kepada penjual alangalang itu. Setelah menerima uangnya, penjual alang-alang itu berkata:

“Terima kasih Kyai. Tapi bila Kyai tidak berkeberatan hamba mohon sedekah, Kyai. Sedekah karena Allah swt.”
Kyai Pandanarang tidak menjawab. Hanya tangannya melemparkan uang seketeng ke arah penjual alang-alang itu. Uang jatuh di batu dan berdencing keras.
Penjual alang-alang itu berkata dengan tenang:
“Hamba tidak minta uang, Kyai. Hamba tak suka harta dunia. Hamba minta bedug berbunyi di Semarang.”

Kyai Pandanarang: “Alangkah pongahmu, paman. Tidak kah kau ketahui bahwa keteng itu bagian dari pada real, dan reyal bagian dari pada dirham? Kau minta bedug berbunyi di Semarang Apakah itu akan mendatangkan keteng?”

Penjual alang-alang: “Janganbegitu Kyai. Jangan mendewa-dewakan harta dunia. Harta itu hanya halangan untuk mencapai sorga. Kalau Tuan terselubung harta dunia, Tuan tak akan melihat sorga. Ingatlah Kyai. Orang tak hidup kekal di dunia. Akhimya ia akan mati dan kembali ke alam baka. Hamba tidak suka kepada harta dunia seperti Kyai. Karena harta itu tidak kekal, kalau kita mati tak dapat kita bawa, tetapi kalau kita masuk sorga, . kekal itu tiada batas. Dan orang di surga itu amat kaya dan mulia hidupnya, apa yang dikehendaki jadi. Tak perlu rnenyimpan harta. Cobalah pikir Kyai, orang bekerja di dunia 7 tahun dan berhasil, masih dapat hartanya dihitung. Tetapi di surga, sekali Tuan mencangkul, harta yang didapatkan tak terhitung.”

Kyai Pandanarang tersenyum : “Hai paman, seperti sudah pernah melihat sorga saja. Itu hanya kata-kata hampa. Coba kalau paman tahu betul sorga itu, tentu paman takkan menjual alang-alang tak minta-minta bedug itu berbunyi. Tentu paman betah tinggal di sana.”

Penjual alang-alang: “Kalau hamba senang akan harta dunia hamba tak susah-susah mencari, sekali mencangkul seperti hamba katakan tadi, hamba sudah dapat mas yang banyak. Apakah Tuan ingin membuktikan?”
Kyai Pandanarang: “Inilah pacul. Kalau benar apa katamu, saya akan berguru kepadamu.”

Penjual alang-alang itu mengayun cangkul yang menghujam dalam di tanah, setelah diangkat, tanah itu berubah menjadi emas, ratna mutu manikam. Kyai Pandanarang tak dapat berkata-kata, mulutnya ternganga. Hatinya amat hebat, sehingga selubung emas dan permata rontok berserakan. Ia memegangi tangan penjual alang-alang itu dan dibimbingnya masuk ke pendapa.

Setelah duduk dengan semestinya Kyai Pandanarang. “Ampunilah hamba Tuanku, karena terlalu memandang rendah terhadap sesama. Sekarang hamba mohon berguru kepada Tuanku. Apapun Tuanku katakan, hamba turut.”

Sunan Kali: “Aku akan. minta bukti kesanggupan itu sebelum kuijinkan kamu menjadi muridku. Pertama-tama: jalankan ibadah selama hidupmu, dirikanlah jema’ah Islam di Semarang, dirikanlah mesjid. Kedua, serahkanlah hartamu itu, karena harta hanya akan menjadi penghalang saja. Yang ketiga, orang yang berguru itu tentu pergi dari rumah. Susullah aku ke gunung Jabalkat.

“Kyai Pandanarang: “Di manakah gunung Jabalkat itu dan siapakah Tuan sebenarnya?”
Sunan Kali: “Gunung Jabalkat itu ada di daerah Tembayat. Namaku Seh Malaya.”

Sunan Kali berdiri, minta diri dan lenyap dari pemandangan. Sejak saat itu, Kyai Pandanarang berubah sama sekali. Tidak lagi mengejar harta, tetapi berusaha memenuhi apa yang disyaratkan Seh Malaya itu. Lama-lama datanglah waktunya ia ingin menyusul Seh Malaya ke gunung Jabalkat. Di antara ke 8 isterinya, hanya isterinya yang pertama yang memaksa hendak ikut.

Kyai Pandanarang: “Baiklah Nyai. Kau boleh ikut. Tapi janganlah membawa harta. Itu larangan guruku, sebab harta hanya akan menjadi penghalang saja. Dan gantilah pakaian yang berwama putih.”

Kyai dan Nyai Pandanarang berpakaian putih. Kyai berjalan di muka, bertongkatkan cis. Nyai selalu berjalan di belakang, membawa tongkat bambu-gading. Sebenarnya bambu itu diisi dengan mas ratna mutu manikam, karena pikirnya, harta itu akan berguna kelak. Kyai Pandanarang telah tahu perbuatan Nyai itu, tetapi tidak dikatakannya. Mereka berjalan dan berjalan. Kyai di muka dan Nyai jauh di belakang.

Tiba-tiba Kyai Pandanarang dicegat oleh tiga orang penyamun. Kyai berkata-kata dengan tenang: “Saya tak membawa apa-apa, Kalau kamu ingin harta, lihatlah orang perempuan di belakang itu. Ia isteri saya. Rebutlah tongkatnya, tetapi jangan mengganggunya.”

Ketiga penyamun itu menurut. Ketika Nyai sampai di tempat itu, tongkatnya di rebut, Nyai sangat terkejut dan lari sambil berteriak-teriak: “Kyai ada tiga orang berhati salah, tolonglah Kyai.” Desa tempat Nyai dirampok itu kemudian dinamakan Salatiga.

Syahdan ada seorang perampok lain belum mendapat korban. Namanya Sambangdalan. Ketiga temannya memberi tahu kepadanya.
“Kami hanya merampok isterinya. Suaminya tak sempat kami makan karena lari lebih dahulu.”
Ki Sambangdalan tidak mendengarkan lebih jauh. Ia berlari mengejar Kyai Pandanarang.

Nyai Pandanarang pun lari menyusul suaminya. Tetapi lama tidak tersusul. Sepanjang jalan Nyai berseru-seru. Sampai di suatu desa, Nyai berkata dalam hati:
“Apakah Kyai lupa beristerikan aku?” Desa tempat Nyai berfikir seperti itu kemudian dinamakan Bayalali.
Kyai Pandanarang akhimya tersusul juga. Nyai sangat menyesalinya, tetapi Kyai berkata dengan tenang:

“Sudahlah Nyai. Janganlah dipikirkan lagi. Bukankah sudah kukatakan, bahwa harta itu hanya menjadi penghalang saja? Sekarang kita tak membawa harta lagi, semoga tak ada halangan lagi. Sekarang Nyai berjalanlah di muka. Barangkali ada orang yang menyusul.”

Nyai sekarang berjalan di muka. Kyai jauh di belakang. Ki Sambangdalan akhimya dapat menyusul : Kyai Pandanarang. Ia menghadang di muka Kyai, lalu berkata:
“Paman, saya minta harta yang kau bawa.”
Kyai Pandanarang: “Saya tak membawa harta.”
Ki Sambangdalan merebut tongkatnya, tetapi tongkat itu terbuat dari kayu tak berlubang dan sudah barang tentu tak berisi barang sesuatu. Perampok itu menjadi marah, katanya:
“Ayo lekas serahkan segala hartamu, bila tidak, kamu saya pukuli.”
Kyai Pandanarang: “Kamu itu bukan manusia, keras kepala seperti kambing.”

Kyai Pandanarang berjalan terus dan sampai di sebuah sungai kecil. Ki Sambangdalan terus mengikuti sambil menakut-nakuti sampai ia datang di sungai kecil itu. Ia merasa takut masuk ke dalam air dan dilihatnya di dalam air itu bayangan seekor domba. Ia berhenti memeriksa dirinya. Benarlah ia berubah menjadi seekor domba, karena kata-kata Kyai Pandanarang? Timbul takutnya dan ia mengikuti Kyai Pandanarang sambil berkata: “Taubat dan mohon ampun.”

Akhimya Kyai Pandanarang dan isterinya dan Ki Sambangdalan sampai di Tembayat. Ia naik ke atas gunung Jabalkat dan mendapatkan sebuah mesjid kecil dan sebuah Jun, dengan mulut di bawah seperti yang didapat di langgar-langgar, tetapi sangat besar. Kyai Pandanarang berkata kepada Ki Sambangdalan:

“Isilah jun ini sampai penuh, tetapi tak boleh kau sumbat mulutnya. Bila jun ini dapat penuh, dosamu terampuni dan kamu kembali menjadi manusia.”

Karena di bukit Jabalkat itu tak ada air, Sambangdalan harus mengambil air dari lembah, sehingga bila ia sampai di atas, air yang di dalam jun telah habis mancur ke luar. Siang-malam Sambangdalan bekerja, tak berhenti, tak mengeluh, karena ingin menebus dosanya. Setelah tigapuluh lima hari, Sunan Kali Gatang, disambut oleh ketiga orang itu. Sambangdalan dikembalikan kepada ujud manusia. Jun penuh sendiri. Sunan Kali membuat mata air di bukit itu. Kyai Pandanarang diwejang tentang asal-usul dan tujuan segala makhluk, dan dipesan mengajari Sambangdalan yang telah diberi anugerah nama Seh Domba.

Lama-kelamaan jema’ah Tembayat menjadi makin besar dan maju. Kyai Pandanarang yang terkenal dengan nama Sunan Tembayat memperluas pengaruhnya ke desa-desa sekitarnya.

Pada suatu ketika Sunan Tembayat menyamar, pergi ke desa Wedi, lalu menjadi pelayan Ki Tasik dan Nyi Tasik. Nyi Tasik itu berjualan srabi ke pasar Wedi. Dan selalu jeng Sunan yang mengantarkannya, memikul segala sesuatu yang diperlukan. Pada .suatu hari pasaran, pasar. Wedi sangat ramainya, Nyi Tasik juga membuka dasar di situ. Tapi karena tergesa-gesa, pelayannya itu tak cukup membawa kayu, sehingga pada suatu ketika kayu habis, orang yang menunggu masih banyak. Nyi Tasik marah sekali, lalu berkata:  “Sekarang bagamanakah akalmu. Kayu tak dibawa. Dengan apa api dibuat, dengan tanganmukah?”

Pelayan terkejut, lalu memasukkan tangannya ke dalam tungku. Tangan itu mengeluarkan api, sehingga Nyai Tasik dapat melayani pembeli-pembelinya dengan cepat. Keajaiban itu cepat tersiar ke seluruh pasar, dan setiap orang ingin melihat tangan yang dapat mengeluarkan api itu. Akhimya habis juga dagangan Nyai Tasik, lalu pulang. Sampai di rumah Nyai Tasik berceritera tentang pelayannya kepada Ki Tasik. Insaflah Ki Tasik, bahwa pelayannya itu sebenarnya adalah seorang wali. Oleh karena itu mereka berdua mohon maaf kepada Sunan Tembayat. Mereka masuk Islam bersama seluruh keluarganya. Makin lama agama Islam makin berkembang di daerah itu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram, hlm. 131-138

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s