Pertempuran Mas TRIP di Ngadirejo 1


KISAH PERTEMPURAN SEHARI DI NGADIREJO

Pertempuran seru jarak de­kat antara Pasukan TRIP dan Pasukan Patroli tentara Belanda, Prinses Ireene Bri­gade dipimpin oleh Kapitein Besouw yang dihadang di sepanjang jalan di desa Ngadirejo, dengan memba­wa korban dari kedua belah fihak.

KITA SEMUA dapat memahami, bahwa pada kurun waktu Perang Kemerdekaan mulai berkecamuk, hampir dimana-mana tempat, khususnya di Jawa terjadi pertempuran antara Pasukan Tentara kita dengan Pasukan Tentara Belan­da dipinggiran kota dimana Tentara Belanda bermarkas, dan pertempuran antara Pasukan Gerilya yang timbul secara spontanitas dikalangan rakyat maupun masyarakat pemuda pelajar, yang tidak mau ketinggalan dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengusir Belanda dari bumi Indonesia ini.

Demikian halnya, kisah pertempuran melawan Pasukan Tentara di desa Ngadirejo, yaitu satu desa yang letaknya sekitar 5 km sebelah utara kota Blitar, adalah bersifat pertempuran penghadangan yang dilakukan oleh Pasukan Pemuda Pelajar tergabung dalam TRIP, dengan maksud me­ngadakan penyerangan terhadap Pasukan Patroli Tentara Belanda yang biasa menggunakan route jalan aspal antara kota Blitar dengan Penataran, kecamatan Nglegok dalam rangka operasi pembersihan atau yang pada waktu itu lebih dikenal dengan istilah “penggerosokan”, di dukuh atau di desa-desa yang dianggap oleh Belanda sebagai Pos-Pos Geril­ya.

Kisah pertempuran ini memang hanya satu hari, tetapi berdasarkan pengalaman maka kita bisa memahami, bahwa apa yang terjadi ini bukanlah secara kebetulan, atau tidak juga kejadian satu hari yang berdiri sendiri, tapi rupanya dari kedua belah sudah cukup alasan uptuk mengambil mo­men yang tepat bahwa bagaimanapun pertempuran harus terjadi.

Bagi Pasukan Tentara Belanda yang sering mondar-mandir dengan jalur Blitar — Penataran tentu semakin me­ngenal situasi di perdesaan yang dilalui dengan seringnya mendengar atau mengalami bunyi tembakan dari Pasukan TRIP yang pada waktu itu memang mendapat tugas per­tahanan di sektor pertempuran Blitar utara yang meliputi kawasan desa Bangsri, Dayu, Ngoran, Salam dan sekitarnya.

Sebaliknya dari fihak Pasukan TRIP, dengan mempela­jari situasi dan ulah Pasukan Tentara Belanda pada setiap kali mengadakan patroli, selalu menakut-nakuti penduduk desa yang tinggal dikanan kiri jalan besar dengan membuang tembakan sekedar ingin menunjukkan keberaniannya dan kelengkapan senjatanya, sebagai taktik untuk memenang­kan strateginya.

Disamping belajar dari hasil pengamatan, maka oleh sementara penduduk kota Blitar sering kali datang ke desa-desa tempat Pos Pertahanan Pasukan TRIP itu, untuk menyampaikan informasi tentang keadaan di kota dan rencana tentara Belanda yang perlu diketahui oleh Pasukan TRIP demi keamanan dan keuntungan taktiknya.

Dengan demikian, maka setiap langkah dan tindakan dapat diperhitungkan setepat mungkin dan seefisien mung­kin. Baik itu berupa tembakan pengacauan, apakah berupa pemindahan sementara Pos Pertahanan atau serangan peng­hadangan terhadap Pasukan yang berpatroli.

Dari daerah Sektor Pertempuran Blitar Utara, Pos yang terdekat dengan kota Blitar adalah dukuh Dayu yang jarak jauhnya tidak lebih dari 10 km sedangkan Bangsri dan Ngadirejo merupakan Pos sementara untuk melakukan serangan penghadangan Pasukan Patroli Belanda.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan, bahwa Pos Dayu merupakan Pos Pertahanan terdepan atau Lini Per­tama, dimana Kompi I dengan Pasukannya diserahi tang­gung jawab keamanan didukuh Dayu dan sekitarnya.

Sebagai Pasukan yang berada di Pos Lini Pertama, melengkapkan diri dengan persenjataan senapan semi oto­matis Juki, tekidanto yaitu sejenis mortir kecil dan oleh anggota pasukan lainnya masing-masing memegang jenis-jenis senapan karabijn, lee enfield, pistol mitralieur (sten) dan beberapa pistol FN dan buldog yang sangat terbatas pelurunya.

Kenyataan tersebut menuntut para anggota Pasukan, khususnya dari Kompi I agar pandai-pandai menggunakan kesempatan yang tepat menguntungkan, dengan kata lain harus dapat mengusahakan kesempatan menembak jarak dekat, membidik dengan tepat sehingga penggunaan peluru lebih efektif dan mengena pada sasarannya. Kalau tidak demikian, dikhawatirkan akan salah kesempatan dan bisa-bisa kehabisan peluru pada saat-saat momen serangan balas diperlukan.

Memang kedengarannya aneh tapi demikianlah nasib senjata yang diperoleh dari rampasan dari tangan Jepang maupun serdadu Belanda oleh sementara teman-teman TRIP yang berhasil mengalami pertempuran Di Surabaya pada Class I.

bersambung………………………………….Saat-saat meninggalkan Pos Dukuh Dayu.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Blitar, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pertempuran Mas TRIP di Ngadirejo 1

  1. Nanang M. Edi berkata:

    Pada waktu Belanda menguasai Blitar, Asisten Wedana Ponggok Mas Soedjak Adisoedjoko menyatakan Ponggok adalah daerah Republik dan menjadi sarang gerilya. Salah satunya pasukannya Pak Soetadi( yg kemudian menjadi Kadapol Jakarta Raya tahun 1975, Mayor Jendral Polisi) dan juga putra Asisten Wedana Ponggok adalah Gatot Noersalim juga merupakan Mas Trip juga( kemudian jadi Major Infantri di Rindam Brawijaya tahun 1966)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s