Candi Minak jingga


Diatas tadi telah kami uraikan bebarapa pening­galan yang bersifat Islam sekaligus walaupun letak­nya saling beijauhan. Hal ini hanya untuk memudah­kan kaitan pembicaraan saja. Sekarang kita kembali pada peninggalan Hindu yang letaknya ± 300 meter, di sebelah timur Kolam Segaran. Untuk sampai ke tempat itu sebaiknya mengikuti jalan di sebelah utara Kolam Segaran menuju ke timur kemudian

ada pertigaan lalu belok ke kanan dan beberapa puluh meter lagi sampailah ke tempat yang dituju. Letaknya di sebelah kiri jalan. Apa yang nampak sekarang hanyalah gundukan sebidang tanah yang diberi pagar kawat berduri. Di atas permukaan tanah kita dapati sekelompok batu-batu andesit dengan beberapa pahatan yang menunjukkan bekas bagian bangunan candi.

Peninggalan ini disebut candi Minakjingga atau Sanggar Pemelengan. Dinamakan candi Minakjingga kerena di tempat ini dahulu didapati sebuah patung (arca) besar ber­wajah raksasa tingginya 1,48 meter yang oleh pendu­duk dianggap sebagai patungnya Minakjingga. Patung tersebut kelihatannya seperti raksasa bersayap, wa­jahnya sepenuhnya raksana, matanya melotot, ram­butnya mengombak ke belakang.

Pakaian dan perhi­asan yang dipakai merupakan perhiasan kebesaran, memakai naga upawita dan tangan kanannya meme­gang golok sedang tangan kiri memegang uncal. Di samping itu juga ada patung perempuan berbadan seekor burung Kenari, tingginya 1,01 meter. Kedua- patung ini sekarang disimpan di Museum Purbakala Mojokerto. Demikian juga beberapa relief yang ber­asal dari candi Minakjingga sekarang dapat dilihat di Museum Mojokerto. Di situsnya sendiri, sebagai te­lah disebutkan di atas, sekarang yang terlihat hanya­lah gundukan tanah saja.

Pada waktu diadakan peng­galian purbakala pada tahun 1976, di dalam gunduk­an tanah itu ditemukan pondasi bangunan dan sisa- sisa bata. Melihat kenyataan dengan banyaknya ba­tu-batu bagian candi dari batu andesit di situs ter­sebut, maka kemungkinan besar candi Minakjingga bagian dalamnya dibuat dari batu bata, kemudian bagian luar ditutup dengan batu andesit. Memperhatikan keadaan susunan tanah dan denah­nya kemungkinan candi Minakjingga dulunya di ke­lilingi parit seperti candi Jawi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tjokro Soedjono, Trowulan Bekas Ibukota Majapahit [Booklet]. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987/1988

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Beranda dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s