Pertempuran Mas TRIP di Ngadirejo 3


Tugas penghadangan di desa Ngadirejo

Menurut Hartawan, Nono Sunyoto menugaskan klompok pasukannya supaya bertahan di Bangsri, sedangkan Regu-Regu lainnya, termasuk Regu Soebandi dan Regu Moesanto yang dilengkapi dengan senapan Juki dan Tekidanto, supaya mengadakan stelling di Ngadipejo bersama Pasukan dari Regu yang lain, yang bersenjatakan karabijn, lee enfield dan sten atau pistol mitralieur.

Sebelum mengadakan stelling di Ngadirejo, Pasukan memasuki desa Jatimalang terlebih dahulu untuk mem­peroleh informasi dari penduduk setempat yang tentu mengetahui keadaan iring-iringan Patroli Pasukan Tentara Belanda yang menuju kearah Penataran itu.

Ternyata memang benar, oleh sementara penduduk Jatimalang dikatakan, bahwa Patroli Pasukan Tentara Be­landa kali ini lebih banyak dari pada sebelumnya. Dari iring-iringan Patroli terhitung ada 11 truck dan 2 brencarier, dimana para pasukannya berjalan diantara truck-truck dan brencarier itu.

Setelah mendapat informasi secukupnya, maka, Pasu­kan Soebandi dan kelompok lainnya segera mengatur stel­ling di Ngadirejo dengan memanfaatkan kedudukan sungai kecil yang membujur arah utara-selatan yang merupakan batas pinggir sebelah timur desa Ngadirejo dan Jatimalang.

Sedangkan jalan yang menghubungkan kota Blitar dan Penataran jatuh disebelah timur sungai yang bertebing tinggi itu, sehingga sangat menguntungkan untuk pertahanan Pasukan TRIP yang dengan jelas dapat melihat kearah jalan besar, sebaliknya dari jalan besar agak menemui kesulitan pandang karena keadaan tebing itu sangat tinggi.

Tepat pukul 12.00, Pasukan TRIP dengan kelompok Juki dan kelompok Tekidanto telah siap dengan stellingnya sebagaimana tempat dan posisi yang ditentukan. Masing-masing menempati posisi yang pegas pandang kearah jalan besar. Keadaan memaksa untuk dimulai pertempuran.

Tidak antara lama, setelah stelling siap diatur, tanpa diketahui datangnya iring-iringan Patroli Pasukan tentara Belanda, ternyata posisi kelompok Juki tepat berhadapan dengan sebuah brencarier yang kebetulan berhenti dipinggir jalan persimpangan pada jalan yang arah ke Blitar.

Adapun Pasukan tentara Belanda tampak menebar di sepanjang jalan utara selatan yang membujur disepanjang tebing sebelah timur. Diatas brencarier tampak jelas 3 orang serdadu sedang meneropong kedepan, arah sasaran keduduk­an stelling Pasukan TRIP.

Dengan tanpa berpikir panjang .dari pada didahului serangan musuh, maka kelompok Juki Nyoto Tutol cepat mengambil prakarsa, menghantam serdadu Belanda yang sedang berdiri diatas brencarier itu, dan seketika itu ketiga-tiganya roboh tersungkur dari atas brencarier. Sesaat kemu­dian datang beberapa serdadu yang lain dengan maksud mau menolongnya, akan tetapi dengan cepat dihantam oleh Tekidanto Cak Dul yang kebetulan tepat masuk pada bren­carier, dan……….. blaarr………….. hancur berserakan mereka yang mau mencoba menolongnya itu.

Rupanya Pasukan Belanda menjadi penasaran. Mereka yang mengambil posisi stelling disepanjang sungai lalu ber­gerak majun dan menuruni sungai melalui tebing yang tinggi itu mendekat kearah kedudukan Pasukan TRIP. Melihat keadaan yang demikian, Nono Sanyoto lalu memberikan perintah supaya kelompok Juki mundur mencari tempat yang aman, sedangkan pasukan lain Jito Pitik dan ka­wan-kawan yang bersenjatakan senapan ringan supaya me­lindungi gerakan mundur kelompok Juki itu.

Sementara itu kelompok tekidanto masih sempat menghantam serdadu-serdadu Belanda yang turun dari tebing de­ngan menyeberangi sungai itu, demikian pula pasukan lain yang bersenjatakan karabyn dan sten tidak melewatkan kesempatan baik itu. Tidak sedikit serdadu Belanda yang roboh kena sasaran tembak Pasukan TRIP yang makin lama makin berjarak dekat dengan posisinya.

Setahap demi setahap kelompok Juki mundur dengan mengambil jalan dipinggir anak sungai menuju kearah utara. Sementara itu tembakan gencar dari Pasukan tentara Belan­da terus dilepaskan dan sekali dua kali terdengar suara riuh tembakan perlawanan dari pasukan TRIP.

Sesaat setelah bunyi tembak-menembak berhenti, maka kelompok Juki cepat-cepat meneruskan jalannya mencari tempat kedudukan yang aman dari serangan mau­pun peluru nyasar. Tapi ternyata jalan terputus, sehingga naik dari dasar sungai dan terpaksa berhenti lagi di rumpun bambu (barongan) berduri.

Tapi…………….. , ternyata masih ada hikmahnya juga. Terjebaknya kelompok Juki di rumpun bambu memaksa harus tetap tinggal disitu. Kalau tidak pasti akan berpapasan dengan sekelompok serdadu Belanda yang sedang menyu­suri dasar sungai itu dengan arah yang berlawanan.

Tidak lama kemudian, mulai terdengar lagi tembakan gencar Pasukan Belanda dari arah selatan, yang disusul tembakan dari arah barat, yaitu belakang posisi Pasukan TRIP mengarah ke utara dimana pasukan TRIP dengan Dan Ton Soebandi mengambil stelling.

Sementara tembak-menembak menjadi riuh, karena rupanya Pasukan TRIP terpaksa mengadakan perlawanan dalam posisi yang sudah terkepung itu.

Meskipun demikian, setiap ada kesempatan yang sedikit aman selalu digunakan untuk mengambil posisi mundur, dengan pertimbangan kekuatan musuh jauh lebih besar dan persenjataannya jauh lebih lengkap. Sebaliknya Pasukan TRIP mencari jalan siasat mundur berai oleh kepungan Pasukan Belanda dari depan dan dari belakang stelling.

bersambung………………………………….…….Terjadi perang seru dalam jarak-dekat.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Blitar, Sejarah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s