Bambang Widayaka


Menurut cerita, di utara Kamolan ada sebuah gunung kecil, ber­nama gunung Kuncung. Di tempat itu bertapalah seorang pemuda ber­sama dua punakawannya, yaitu Lega dan Legi. Pertapa muda itu anak dari seorang begawan yang bernama Begawan Jatipitutur, dan begawan ini mempunyai pula dua orang punakawan, bernama Bancak dan Doyok.

Suatu hari Lega dan Legi mencari makanan buah-buahan di hutan sekitar pertapaan itu. Dalam mencari makan itu akhirnya keduanya sam­pai masuk ke keputren atau tamansari. Yang berada di taman waktu itu adalah Dewi Kadarwati yang sama sekali tak mengira kalau ada dua orang masuk dalam tamannya, Dan setelah Dewi Kadarwati mengetahui dua lelaki asing masuk tamannya, berlarilah ia sambil menjerit-jerit. Diberitahukanlah segera kepada ayahanda Prabu. Sedang Lega dan Legi pun sebenarnya terkejut juga ketika melihat putri keraton yang cantik itu. “Benarkah dia seorang putri, ataukah sebangsa roh halus,” pikir me­reka dalam hati.

Setelah menerima laporan Sang Putri, Sang Prabu segeramemerin tahkan para punggawa untuk menangkap dua orang yang masuk per­tamanan itu. Setelah tertangkap, Lega dan Legi itu diberi oleh Sang Pra­bu semacam kelonggaran untuk dipilih, segera dilepas ataukah ditawan saja. Lega dan Legi bercerita bahwa adalah punakawan seorang pemuda yang sedang bertapa di gunung Kuncung, Sang Prabu pun akhirnya me­mutuskan persyaratan bahwa pertapaan di gunung Kuncung itu boleh di­teruskan asal memenuhi beberapa permintaan. Pertama, bisa membuat boneka kencana, Kedua, membuat terowongan dari Kamolan ke Beji (utara Kamolan hingga Gempol). Dan ketiga, memberi kendaraan macan putih yang patuh kepada tuannya. Dan bila itu bisa dipenuhi oleh si pertapa, Bambang Widayaka sendiri, maka ia akan dikawinkan oleh si Prabu dengan putrinya itu, yaitu Dewi Kadarwati, dan pula kelaknya akan menggantikan Sang Prabu menjadi raja di Kamolan.

Maka Lega dan Legi pun segera menyampaikannya kepada Bam­bang Widayaka, tentang isi berita gembira namun dengan persyaratan berat itu. Mereka melapor, “Ah Gusti, kami tidak menyangka bisa terse­sat. Setelah mengetahui buah-buahan yang banyak sekali, kami pun mengambilnya dengan maksud untuk Sang Gusti di rumah. Tetapi tiba-

tiba kami menemui seorang putri yang cantik, ternyata kami telah berada di sebuah tamansari. Kami lihat putri itu berlari-lari sambil menjerit- jerit, dan tidak berapa lama kami telah ditangkap beberapa punggawa. Kami menceritakan kepada mereka tentang pertapaan Gusti yang indah ini dan pekerjaan kami di sini. Akhirnya kami diberi semacam pesan, bahwa ada suatu persyaratan bagi terusnya pertapaan kita. Jika kita meme­nuhi beberapa syarat yang mereka ajukan dan kalau itu berhasil, maka Sang Gusti akan dikawinkan dengan putri Prabu Kamolan yaitu Dewi Kadarwati.”.

Setelah diceritakan oleh Lega dan Legi syarat-syarat itu, maka sangat tertariklah Bambang Widayaka mendengarnya, dan dalam mimpi­nya seolah-olah Dewi Kadarwati yang cantik itu telah di mukanya.

“Paman, siapa nama Sang Putri tadi ?” tanya Bambang Widayaka
“Dewi Kadarwati, begitu”, jawab.
“Ah, kalau cuma itu saja permintaannya, akan saya mintakan pada Sang Hyang Widhi, supaya saya menjadi menantu Sang Prabu”,
“Nah, begini Gusti. Apakah Gusti lupa ketika akan berangkat kepertapaan ini, bukankah telah diingatkan oleh Bapak,” punakawan nya.
“Apa itu Paman ?. Saya jadi agak lupa”, jawab Bambang Wida­yaka.
“Pusaka-pusaka, nah, itulah. Apakah nama pusaka itu dulu?”, ujar punakawan
“O, ya.”

Setelah ingat akan pesan ayahnya dulu, segera oleh Bambang Widayaka, jago dibantingnya dan jago itu segera berubah menjadi gombal lusuh. Dan lebih terperanjat lagi, ketika gombal itu dibolak-balik dan di­kibaskan maka berubahlah kain gombal itu, menjadi buaya putih. (Sebenarnya gombal itu dikibaskan dengan maksud akan dibersihkan, tapi ternyata berubah menjadi Buaya Putih). Rupanya Buaya Putih itu bukan sembarang buaya, sebab dia bisa berbicara dengan sopan. Buaya Putih kemudian bertanya kepada Bambang Widayaka,
“Maaf Gusti,ada kehendak apa memanggil hamba Buaya Putih ada pekerjaan besarkah atau bagaimana ?.
Sesudah Bambang Widayaka menceritakan keinginannya, agar dapat menjadi Raja atau menjadi menantu Sang Prabu, dengan syarat yang dituntut oleh Sang Prabu, Buaya Putih pun berkata sopan kepada Bambang Widayaka.

“Kalau begitu, bolehlah Gusti mengikuti sayembara itu.”.
Mereka berempat akhirnya berangkatlah ke Kamolan. Perjalanan nya lama, melewati bukit-bukit, hingga Buaya Putih tidak sabar lalu berkata.
“Perjalanan seperti ini akan memakan waktu lama. Maka dari itu marilah semuanya naik ke punggung saya!”
Buaya Putih pun akhirnya terbang membawa ketiganya duduk di pung­gungnya. Tidak berapa lama sampailah mereka mendarat di Kamolan. Sampai sekarang, daerah tempat Buaya Putih mendarat bersama tuannya itu disebut Desa Tunggangan. Setelah mereka turun, mereka beristirahat sebentar dan tempat beristirahat itu disebut sebagai Desa Ngasongan.

Kemudian Bambang Widayaka mengharap Sang Prabu Kusuma- wicitra mengutarakan kehendak, untuk mengikuti sayembara baru itu. Dan dengan bantuan Buaya Putih, akhirnya semua persyaratan yang dia­jukan Sang Prabu itu pun dapat dilaksanakan hanya dalam sekedip mata saja.

Setelah sayembara itu dipenuhi oleh Bambang Widayaka, dan se­sudah diteliti oleh Sang Prabu, semua dapat mencocoki hasil pekerjaan Bambang Widayaka, lalu Bambang Widayaka dinobatkan menjadi Raja Kamolan, menggantikan Sang Prabu Kusumawicitra dan memperistri Dewi Kadarwati.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, 1982-1983 

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Th. 1982 dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s