Sunan Geseng


Di pertapaan pulau Upih . Sunan . Kali sedang menemui tamunya, ialah Adipati Natapraja dengan ketiga pengiringnya yang sedang berkelana mengumpulkan b8.fltuan para mukmin. Sunan Kali:
“Apakah maksudmu datang kemari anakku?”
Adipati Natapraja: “Sebelum hamba mengatakannya, Tuanku tentu telah maklum.” .

Sunan Kali: “Benar anakku. Kamu ingin minta hak warisanmu. Tetapi sebenarnya masih belum waktunya. Lailatulqadar telah pindah dari Majapahit, tetapi belumlah jatuh ke padamu. Aku mempunyai keris pusaka kerajaan bemama Kyai S.engkelat. Kalau Sengkelat betah tinggal padamu selama satu tahun, itu tandanya kaulah yang akan menguasai pulau Jawa. Terimalah.” Sunan Kali menyerahkan Kyai Sengkelat kepada Adipati Natapraja yang menerimanya dengan hati yang gembira, katanya:
“Terima kasih Tuanku”
Sunan Kali: “Teruskartlah perjalananmu ke Palembang. Kunjungilah ibumu dan ayahmu, mintalah senjata. Juga mampirlah ke Cirebon, mintalah syarat-syarat kepada Pangeran Modang sebab dia banyak akalnya.”,

Adipati Bintara menyanggupi, mohon diri, .terus berangkat, Sunan Kali juga tidak tinggal diam. Ia ingat akan muridnya yang sedang disuruhnya bertapa setahun yang lalu. Dibawanya serta beberapa orang sahabat ke tempat itu, ke tanah Bagelen.

Ki Cakrajaya hidup dengan tenteramnya di situ, sebelum ia bertemu dengan Sunan Kali. Pekerjaannya hanyalah menyadap kelapa tapi ia hanya mengerjakan sebatang pohon saja. Hasilnya dimakannya bersama dengan isterinya yang bemama Rubiyah, dan anaknya yang bemama Jaka Bedug. Tak ada yang dimakannya kecuali itu. Sehabis bekerja ia hanya tidur-tiduran saja, sambil menyanyi-nyanyi. Hatinya penuh dengan”panarima”. Walaupun hanya sedikit sekali yang dimakannya, tubuhnya tidak pernah sakit dan tidak kurus. Pada suatu hari, sedang bernyanyi–nyanyi, Sunan Kali datang berkunjung dan mengajarinya bernyanyi yang berisikan dikkir. Pekerjaannya sekarang, di luar menyadap hanyalah berdikir. Dan tiba-tiba terjadilah keajaiban, ketika ia membuat gula dari nira yangdibuatnya, gula berubah menjadi emas. Tetapi kekayaan yang di dapatnya itu tidaklah membuat hatinya tentram bahkan terbangun untuk berguru kepada Sunan Kali. Untuk mencoba kesetiaannya. Sunan Kali menyuruhnya bersujud selama setahun. Cakrajaya itulah yang sekarang sedang dicari oleh Sunan Kali.

Sunan Kali tahu benar,  bahwa ia telah sampai di tempat Cakrajaya bersujud, tetapi sekarang telah ber1Jbah menjadi hutan alang-alang dan gelagah. Disuruhnya murid-murid dan sahabatsahabatnya memo tong segala gelagah dan alang-alang itu. Tetapi Cakrajaya tak ketemu. Kemudian Sunan Kali menyuruh bakar alang-alang dan gelagah itu. Dalam waktu yang singkat hutan itu telah menjadi abu dan di tengah-tengah segala yang hitam itu. Sunan Kali mendapatkan muridnya, masih bersujud, tetapi pakaiannya telah habis menjadi abu. Sunan Kali berkata:
“Cakrajaya bangunlah.”

Ki Cakrajaya bangun dan menyembah kepada Sunan Kali. Sunan Kali sangat kasih akan muridnya yang setia itu. Oleh karena itu ia berkata: “Mulai hari ini narnarnu adalah Sunan Geseng, karena tubuhmu telah hangus di dalam api alang-alang dan gelagah. Pergilah ke Lowanu dan dirikanlah jema’ah di sana. Tiap-tiap hari jum ‘at bersembahyanglah ke mesjid Demak, karena kalau kau pergi ke Demak” seakan-akan sarna saja dengan pergi haji ke Mekah. Jaka .. Bedug hendaklah menggantimu di sini, bernama Cakrajaya. Sekarang pergilah.”

Cakrajaya menyembah lalu pergi. Pulang ke anak-isterinya yang ditingg~kan setahun yang lalu. Sarnpai di rumah, diceriterakannya segala pengalarnan dalarn berguru kepada Sunan Kali itu. Akhirnya ia berkata: “Jaka Bedug, tinggallah di sini dan pakailah namaku. Cakrajaya. Isteriku, bertanaklah nasi, sekarang aku merasa lapar, aku akan pergi menangkap ikan ke kali.” Pergilah Cakrajaya ke kali untuk memancing. Jaka Bedug diam-diam mengikuti ayahnya dan diintipnya segala kelakuan ayahnya dati celah-celah daun-daunan sebuah pohon. Ayahnya terkejut, lalu berkata: “Karnu itu seperti kera saja, mengintip ayahnya saja naik pohon.” Karena kata-kata ayahnya itu. Jaka Bedug berubah menjadi kera, lalu diberi nama Bedes Nilasraba. Ia disuruh bertapa di tempat itu, agar lekas mendapat ampun dari Allah swt. Pangeran Geseng berangkat ke Lowanu dengan isterinya. Setelah be berapa lama di situ, perkampungannya dan jema’ah nya menjadi makin besar. Akhimya menjadi kota. ***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram, hlm. 129-131

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sunan Geseng

  1. Ping balik: Selendang Batik Keris - Fashion dan Belanja Jadi Satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s