Kanjeng Ratu Maduretna


Konon pada waktu itu yang memegang kekuasaan di Kadipaten Maospati adalah Pangeran Rangga Dirja ketiga. Sang Pangeran memerin­tah dan menguasai suatu daerah yang cukup luas, meliputi beberapa katumenggungan, di antaranya Katumenggungan Sumarata, Genengan dan sebagainya.

Pada waktu itu Pangeran Rangga Dirja ketiga mempunyai seorang guru yang limpad dalam hal ilmu kebatinan serta keagamaan, yakni Kyai Mokhamad Basori. Pada waktu itu Pangeran Rangga Dirja ketiga berke­inginan hendak menaklukkan Kabupaten Magetan. Maksud dan niatnya ini disampaikan kepada gurunya, Kyai Mokhamad Basori. Namun Kyai Mokhamad Basori sama sekali tidak menyetujuinya, dan menyarankan supaya gagasan itu dihilangkan saja. Maksud dan keinginan hendak ber­perang melawan Magetan supaya dibatalkan.

Tetapi Rangga Dirja ketiga tetap bersikeras pada pendiriannya.. Tetap akan menaklukkan Magetan. Kecewa akan sikap muridnya yang keras kepala ini, maka Kyai Mokhamad Basori lalu pergi meninggalkan Kranggan.t Dan sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa, maka Kyai Mokhamad Basori lenyap tanpa bekas sama sekali.

Demikianlah Rangga Dirja ketiga tetap memerangi Magetan, Rupanya karena tidak mendapat restu dari sang guru, Rangga Dirja mengalami kegagalan untuk menaklukkan Magetan. Rangga Dirja ketiga kalah.

Sangatlah kecewa hati Pangeran Rangga Dirja ketiga atas kegagal­annya tersebut. Maka, pergilah ia menghadap ayahandanya di Keraton Yogyakarta. Konon menurut kata yang empunya cerita, dalam menem­puh perjalanannya ke Yogyakarta, ia melewati kota Delangu. Di sana ia melihat ada orang menggembalakan kambingnya yang sangat banyak. Di antara kambing itu, ada seekor yang sangat indah warnanya. Gusti putri Maduretna istri Pangeran Ranga Dirja sangat tertarik akan kambing yang elok tadi. Maka ia pun menyampaikan keinginannya untuk memi­liki kambing itu, kepada suaminya. Rangga Dirja menjawab,

“Ya, walaupun kambing itu sangat indah, tetapi itu bukan milik kita”.

Namun Gusti Putri Maduretna tetap pada pendiriannya. Ia menangis, ingin memiliki kambing yang sangat elok itu. Karena sangat cintanya kepada istrinya, tak tegalah Pangeran Rangga Dirja ketiga membiarkan istrinya menangis. Maka dipanggilnyalah penggembala kambing itu, katanya,

“Kakek, kambingmu sangat banyak dan ada yang sangat baik, dan yang baik itu rupanya diingini oleh tuanmu putri. Seandai­nya kambing itu saya minta, apakah kamu rela? Orang,yang menggembala lalu menjawab” Tidak. Tidak tuan! Tuan beli pun tidak akan saya berikan.” Kemudian pangeran Rangga berkata lagi. “Dan kalau saya beli harganya berapa ?”

Orang yang menggembala kambing itu lalu menjawab lagi, “Walaupun tuan beli tidak akan saya berikan.”

Jawaban dari penggembala itu menjadikan beliau marah, dan orang yang menggembala kambing itu dibunuh.

Kemudian pangeran Rangga dan istrinya pergi ke Yogyakarta. Sepeninggal pangeran Rangga dan istrinya, lalu ada berita atau laporan dari keraton Sala, yang mengatakan bahwa pangeran Rangga Dirja telah membunuh seorang penggembala kambing, padahal kambing itu ke­punyaan Keraton Sala.

Setelah itu Keraton Sala minta keterangan kepada Sultan Yogya­karta yang maksudnya bertanya, bahwa jika ada orang yang membunuh orang bagaimana menurut hukum dan harus diberi hukuman apa orang tersebut, maka Sultan Yogyakarta menjawab bahwa orang yang mem­bunuh harus dibunuh. Kemudian Keraton Sala mengirim surat, ke Yogyakarta bahwa Pangeran Rangga Dirja harus dibunuh karena telah membunuh penggembala kambing.

Sultan Yogyakarta tidak tega untuk membunuhnya maka ter­paksa putranya tadi disuruh pergi mengembara dengan diiringkan oleh Patih Danurejo dan disertai pesan yang berbunyi,

“Jika jauh supaya didekati dan jika dekat supaya dijauhi.”

Inilah kemudian Keraton Sala merasa sungkan lalu membuat surat rahasia yang diberikan kepada Patih Danurejo. Dalam surat itu Keraton Sala berkata kepada Patih Danurejo,

“Apa kamu tidak senang mengganti Sultan di Yogyakarta, sebab Sultan Yogyakarta sudah lanjut usia. Nanti jika Sultan sudah meninggal dan Pangeran Rangga Dirja masih hidup beliau pasti akan menggantikan

Sultan Yogyakarta. Dan seandainya Pangeran Rangga Dirja sudah tiada pasti kamu yang akan diangkat menjadi Sultan Yogyakarta.” Setelah Patih Danurejo mengetahui hal itu maka beliau menjadi sangat bangga.

Kemudian Pangeran Rangga Dirja lalu diserangnya dan dibunuh. Setelah itu mayatnya dimakamkan di pemakaman Banyu Sumurup Yogyakarta. Sedangkan Putri Maduretna yang telah menderita sakit ditanya oleh gurunya sendiri yang bernama Kyai Mochamad Kayah, seorang alim ulama,

“Nek, . . . nanti jika sudah datang waktunya sebaiknya dimakam­kan di mana ?”

“Yang baik supaya dimakamkan di puncak gunung Ngrancang Kencana/Gunung Bancak” jawab Putri Maduretna.

Setelah itu Gusti Maduretna kemudian meninggal dunia dan se­perti yang dimintanya, beliau dimakamkan di puncak gunung Bancak. Menurut dongeng selanjutnya makam tadi dibangun menjadi sebuah cungkup, malahan yang dipergunakan untuk tiang cungkup itu ialah pohon sana yang besar-besar, dan batu merahnya mulai dari Maospati sampai di puncak gunung Bancak, cara mengangkutnya dilakukan dengan jalan beranting yaitu orang-orang berbaris berjejer-jejer dari Maospati sampai di puncak gunung Bancak itu dengan membawa sebuah batu bata yang kemudian diberikan kepada orang di sebelahnya. Demikian terus menerus akhirnya sampai berupa cungkup yang amat besar.

Berhubung Gusti Putri Maduretna dimakamkan di Giripurno, ini sudah barang tentu para kerabat dari ratu mempunyai pikiran, siapa yang harus disuruh menjaga dan memelihara makam itu.

Karena pada waktu itu orang yang paling tua umurnya di Bancak ini bernama Truno Sapa lalu para sanak saudara ingin agar Truno Sapa saja yang disuruh menjaga atau memelihara dan membersihkan sekitar desa Giripurno yang luasnya 405 ha. Dan ini sudah sebagai upah atas jerih payah orang yang disuruh menjaga tadi.

Mengingat Gusti Putri Maduretna sudah memeluk agama Islam dan Truno Sapa masih memeluk agama Budha, sudah barang tentu hal ini tidak cocok, sebab orang yang beragama Budha menjaga dan meme­lihara orang yang beragama Islam, dan selanjutnya ada laporan dari Truno Sapa bahwa dari keluarga Truno Sapa tidak menyetujui, jadi Truno Sapa tidak jadi memegang kepala Perdikan itu. Kemudian cara yang baik mengambil alim ulama dari Klantangan Magetan yang bernama

Kyai Nur Suhada yang disuruh menjaga dan memelihara makam Gusti Putri Maduretna yang kemudian diberi upah seperti yang telah disebut­kan di atas yaitu berupa tanah yang luasnya 405 ha. Ia juga dibebani tugas agar membuat tata tertib desa itu dan selanjutnya Kyai tadi ber­nama Kyai Puru Kunci, yang juga kepala Perdikan.

Diambil dari cerita bahasa Jawa, daerah Magetan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982-1983, hlm. 96.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Magetan, Th. 1982 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s