Berdirinya Madiun


MENGAMATI perjalanan sejarah Madiun selama ini yang cu­kup punya liku, seperti likunya kali Madiun membelah kota dan daerah ini. Mengungkap Sejarah Madiun sama halnya mengungkap dari adanya Dongeng Rakyat. Dongeng Panji serta Dongeng Kelana Sewandhana. Pula tidak akan terlepas dari adanya Penemuan serta Penelitian Pra­sasti. Benda Kurto/Purbajala yang ditemukan di beberapa daerah dan wi­layah sekitar Madiun.

BERDIRINYA Madiun juga tidak terlepas dari timbulnya Perang antara Mataram dengan Purabaya. Dan jatuhnya Purabaya yang lokasinya saat ini di sekitar Desa Kuncen, di kemudian nanti muncul apa yang disebut sebagai “MADIUN”. Ada beberapa masa dan periode dalam perjalanan Pemerintahan Ma­diun yakni sejak  masa Kasultanan Demak, Kasultanan Pajang, Kasultanan Mataram dan Masa Palihan Nagari, masa Perang Diponegoro dan sebagainya. Juga tidak akan terlepas dari masa Pemerintahan jajahan Belanda, Je­pang, masa Kemerdekaan termasuk didalamnya masa Orde Lama dan Orde Baru.

KETIKA Raden Mas Karebet atau yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hadiwidjaja diangkat dan dinobatkan sebagai Sultan Pajang oleh Sunan Kudus atas nama Para Wali tersebut pula bahwa PENGERAN TIMOER diangkat sebagai BUPATI di PURABAYA. Pangeran Timoer adalah adik ipar Sultan Pajang yang juga anak bungsu Sultan Trenggana. Pengangkatan Pengeran Timoer sebagai Bupati Purabaya dilakukan pada 18 Juli 1568.

Sejak saat diangkatnya Pengeran Timoer menjadi Bupati, secara yuri­dis formal maupun secara de facto pada tahun 1568 lahirlah penguasa yang berpredikat Bupati yang memerintah Kabupaten Purabaya. Jauh sebelum itu, saat Kasultanan Demak tengah berkembang daerah Purabaya menjadi salah satu daerah pendukung Purabaya saat itu dikenal dan berada dibawah penguasa seorang yang dianggap genius yakni Pengeran Pati Unus yang dalam melaksanakan pe­merintahan menggunakan hukum-hukum baru bercorak Islam bersumber dari Al Quran dan Hadist disamping tetap mempertahankan nilai-nilai lama yang tidak bertentangan dengan Islam bahkan bersifat menunjang. Ketika Pati Unus menggantikan kedudukan Sultan Patah di Demak maka daerah Purabaya diserahkan kepada seorang Kyai bernama Reksa Gati. Ia dikirimkan dari Demak ke Purabaya sebagai Pengawas Pemerin­tahan Purabaya atas nama Demak. Disamping tugasnya yang lain pe­ngembangan agama Islam.

Saat terjadi dan pecah Perang Saudara antara sesama “Darah De­mak” ditahun 1546 dan berlangsung sampai sekitar tahun 1568 Kyai Reksa mengambil sikap untuk memihak salah satu kekuatan yang tengah mela­kukan Perang Saudara di Demak. Sikap tidak memihak salah satu kekuatan yang tengah bergolak inilah diambil Kyai Reksa Gati yang merupakan satu sikap yang paling baik me­nurut anggapannya Dan Purabaya saat itu seperti berdiri sendiri dan nampak seperti terlepas dari Kasultanan Demak.

Ketika pergolakan dan perang saudara antar darah Demak itu ber­akhir di tahun 1568 dan Mas Karebet berhasil menjadi Sultan Demak, ju­ga diangkatnya Pengeran Timoer sebagai Bupati di Purabaya, maka ber­akhirlah kepemimpinan Kyai Reksa Gati di kawasan Purabaya sebagai pimpinan Pemerintahan Pengawasan. Nama Kyai Reksa Gati hingga saat ini masih tetap tersimpan dan menjadi nama sebuah Desa yakni Desa Sogaten yang berarti tempat Reksa Gati Makam dari Kyai yang pernah meniadi pengawas pemerintahan atas nama Kasultanan Demak di Purabaya ini berada di makam umum Sidomulyo, Jiwan Kabupaten Madiun.

Sedang Raden Mas Karebet atau Sultan Hadiwidjaja setelah diangkat dan dikukuhkan menjadi Sultan berusaha untuk memindahkan Pusat Pe­merintahan tidak lagi di Demak tetapi dipilihnya daerah lain yakni daerah “Pajang”.

Alasan pemindahan tempat pusat pemerintahan itu karena Demak te­lah dirasa “tercemar darah perang saudara” dan pemindahan pusat pe- Purabaya pada tanggal 18 Juli 1568 dan mengakhiri pemerintahan Pe­ngawasan Kasultanan Demak di Purabaya di bawah Kyai Reksa Gati, kemudian membuka dan mewarnai Sejarah Awal Kabupaten Madiun, se­bagai Bupati yang Pertama (ke I) di Madiun dengan masa jabatan antara tahun 1568 sampai 1586.

Terkait:
Pengeran Timoer, Bupati Pertama Kabupaten Madiun
Raden Ayu Retno Djumilah, Bupati ke 2 Kabupaten Madiun
Bupati Kabupaten Madiun ke 3 sampai dengan ke 13
Raden Ronggo Prawirodirdjo I. – Ra­den Mangundirdjo, Bupati Madiun ke 14 – ke 15
Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III, Bupati Madiun ke 16
Bupati Madiun Ke 17 sampai dengan ke 21
Bupati Madiun ke 22 sampai dengan ke 24
Bupati Madiun ke 25 sampai denga ke 34
Berdirinya Madiun
Kotapraja Madiun, berdiri 1918

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Buku Kenang-kenangan Sekilas Madiun Pada Hari Jadi Ke-418. Madiun: Humas Pemerintah Kabupaten/Kodya Daerah Tingkat II Madiun, 1986, hlm. 49-51.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madiun, Madiun [Kota], Sejarah, Th. 1986 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s