Panji Wuyung


Pada jaman dahulu kala, yang memerintah Kerajaan Kediri adalah Prabu Lembu Amilihur. Sang Raja mempunyai seorang putra yang gagah perkasa, Sang Panji Seputra namanya. Demikianlah kata yang empunya cerita, Sang Panji menjadi berubah akal, karena ditinggal mati oleh ke­kasihnya, yang sangat dicintainya, yakni Dewi Anggraeni. Sang Panji Seputra jatuh sakit memikirkan kepergian kekasihnya.

Tidaklah mengherankan bila penderitaan sang putra terkasih ini juga dirasakan oleh ayahandanya, Prabu Lembu Amiluhur. Negara seakan ditutup oleh awan mendung yang hitam kelam. Suasana mencekam, karena putra raja Sang Panji menderita sakit yang memang aneh dan lain dari pada yang lain. Para nayaka praja, santanakerajaan dan para kawula, benar-benar ikut prihatin akan penderitaan yang dia­lami oleh raja mereka. Sang Panji sakit, dan berubah ingatan. Tidak ada seorang pun yang mampu menyembuhkannya. Usaha-usaha untuk me­nyembuhkannya selalu mengalami kegagalan. Semua usaha telah dikerja­kan dan tak ada hasilnya.

Akhirnya Sang Raja Lembu Amiluhur, mengambil keputusan agar Sang Panji memperoleh pengobatan dan penyembuhan, dan diantar­kan pergi ke Ngurawan. Adiknya, Sang Panji Jayakusuma diutus untuk mengantarkan Sang Panji Seputra pergi ke Ngurawan.

Demikianlah, akhirnya setelah lama berada di Kerajaan Ngurawan Sang Raja Ngurawan mempunyai rencana akan mengawinkan Sang Panji Seputra dengan putera puterinya, Dewi Sekartaji Galuh Candrakirana. Demikianlah kehendak Sang Raja Ngurawan, Prabu Surenggana.

Para pendeta memberikan restunya, dan mereka meramalkan,

“Hanya Panji Seputra dan Dewi Sekartaji Candrakiranalah yang dapat menurunkan raja-raja Kediri di tanah Jawa ini. Sebab mereka me­rupakan pasangan yang sangat serasi. Lagi pula mereka masih bersaudara sepupu.

Kemudian Sang Raja Kediri mengutus Gunungsari Mlayakusuma Ringin Pitu untuk menghadap Sang Raja Ngurawan untuk menyerahkan surat lamaran, untuk meminang Dewi Sekartaji Galuh Candrakirana.

Setelah sampai di Ngurawan, maka Raden Panji Mlayakusuma Ringin Pitu pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sang Raja NguraWan, Prabu Surenggana. Demikianlah lamaran itu diterima dengan senang hati, namun para utusan tidak diperkenankan pulang ter­lebih dahulu, sebab mereka akan disuguhi dengan makanan-makanan yang lezat dan tarian-tarian yang lemah gemulai yang akan diperagakan oleh para putri-putri Sang Raja Ngurawan. Demikianlah para tamu itu mendapat suguhan yang sangat nikmat, dan hiburan tari-tarian yang sangat mempesona. Betapa lemah gemulainya para penari-penari itu, yang tak lain adalah putri-putri Raja Ngurawan, Prabu Surenggana. Semua pengunjung sangat kagum akan ketrampilan dan keindahan gerak para penari-penari yang cantik jelita. Terlebih Raden Panji Gunungsari. Matanya bagaikan tak berkedip menyaksikan kecantikan salah seorang penari itu yang bernama Dewi Kusumadiningrat. Sebuah perasaan yang sangat aneh telah menjalari tubuhnya. Panah asmara, diam-diam telah menembus jantungnya. Panah asmara yang sangat hebat, telah merasuki dirinya. Demikian hebatnya panah asmara itu, sehingga ketika pertunjuk­kan itu usai, dan para tamu dipersilahkan beristirahat dengan damai dan tenang pada tempat yang telah disediakan, Raden Panji Gunungsari tidak dapat memejamkan matanya sepicing pun. Hanya sang dara cantik jelita yang selalu datang menggoda dalam bayangannya. Sang Panji Gunungsari pun menjadi gelisah.

Karena gejolak hatinya yang maha hebat, maka Raden Panji Gunungsari pun berbuat nekad, di luar kesadaran dan penalarannya sebagai seorang tamu dan ksatria sejati. Menurut kehendak hatinya, maka Raden Panji Gunungsari pun memberanikan diri masuk ke dalam keputren pada malam itu juga, untuk menemui sang dara cantik jelita yang telah merampas hatinya, Dewi Kusumadiningrat.

Tetapi betapa terkejut Sang Panji Gunungsari, ketika menyaksi­kan adegan yang sangat menyakitkan hatinya dalam taman keputren tersebut. Sang Dewi Kusumadiningrat sedang bercumbu rayu dengan Raden Panji Jayakusuma, adik Sang Panji Seputra. Kemarahan Sang Panji Gunungsari meluap sampai ke ubun-ubun. Akhirnya terjadilah perkela­hian yang sangat seru antara dua makhluk yang sedang dilanda asmara itu, memperebutkan seorang dara jelita, Dewi Kusumadiningrat.

Demikian Raden Panji Gunungsari bertempur dengan segala kemarahan­nya. Dan Panji Jayakusuma pun mempertahankan diri dengan gigihnya. Sebuah perkelahian yang betul-betul seru dengan taruhan jawa.

Namun akhirnya, Raden Panji Jayakusuma berhasil melukai Raden Panji Gunungsari. Tak kuat menahan sakitnya yang luka, dan tak kuat menahan gempuran-gempuran Panji Jayakusuma yang semakin

Diambil dari cerita bahasa Jaya, daerah Kediri.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, 1982-1983, hlm. 78-79.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri, Kediri [Kota], Sejarah, Th. 1982 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s