Raden Panji Kudarawisrengga


Raja Jenggala, yaitu Prabu Lembu Hamiluhur mempunyai beberapa orang putra, tetapi yang lahir dari permaisuri hanya tiga orang yaitu.  Pertama Raden Panji Kudarawisrengga,  Kedua Raden Panji Sastramiruda, Ketiga Dewi Ragil Kuning. Raja Kediri mempunyai tiga orang putra, yaitu pertama Dewi Sekartaji atau Dewi Condrokirono, kedua Raden Mlayakusuma atau Raden Gunungsari, ketiga Retna Mindaka. Raja Ngurawan juga mempunyai tiga orang putra, yaitu pertama Dewi Surengrana, kedua Dewi Kumudaningrat, ketiga Raden Sinjanglaga. Sedangkan raja Panaraga belum berputra.

Pada suatu saat sang raja di Jenggala bermaksud ingin menjodohkan putra mahkotanya, yaitu Raden Panji Kudarawisrengga dengan putri Kediri, yaitu Dewi Sekartaji. Tata cara peminangan dan pertunangan pun dilaksanakan, dan kedua belah pihak telah menentukan hari pernikahannya. Namun pada suatu hati Raden Panji Kudarawisrengga berjalan-jalan menghibur diri di dalam kota, lalu singgah di rumah kepatihan. Di sana beliau melihat putri sang patih yang sangat jelita yang bernama Dewi Hangreni, sedang membatik. Betapa terkejutnya sang putra mahkota melihat ada seorang gadis yang sangat cantik rupawan. Beliau pun seketika jatuh cinta kepadanya hal itu disampaikannya kepada patih, bahwa dia jatuh cinta kepada putrinya. Berkata pula bahwa dia tidak akan kembali ke istana bila tidak bersama dengan Dewi Hangreni.

Mendengar pernyataan tersebut sang patih sangatlah terkejut dan takut, sebab Raden Panji tidak lama lagi akan menikah dengan putri Kediri yaitu Dewi Condrokirono. Maka hal itu segera dihaturkannya kepada Sang Prabu di Jenggala. Sabda sang Prabu, kalau memang kehendak putra mahkota demikian, beliau pun tidak berkeberatan. Beliau akan segera  mengawinkan Raden Panji Kudarawisrengga dengan Dewi Hangreni, namun hanya secara sederhana, dan Dewi Hangreni hanya sebagai isteri selir. Serta besok kalau sudah tiba waktunya untuk kawin dengan putri Kediri, Raden Panji akan tetap dikawinkan dengan Dewi Condrokirono sebagai istri permaisuri. Hal itupun segera disampaikannya kepada Sang Panji, dan putra mahkota pun telah menyanggupinya. Maka perkawinan sederhana segera dilaksanakan. Sang pengantin baru pun hidup rukun dan sangat berbahagia.

Telah tiba pada hari yang telah ditentukan untuk pernikahan Raden Panji Kudarawisrengga dengan Dewi Sekartaji. Pada waktu itu Raden Panji dipanggil ke istana untuk diiringkan ke Kediri dinikahkan dengan sang putri Kediri. Namun Raden Panji menolak, tidak mau dinikahkan dengan Dewi Sekartaji, dengan alasan bahwa dia sudah cukup hanya beristrikan Dewi Hangreni saja. Serta memohon agar pertunangannya dengan putri Kediri dibatalkan saja.

Sikap Raden Panji yang demikian itu membuat Raja Jenggala marah, sehinggaa kemudian beliau mendatangkan Sang Resi Dewi Rara Suciwanungsanya untuk dimintai pendapatnya dalam memecahkan permasalahan tersebut.

Atas keputusan sang resi, agar Raden Panji mau dinikahkan dengan Dewi Sekartaji, satu-satunya jalan adalah harus menyingkirkan Dewi Hangreni. Namun Sang Prabu Jenggala tidak sependapat dengan keputusan tersebut. Akan tetapi sang resi bersikeras, bahwa jalan itulah yang harus dilakukan. Apabila Sang Prabu tidak berani bertanggung jawab, maka mengenai tindakan itu sepenuhnya akan ditanggung oleh sang Resi.

Resi Dewi Rara Wanungsanya kemudian memanggil Raden Nilaprabangsa, yaitu putra Jenggala tertua yang lahir dari istri selir. Raden Nilaprabangsa lalu diberi tahu mengenai tugas yang harus dilaksanakan. Setelah disanggupinya tugas tersebut, Resi Dewi lalu memerintahkan memanggil Raden Panji Kudarawisrengga, untuk diminta mengantarkannya kembali ke depok Kapucangan. Raden Panjipun segera datang menghadap, dan mengantarkan sang Resi ke Kapucangan. Setalah kepergian Raden Panji, Raden Nilaprabangsa menjemput Dewi Hangreni untuk diantarkan ke Kapucangan. Dikatakan bahwa Raden Panji sudah menunggu di sana, ingin bercengkerama di padepokan bersama Dewi Hangreni. Dewi Hangreni pun segera berangkat bersama Raden Nilaprabangsa.

Di tengah perjalanan, sesampainya di tempat yang sepi, Raden Nilaprabangsa segera menghabisi Dewi Hangreni, sesaat kemudian disusul oleh abdinya yang ikut berbela pati. Seperti halnya pesan uwanda resi, Raden Nilaprabangsa setelah menghabisi Dewi Hangreni segera pergi bersembunyi di Gunung Wilis, menyamarkan diri sebagai seorang resi dengan nama Wasi Curiganata.

Di padepokan Kapucangan raden Panji Kudarawisrengga sangat gelisah, selalu teringat pada sang istri tercinta. Maka Panji Kudarawisrengga minta diri kepada uwanda resi, ingin kembali ke istana. Setelah dizinkan Raden Panji segera berangkat. Sesampainya di istana segera menuju ke kepatihan untuk menemui Dewi Hangreni. Tetapi Dewi Hangreni tidak ada di tempat, dan diberi tahu bahwa Dewi Hangreni dijemput Raden Nilaprabangsa, katanya dipanggil ke Kapucangan.

Raden Panji merasa kalau isterinya pasti dibunuh oleh Raden Nilaprabangsa. Lalu dengan marahnya dia mencari Raden Nilaprabangsa. Namun Raden Nilaprabangsa tidak diketemukannya. Maka kemudian Raden Panji jatuh sakit karena terlalu sedih memikirkan hilangnya sang istri.

Setelah agak reda sakitnya, Raden Panji dibujuk untuk dinikahkan dengan Dewi Sekartaji, untuk menggantikan Dewi Hangreni yang telah hilang. Namun Raden Panji Kudarawisrengga tetap bertahan tidak mau dikawinkan dengan putri Kediri tersebut. Kalau tetap dipaksa lebih baik mati. Sikap Raden Panji tersebut membuat ayahanya Raja Jenggala sangat murka, sehingga Raden Panji Kudarawisrengga diusir dari istana. Raden Panji pun segera pergi dengan diiringkan oleh adiknya yang bernama Raden Panji Sastramiruda.

Raden Panji kakak beradik pergi ke tempat pamannya di Ngurawan. Sesampai di Ngurawan mereka segera menceritakan segala yang terjadi, sehingga kemudian Raden Panji Kudarawisrengga diambil menantu sendiri oleh sang paman Raja di Ngurawan, dijodohkan dengan putri Ngurawan yang tertua, yang bernama Dewi Surengrana. Perkawinaan pun dilaksanakan secara sederhana.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Suyami, Tinjauan Historis dalam Babad Kadhiri. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jakarta, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999. hlm. 141-144.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri, Kediri [Kota], Legenda, Sejarah, Th. 1999 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s