Kartolo, Pelawak


2 Juli 1947, Tolo lahir di Watu Agung Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, yang akhirnya lebih akrab dipanggil Kartolo. Kartolo bukan berasal dari keluar seniman Ayahnya, Aliman adalah buruh pabrik tenun Juwingan, Surabaya. Pun, ibu Kartolo, Payamah hanya sebagai ibu rumah tangga yang berdagang warung kelontong. Pria yang sangat bangga disebut mirip Saddam Hussein ini,  tak pernah bercita-cita sebagai seniman. Ia dulu sangat memimpikan jadi pegawai negeri, yang dianggapnya punya masa depan. Ya, karena pegawai negeri dapat pensiun dan tunjangan.

Tahun 1952, Tolo masuk Sekolah Rakyat (SR) dan

Tahun 1958, lulus SR 6, Tolo tidak melanjutkan se­kolah yang lebih tinggi, orang tuanya tidak mampu membiayai sekolahnya. Masa kecilnya di Prigen punya tetangga yang membuat gamelan. Namanya Pak Tjipto. Gamelan buatan Pak Tjipto dipakai untuk kerawitan atau panjak. Di situlah Kartolo belajar gambang dan tayuban.  Usia 14 tahun, Tolo ikut grup ludruk Margo Santoso, grup ludruk di desanya. Lalu bergabung dengan grup Ludruk Garuda yang bermarkas di Pandaan. Pada zamannya ludruk Garuda ini lumayan punya pamor. Selanjutnya Tolo pindah lagi, bergabung dengan grup Panca Tunggal, grup binaan Batalyon Zeni Tempur V Lawang.

Tahun 1961-1962, Tolo hijrah ke Malang. Dia memilih menjadi seniman lepas (tidak terikat pada Grup Ludruk), Tolo ikut pentas berbagi grup ludruk yang ada di Kota Apel tersebut.

Tahun 1965, Ketika meletus peristiwa G 30 S PKI Kartolo pulang ke Pandaan. disebabkan seluruh kegiatan kesenian terhenti, kondisi yang sangat menyiksa. Karena para seniman tak bisa berekspresi dan  tak mendapatkan penghasilan.

Tahun 1967, situasi negara mulai tenang. Lantas Tolo melanjutkan kiprahnya dengan bergabung di grup Dwikora Sepur Lima, Lawang. Grup ini kemudian bubar. Kartolo lalu pindah ke ludruk Gajah Mada binaan Marinir Surabaya. Dari grup Gajah Mada itu, nama Kartolo mulai dikenal. Ia kemudian bergabung ke ludruk Bintang Surabaya. Keluar lagi dan bergabung dengan ludruk Tansah Trisno.

Tahun 1971, bergabung dengan ludruk RRI Surabaya, Kartolo gandeng dengan tokoh-tokoh ludruk RRI Surabaya yang cukup tenar, antara lain Muali, Kancil, Markuat. Lakon-lakon yang dijadikan andalan. di ludruk RRI Surabaya inilah, Kartolo kepincut Kastini yang sama- sama main di ludruk RRI. Sering Tolo dan Tini dipasangkan dalam lakon-lakon ludruk. Dan akhirnya benar-benar jadi suami istri sampai sekarang  uwiting tresno jalaran soko nggelibet”  Artinya, Awalnya cinta disebabkan karena sering berdekatan.

Tahun 1974, Kartolo keluar dari RRI. Dia sempat bergabung dengan Ludruk Persada Malang pimpinan Cak Subur di Kabupaten Malang. Kartolo belajar keras lagi. Pengalamannya banyak ditempa di sana.

Tahun 1980, setelah malang melintang sebagai seniman ludruk, akhirnya Tolo mendapat tawaran rekaman di bawah bendera Nirwana Record. Bersama Nelwan S. Wongsokadi dengan karawitan Sawunggaling Surabaya. Sedangkan Kartolo membawakan Jula-Juli Guyonan. Formasinya, Kastini (istri Kartolo), Munawar, Sapari, Sumilah, dan Cak Yakin. Pertama yang di-launching ‘Peking Wasiat’ dan ‘Welut Ndas Ireng’. Dua kaset itu meledak di pasaran, sampai 10 ribu kaset. Edisi selanjutnya Kartolo merilis Tumpeng Maut. Dalam edisi ini bergabunglah Basman dan Sokran. Kedua pelawak inilah, menambah warna tersendiri Basman yang dikenal ceplos-ceplos, suka terpeleset-peleset bicara sembari diiringi tawa lebar. Sokran yang kerap memosisikan diri sebagai orang yang selalu dirundung kesialan dan memelas.

Tahun 1980-1995, Kartolo telah merilis 90 kaset dan VCD 4 buah, antara lain Soto Gagak, Besut 81, Kemanten Puret, Kuro Kandas, Macan Ompong, Dukun Ulo Entong, Ratu Cacing Anil, Juragan Roti Sepatu, dan masih banyak lagi. Album terakhir Rujak Kikil (1995). Rekaman Kartolo juga banyak dijual di Suriname. Membuat kidunganbagi Kartolo sangat mudah, justru melawaklah suatu hal yang diangagap sulit, sebab bayolan terkait dengan cita rasa penikmatnya. Cerita lawakan Kartolo tak pernah tertuang dalam naskah, hanya sekedar berdia­log sebelum naik pentas dengan para pemainnya, ada yang pengumpan, ada yang menabok. Namun dalam melawaknya ternyata mempunyai prinsip batas tegas, Ia tidak akan mengangkat tema-tema politik atau yang menghujat.

Tahun 1990, Kartolo pernah tampil di Universitas Airlangga dalam acara open air di depan pelataran Fakultas Hukum. Ketika itu, Kartolo melakonkan diri sebagai mahasiswa yang sok tahu. Ketika Sokran bertanya, sudah ikut mata kuliah apa, dengan enteng Kartolo menjawab: Kewirangan Spontan para mahasiswa pun terkekeh-kekeh mendengar pelesetan kuliah Kewiraan itu.

Kartolo dimata BUDAYAWAN Sindhunata (2004)
Sindhynata heran, saat mempelajari kidungan Kartolo, berbagai strata sosial masyarakat menyukai lawakannya. Sindhunata menulis tentang Kartolo. Bukunya, Ilmu Nggletek Prabu Minohek, dicetak September 2004 akhirnya di-launching.  Isinya tentang apresiasi kidungan dan lawakan Kartolo.
Shindunata kagum sebab karya Kartolo semua kidungannya  isinya selalu berbeda. Kartolo mempunyai segudang pengalaman. Dengan demikian, akar atau ranah lawakannya bukanlah kecukupan dan keceriaan atau kegembiraan. Melainkan kekurangan dan kepahitan atau kesedihan.
Kekurangan, kepahitan, dan kesedihan jika masuk dalam ranah humor, akan menghasilkan efek komedi tragis. Komedi ini hanyalah ekspresi seni dari hidup rakyat yang susah dan berkekurangan sehari-harinya. Hal inilah membuat Kartolo laris manis di kalangan mereka.
 Jangan berharap luar biasa dari kehidup Kartolo. Ngglethek, hidupnya memang begitu saja, orang yang bisa merekam pelbagai kisah kehidupan dalam lawakan yang begitu mengesankan, ternyata ngglethek, cuma sederhana dan selugu itu. Hanya dengan pandai menertawakan diri dan hidup ini sesungguhnya ngglethek.
Di sinilah jasa Kartolo dan kawan-kawannya buat kehidupan. Lawakan-lawakannya selalu mengingatkan orang untuk sadar akan aspek ngglethek dari kehidupan ini “Jalan hidup Kartolo begitu sederhana. Sangat ngglethek (pasrah)? begitu komentar Sjndhu
Emha Ainun Nadjib juga kagum terhadap kesahajaan Kartolo. Emha sempat menawari Kartolo bergabung dengan kelompoknya Kyai Kanjeng,  namun Kartolo beralasan lebih mengutamakan grup lawakannya. Ia merasa sudah ada keterikatan batin dengan teman-temannya. Kartolo pernah diundang mengisi kegiatan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), didaulat menjadi pembicara dalam seminar budaya, bersama Harry Mukti dan Emha Ainun Nadjib. Meski Kartolo pelaku seni dan budaya namun bukanlah orangnya jika sebagai  pembicara seminar, yang hanya berpendidikan Sekolah Rakyat.

Bersama istrinya Kastini tinggal di Kupang Jaya 1/12-14 Surabaya, Kartolo dikarunai tiga orang anak. Anak pertama Agus Slamet sudah dipanggil menghadap Sang Khalik. Sedang yang kedua Gristianingsih dan anak ketiga Dewi Triyanti— sudah bisa hidup mandiri Darah seni Kartolo agaknya menurun kepada putri bungsunya, Dewi Triyanti yang pandai ngremo, pernah tampil di Istana Negara.
Bagi Kartolo, peran seniman kalau bisa jadi tontonan sekaligus sebagai tuntunan. Meski namanya telah populer, Kartolo bersama istrinya, Kastini tak pernah pilih-pilih job. Bahkan di acara tujuh belasan (peringatan HUT Kemerdekaan RI) di kampungnya Kartolo dan Ning Tini masih rutin mengisi tanpa mau dibayar. Bahkan, kalau tampil tujuh belasan mengajak masyarakat setempat untuk main bareng. Dedikasi Kartolo sebagai seniman merupakan totalitas. Hampir seluruh hidupnya habis dari panggung ke panggung. Perjalanan waktu telah membuat makin matang dalam berkarya.

Kartolo bisa dibilang sebagai peletak dasar-dasar ludruk modern, dan sekaligus pembaharu bagi genre kesenian Jawatimuran ini. Parikan-parikan yang diciptakannya merupakan improvisasi di atas panggung yang tercipta saat itu dan tanpa teks. Parikan-parikannya tidak hanya berisi ungkapan-ungkapan jenaka belaka, namun juga berisi kritik-kritik sosial dan potret-potret kehidupan metropolitan.

Kartolo salah satu legenda seni Jawatimuran

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Berbagai koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pasuruan, Seni Budaya, Surabaya, Tokoh dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s