Gendam Smaradhana


Pada waktu itu Kerajaan Medangkamulan sudah berusia 120 tahun, kemudian dipindah, Prabu Mundingwangi yang bertahta di Prambanan dengan gelar Prabu Prawatasari.
Dengan demikian kerajaan besar lalu berpindah ke Prambanan, sedangkan di Mamenang hanya dipimpin seorang adipati (bupati) yang berada di wilayah Panjer.

Tersebutlan seorang pemuda yang sangat tampan, yang membuat semua wanita di Panjer yang melihat pasti akan tertarik dan tergila-gila padanya, hal tersebut juga terjadi pada istri Bupati Panjer, Nyai Adipati juga tertawan hatinya pada saat melihatnya di arena persabungan ayam di Pendapa Kadipaten, sehingga Adipati Panjer sangatlah cemburu pada Gendam Smaradana, hingga ingin sekali beliau segera membunuh sang pemuda itu. Pada suatu kesempatan di arena sabung ayam Adipati Panjer sudah bulat tekadnya ingin segera menghabisi nyawa sang pemuda Gendam Smaradana.

Namun rencana tersebut telah diketahui oleh Nyai Adipati, sewaktu Adipati Panjer menghunus keris tepat dibelakang Gendam Smaradhana, bertiriaklah Nyai Adipati demi mengingatkan sang pemuda, sehingga selamatlah si Gendam Smaradana, malahan beliau yang tewas. Adipati Panjer meninggal di tangan Gendam Smaradana.

Dengan tewasnya Adipati Panjer menjadikan marahnya sehingga warga Panjer, mereka beramai-ramai mengejar ingin membunuh Gendam Smaradana. Demi untuk menyelamatkan diri dari kejaran penduduk Panjer, maka Gendam Smaradana lalu melarikan diri kearah timur, pada kawasan hutan kecil Gendam Smaradana tercebur di sebuah sendang (Sendang Kalasan), dan menghilang disana.

Untuk mengingat peristiwa itu, Gendam Smaradana lalu diabadikan dalam bentuk arca, yang diberi nama arca Semaradana. Sampai sekarang keberadaan arca tersebut masih ada dan konon masih berada di desa Panjer.

Dan Semenjak itulah bila ada masalah yang berhubungan dengan masalah asmara, banyak sebutan yang terkait dengan nama Smara Dhana seperti halnya aji-aji (pusaka) yang disebut aji gendam smaradana untuk menarik wanita, guna-guna smaradhana sebutan untuk guna-guna yang digunakan sebagai pengikat wanita, tambang yang mendayu disebut tembang Asmaradana dan masih banyak lagi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Suyami, Tinjauan Historis dalam Babad Kadhiri. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jakarta, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999. hlm. 137-138.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri, Legenda, Sejarah, Th. 1999 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s