Rudy Hartono, Sang Maestro


RUDY HARTONONio Hap Liang lahir di Surabaya, pada 18 Agustus 1949,  Maestro Bulutangkis Indonesia delapan kali menjadi juara All England, tujuh diantaranya berturut-turut tahun 1968 sampai dengan tahun 1974, Maestro Bulutangkis Indonesia dikenal dengan nama RUDY HARTONO.

Waktu itu bulutangkis belum dipertandingkan di Olympiade, andai saat itu sudah dipertandingkan di Olympiade, tak sulit baginya untuk meraih medali emas bagi Indonesia. Kemenangan Rudy Hartono di atas lapangan bulutangkis sempat menggeser popularitas sepakbola, pesona kehebatan raket Rudy hingga tahun 1976.

Kurniawan  pemilik klub bulu tangkis Suryanaga Surabaya inilah yang berperan dalam keberhasilan RUDY HARTONO, beliau adalah Ayah sang Maestro Bulutangkis Indonesia.

Menciptakan seorang juara dunia itu perlu proses panjang. Tidak semudah membalik telapak tangan. Hal itu dirasakan Rudy Hartono Kurniawan, maestro bulutangkis kita. Untuk bisa menjadi juara, dia sangat membutuhkan banyak pengorbanan serta dukungan banyak pihak, terutama orangtua. “Untuk menjadikan seorang anak menjadi pemain kelas dunia, memang ada harga yang harus dibayar. Terutama pengorbanan dan perjuangan orangtua,” kata juara All England delapan kali itu.

Hal itu pernah dilakukan ayahnya Zulkarnain Kurniawan. Semasa masih kecilfawal tahun 1960-an) tiap hari ayahnya membawa Rudy ke lapangan tenis Embong Sawo. Letak lapangan tersebut memang tidak jauh dari rumahnya karena ketika itu ia masih u tinggal di Jalan Kaliasin (kini Jalan, Basuki Rachmat) nomor 49. Tiap hari Rudy digembleng fisiknya dengan berlari, Hal itu dilakukan ayahnya dengan n disiplin tinggi.

Ayah Rudy menyadari bahwa modal utama bagi seorang k olahragawan adalah daya tahan(stamina) yang kuat. Karena itu, sejak dini ia mempersiapkan ketahanan fisik Rudy. Usahanya membuahkan hasii gemilang beberapa tahun kemudian. Berkat latihan keras dengan disiplin a tinggi itu Rudy menjelma menjadi pebulutangkis yang tangguh baik fisik i maupun maupun mental, Setelah menjadi juara Indonesia pada 1967, Rudy untuk kali pertama memperkuat tim Thomas Cup Indonesia. Kala itu, ia berhasil mengalahkan dua pemain andalan Malaysia Tan Aik Huang dan Yew Cheng Hoe. Lalu, pada tahun berikutnya, Rudy untuk kali pertama merebut gelar juara All England di Wembley London. Dalam kurun waktu sembilan tahun, ia merebut gelar juara tersebut delapan kali. Yakni pada 1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973,1974 dan 1976.

la juga pernah menjadi juara tunggal pria Kejuaraan Bulutangkis Dunia pertama pada 1972 dan kemudian menjadi juara dunia(World Open Tournament) di Jakarta pada 1980.

Menurut Rudy, ada tiga hal yang harus dilakukan seorang pemain sebagai persiapan sebelum bertanding. Yang pertama, harus menyiapkan fisik yang prima. Hal ini menyangkut kekuatan, ketahanan dan kecepatan. Pada saat ini, tipe permainan yang berkembang mengandalkan speed and power. Percuma kalau bisa bermain dengan tipe ini namun hanya bertahan dua set saja karena kondisi fisik yang tidak memadai. Di set ketiga, lawan yang kondisi fisiknya lebih baik tentu bisa menang.

Yang kedua, pemain harus berlatih teknik dan akurasi pukulan. Kalau yang pertama (fisik bagus) tidak tercapai, bagaimana bisa melakukan pukulan-pukulan yang akurat dan menguasai teknik yang sempurna.

Dua hal tersebut di atas berhubungan dengan mental. Bagaimana pemain bisa punya mental bagus jika dirinya merasa tidak siap ? Pemain yang merasa bahwa dirinya sudah siap untuk berhadapan dengan lawannya dengan bekahlatihan keras otomatis punya mental bertanding yang bagus.

Terakhir, baru bicara strategi. Tanpa persiapan yang bagus, strategi apa pun tidak akan berjalan mulus. Rudy melanjutkan, sebagai pemain seharusnya bisa mandiri dan sadar bahwa dia adalah atlet professional. “Tidak usah disuruh atau dipaksa berlatih seorang pemain seharusnya sudah sadar pada tugas dan, kewajibannya. Jadi, dia harus melakukannya sendiri tanpa harus disuruh. Malah kalau perlu dia harus menambah porsi latihannya,” “Jangan sedikit-sedikit mengeluh lelah atau bosan. Kalau mau jadi juara ya harus mau menderita. Latihan keras diperlukan untuk menjadi juara. Tak ada gelar juara yang bisa diraih dengan mudah.

Pemain yang banyak merebut gelar pasti menderita saat berlatih,” ia menambahkan. Mengenai regenerasi pemain di Indonesia, Rudy mengatakan, sistemnya yang harus diperbaiki. Harus ada kerja sama dengan pemerintah untuk lebih memassalkan bulu- tangkis mulai dari sekolah dasar. Kalau bisa klub menerima pemain yang setengah jadi. Kita tidak bisa terus mengharapkan klub memproduksi pemain mulai dari nol,” ujarnya.

Rudy, yang pernah menjabat sebagai Kabid Organisasi dan Pengembangan Daerah PB PBSI periode 2004 – 2008 itu, masih sangat peduli pada kemajuan bulutangkis Indonesia Untuk itu,ia menggelar berbagai kegiatan guna mendukung prestasi bulutangkis lewat program “Menabur dan Menuai” Program ini di antaranya merenovasi lapangan terbuka out door court yang berada di tengah pemukiman di Rudy Hartono berbagai tempat.

Untuk tahun prestasinyi 2008 renovasi ditargetkan mencapai 1.000 lapangan. Dia juga mengadakan klinik kepelatihan bersama mantan pemain Imelda Wiguna dan Candra Wijaya. “Dengan dukungan HSBC, saya berharap program ini berhasil. Saya mengimbau agar lapangan outdoor yang sudah direnovasi itu membuat para orangtua mulai mendorong anak-anaknya untuk bermain bulutangkis karena tidak perlu keluar biaya mahal lagi untuk sewa lapangan,” tutur juara dunia 1980 itu.

Rudy juga mengimbau agar lembaga- lembaga lain juga mendukung program”Menabur dan Menuai” Agar prestasi bulutangkis Indonesia terjaga, langkah awal adalah menabur bibit pemain di tempat yang benar dengan sarana dan prasarana memadai. Setelah itu, mereka harus dirawat dengan baik. Ujung-ujungnya, pada saatnya kita akan menuai hasil yang memuaskan”Usaha yang saya lakukan bersama HSBC ini adalah untuk menggali dan menemukan secara tepat akar permasalahan yang terjadi dalam perbulutangkisan Indonesia, se hingga kita bisa bangkit dan kembali menguasai supremasi bulutangkis dunia,” paparnya.

Rudy yang dilahirkan di Surabaya pada 1949 itu pernah memperkuat tim Thomas Cup Indonesia lima kali(1967, 1970, 1973, 1976 dan 1984). la juga pernah menjadi juara Malaysia terbuka pada 1970, juara Indonesia terbuka tiga dan juara Thailand terbuka(1976). la juga pernah tampil di Asian Games Bangkok 1966 dan , pertandingan eksebisi di Olimpiade Muenchen pada 1972.

PRESTASI RUDY
■ Juara Indonesia tiga kali(1964, 1967 dan 1973)
■ Juara All England delapan kali (1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, 1976)
■ Juara tunggal pria Kejuaraan Bulutangkis Dunia pertama(1972)
■ Juara Dunia(World Open Tournament) di Jakarta(1980)
■ Juara Malaysia Terbuka(1970) dan Thailand Terbuka(1976)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Johnny Budi Martono & Mulyono. Buku Peringatan 100 Tahun POR Suryanaga, Surabaya: Suryanaga, 2008.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sosok, Surabaya, Th. 2008 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s