Jigang Jaya


JIGANG JAYA YANG MENGUASAI TELAGA MADIRDA Diambil dari cerita bahasa Jawa, daerah Tulungagung.  Di desa Sawo, kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, yakni di dukuh Buret terdapat bekas peninggalan sejarah yang berupa sebuah telaga. Kabarnya telaga itu dapat dimanfaatkan oleh rakyat sejumlah tiga desa, antara lain desa Sawo, Gedangan, dan desa Ngrem- pong. Konon penduduk dari tiga desa tersebut masih ketat sekali dalam mempercayai nilai magis telaga peninggalan itu. Penguasa telaga yang kabarnya angker itu adalah Jigang Jaya namanya. Adapun sejarahnya sebagai berikut :

Suatu hari terkisahlan serombongan penunggang kuda yang tak diketahui hendak ke mana arah tujuannya. Rombongan tersebut terdiri beberapa orang, antara lain Jigang Jaya, Kademdem, Malang Jaya, Truna- Jaya dan beberapa pengikut lainnya. Di dalam rombongan penunggang kuda, Jigang Jaya bertindak sebagai pemimpinnya, sambil menggendong seorang bayi yang masih minum susu. Langkah-langkahnya terlihat bak prajurit yang baru saja meninggalkan medan pertempuran. Mereka nam­pak lesu letih sekali, ada yang pucat, ada yang sempoyongan dan bebe rapa orang pengiring yang tak berdaya.

Dalam situasi yang krisis ini, mereka sempat melepaskan lelah di tepi sebuah hutan rimba. Betapa tidak menyayat hati, sang bayi yang berada di bopongan Jigang Jaya menangis karena kehausan, mungkin pula kelaparan. Apa gerangan yang hendak diperbuat Jigang Jaya. Maka dengan segala kemampuan yang ada Jigang Jaya segera menggali sebuah lubang untuk mendapatkan air yang dapat diminum, terutama bagi sang bayi. Sambil memohon kemurahan Tuhan Jigang Jaya terus melakukan usahanya. Maka tak lama kemudian memancarlah air dari tanah yang di­galinya. Air yang memancari itu bukan hanya berupa sumber yang kecil belaka tetapi airnya menggenang laksana telaga yang agung. Karena air sumber dan kemurahan Tuhan, maka selamatlah jiwa sang bayi. Oleh sebab itu maka sampai saat ini telaga yang terus dengan derasnya meman­car air itu diberi nama telaga “Madirda”.

Tepat pada bulan Selo, bertepatan pula pada hari Jum’at legi yakni sebelum rombongan kuda pimpinan Jigang Jaya meninggalkan tempat tersebut, maka terlebih dulu berpesan kepada para penduduk desa yang ikut memanfaatkan airnya agar sudi merawat telaga Madirda tersebut sebaik-baiknya. Dan apabila tidak maka meraka akan mendapat kutukan dari Yang Maha Esa. Di samping itu, hendaknya setiap tahun, yakni pada bula Sela, hari Jum’at legi mereka sudi mengirimkan sesajian untuk menghormati para dayang telaga. Sebelumnya sesajian itu tidak boleh dicicipi lebih dahulu, jika melanggar akan mendapat kutukan juga. Memang benar, rupa-rupanya perintah dan larangan Jigang Jaya tak seorang pun berani melanggarnya. Kemungkinan pula sampai se­karang juga.

Kembali pada Jigang Jaya yang meneruskan perjalanannya ber­sama rombongan. Hari demi hari sang bayi itu pun bertambah besar, tumbuh dan berkembang dengan cepat. Anak kecil ini mempunyai ke­senangan menyabung ayam. Sedang ayam yang dimilikinya tidaklah sama dengan jenis ayam yang lain. Ayam aneh itu disebut Kutuk Andong. Kegemaran sang adinda yang kecil senantiasa dapat melupakan makan minum walaupun dalam jarak yang jauh. (Hingga saat kini ayam jenis Kutuk Andong masih dianggap memiliki suatu yang sakral dan jarang dimiliki orang). Tidak terasa perjalanan mereka telah sampai di suatu tempat Rawa Remang namanya.

Di Rawa Remang itu Jigang Jaya juga meninggalkan pesan pada penduduk desa. Bahwasannya mereka tak seorang pun diperbolehkan mengenakan ikat kepala yang sama dengan milik Jigang Jaya, dan tidak seorang pun diperkenankan menunggang kuda seperti milik Jigang Jaya, yakni kuda Pancal Panggung jika melanggar akan terkutuk pula.

Ada lagi suatu hal yang dianggap erat kaitannya dengan perintah Jigang Jaya, yaitu segala macam ikan dan binatang yang berada di se­panjang sungai yang berasal dari telaga Madirda tak seorang pun berani mengambilnya, apalagi membunuhnya. Dari serentetan peristiwa yang berkenan dengan perjalanan Jigang Jaya beserta perintah atau larangannya sampai sekarang masih ada bahkan menjadi adat penduduk setempat, yaitu adat kepercayaan yang sulit dihilangkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Jawatimur, DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN,

82 -83

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Tulungagung dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jigang Jaya

  1. ryu berkata:

    aku pernah diajak masuk kedalam istana telaga buret dan di beri beberapa batu servta sebuah keris kecil.
    saat aku diganggu makluk gaib dia sering datang membantuku.
    ini aneh tp nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s