Terjadinya Desa dan Kampung di Sekitar Ngerit


Konon kata sahibul hikayat, pada jaman dahulu di daerah Ngerit adalah seorang puteri yang cantik jelita. Kecantikan sang puteri begitu termasyhurnya, bagaikan bidadari yang turun dari Kahyangan. Demiki­anlah, karena kecantikannya ini, banyak orang tergila-gila padanya, tua muda, kaya miskin, pembesar atau pun rakyat biasa berbondong-bon­dong ke tlatah Ngerit hendak melamar sang dara cantik jelita dan ru­pawan.

Konon, di sekitar Ngerit, tinggallah seorang lelaki, pelarian dari Kerajaan Mataram. Pekerjaan lelaki itu sekarang adalah membuat kendi, yakni semacam tempat air untuk minum yang terbuat dari tanah liat. Kepada lelaki inilah kebanyakan pendatang dari tlatah lain itu minta keterangan tentang arah dan tempat sang puteri cantik jelita bermukim. Karena sangat banyaknya orang yang bertanya kepadanya, lama kelama­an lelaki ini menjadi bosan dan ada kesan ketakutan yang sangat pada dirinya, lantaran pendatang-pendatang itu beraneka ragam corak dan tampangnya. Kebanyakan pendatang ini membawa perlengkapan sen­jata yang lengkap, dengan tampang yang seram. Ketakutan makin ber­tumbuk dalam diri sang lelaki pembuat kendi ini.

Akhirnya lelaki ini tidak kerasan lagi tinggal dekat tlatah Ngerit, maka ia melarikan diri ke daerah sebelah utara, menyembunyikan dirinya. Dalam pelariannya itu ia sampai pada sebatang pohon pucung yang sangat besar. Kemudian dia beristirahat di bawah pohon pucung tersebut. Karena lelahnya lalu dia bersandar pada pohon tersebut. Rupa­nya di sini dia mendapat kedamaian dan kemudian menjadi perintis dalam mendirikan desa di tlatah ini. Oleh karena itu kampung tersebut disebut desa Pucung, dan desanya disebut desa Senden. (senden artinya bersandar).

Konon kabarnya para raja yang hendak melamar sang puteri Ngerit banyak yang naik kuda. Setiap sore kuda-kuda itu dimandikan di sebuah sungai (kedung). Oleh karena itu kemudian desa itu disebut desa Kedhung Jaran.

Di antara para pelamar itu, adalah seorang bangsawan membawa mahar berupa kerbau dengan anaknya (gudel). Pada siang hari yang pa­nas, dibiarkan kerbau-kerbau itu berendam di sungai. Oleh karena itu tempat itu lalu diberi nama Kedung Gudel.

Di sebelah timur daerah ini dibuatlah sebuah gardu, sebagai tempat istirahat para pengunjung dan para pelamar. Tempat itu kemudi­an disebut desa Gerdon. (dari kata gerdu).

Rangga Pesu menempati.daerah paling Barat dengan membawa bala tentara yang lengkap dengan peralatan senjata perang dan membawa emas, intan, berlian dan harta benda yang lain.

Pada pagi hari mahar tersebut dijemur seperti batu-batuan, (Klatak), Oleh sebab itu desa tersebut disebut desa Klathak. Daerah tersebut di­jaga ketat oleh bala tentara Rangga Pesu, tidak seorang pun diperkenan­kan memasuki wilayah itu.

Pada suatu hari ada barisan pelamar yang hendak melewati wilayah itu. Para prajurit Rangga Pesu melarang mereka, tetapi mereka bersikeras untuk lewat di wilayah itu. Terjadilah ketegangan dan perse­lisihan pendapat yang mengakibatkan peperangan yang tak terkendali. Dalam peperangan ini jatuh banyak korban. Bangkai mereka kemudian dikuburkan di sebelah utara jalan. Sejak saat itu daerah tersebut disebut Jaga Satru (jaga musuh). Daerah sebelah selatan dijaga ketat oleh bala­tentara Rangga Pesu. Semua selalu siap dengan senjatanya masing-masing. Senjata-senjata itu tidak pernah lepas dari diri mereka. Mereka selalu bersanding dengan senjatanya. Oleh karena itu maka desa itu disebut Sumandhing.

Setelah itu Rangga Pesu dan balatentaranya berbaris naik kuda menuju ke selatan, siap melamar ke tempat putri Ngerit. Cambuk itu diuntai dengan rambut kuda dan ujung cambuk seperti jambe gawe yang ditiup angin bergerak ngibar-ngibas (negar). Oleh sebab itu maka dusun itu disebut desa Gawe dan di sebalah selatannya disebut desa Tegar. Adapun setelah sampai di Ngerit bala tentara Rangga Pesu disambut oleh Raden Demang Tangar, dan terjadilah peperangan yang seru dan gempar. Sehingga pertapaan yang indah itu menjadi berantakan, bunga-bunga semua layu. Demang Tangar dan Rangga Pesu itu sama kesakti­annya yang juga ditambah dengan lepasnya senjata meriam Demang Tangar menuju ke utara mengenai pertapaan tadi. Dan sekarang tempat itu berujud gua Ngerit yang panjangan 25 meter.

Akhirnya semua dapat masuk ke dalam lubang tadi. Pendek kata pertem­puran itu sangat seru dan gempar sebab keduanya saling bisa memasuk­kan. Demang Tangar juga bisa memasukkan, Rangga Pesu demikian juga sebab sama kekuatannya. Sang putri bertambah heran karena kesaktian Raden Mas Demang Tangar dan Rangga Pesu. Kemudian sang putri ber­kata: “Sekarang saya beritahu, siapa yang lebih unggul itulah yang wajib menjadi suami saya”. Kemudian keduanya mulai mengadakan perang lagi, saling mem­banting, saling menusuk. Setelah sang putri mengerti bahwa keduanya punya kesaktian yang sama, maka ia lalu bersemadi mohon kepada Sang Hyang Widi agar diberi sebuah kapal yang besar sebagai tempat untuk berperang dan selanjutnya minta agar kapal itu diberi air. Jadi seketika itu juga di tempat itu terjadi banjir besar yaitu banjir yang datang bukan dari hujan. Tetapi Raden Mas Demang Tangar dan Rangga Pesu tidak takut dan mereka dapat menepi ke atas bukit. Sang putri berada di tengah-tengah kapal. Raden Mas Demang Tangar dan Raden Rangga Pesu kemudian berunding, tentang bagaimana caranya mendekati tempat yang dipakai sang putri tadi. Kemudian Raden Mas Rangga Pesu pun tidak mau ketinggalan berkat kesatian kedua orang itu beliau meng­ubah dirinya menjadi yuyu runipung: Setelah itu kemudian mereka ma­suk ke dalam air iring-iringan menuju ke utara yang jauhnya kurang lebih 300 meter. Airnya bergelombang dan akhirnya menjadi surut/kering. Maka kedhung itu kemudian menjadi Kedhung Grombyang, hanya tinggal air kedhung di kiri kanan kapal tadi yang berwujud lahar dan tempat -itu sekarang dinamakan “Kedhung Kawah”. Air kedhung tadi walaupun musim kemarau tidak pernah surut, dapat dipergunakan untuk mer airi sawah di kiri kanannya kurang lebih 25 ha. Terowongan itu tadi airnya cukup deras dan lama kelamaan menjadi sebuah kedhung. Tero­wongan itu bergaris tengah satu setengah meter dan di dalamnya merupa­kan sebuah kedung yang airnya tidak pernah kering. Pada waktu kema­rau ikan-ikan yang banyak sekali hidup dalam kedhung itu diambil oleh orang.

Terceriteralah, Raden Pesu dan Demang Tangar sudah menjelma menjadi manusia lagi, datang ke tempat sang putri. Tetapi sang putri sudah tidak ada, karena telah meninggalkan tempat itu.

Dalam pencariannya itu dari kejauahan Rangga Pesu melihat wajah sang putri. Sang putri sedang bersembunyi di balik batu, dan hanya kepalanya saja yang kelihatan (wates tenggak). Oleh karena itu dusun itu kemudian disebut sebagai Nggakatu (setengah tertutup batu).

Rangga Pesu dan Demang Tangar terus mengikuti sang putri yang telah meninggalkan tempat itu. Demi diketahuinya bahwa ia sedang di­buntuti, sang putri pergi ke arah utara. Kurang lebih beberapa ratus meter dari Nggakatu, Rangga Pesu dapat melihat sang putri lagi, sedang berada di dekat sebuah kedung. Tetapi ketika Rangga Pesu berusaha mendekati, tiba-tiba sang putri tersebut menghilang. Dengan perasaan wajib menjadi suami saya”.

Kemudian keduanya mulai mengadakan perang lagi, saling mem­banting, saling menusuk. Setelah sang putri mengerti bahwa keduanya punya kesaktian yang sama, maka ia lalu bersemadi mohon kepada Sang Hyang Widi agar diberi sebuah kapal yang besar sebagai tempat untuk berperang dan selanjutnya minta agar kapal itu diberi air. Jadi seketika itu juga di tempat itu terjadi banjir besar yaitu banjir yang datang bukan dari hujan. Tetapi Raden Mas Demang Tangar dan Rangga Pesu tidak takut dan mereka dapat menepi ke atas bukit. Sang putri berada di tengah-tengah kapal. Raden Mas Demang Tangar dan Raden Rangga Pesu kemudian berunding, tentang bagaimana caranya mendekati tempat yang dipakai sang putri tadi. Kemudian Raden Mas Rangga Pesu pun tidak mau ketinggalan berkat kesatian kedua orang itu beliau meng­ubah dirinya menjadi yuyu runipung: Setelah itu kemudian mereka ma­suk ke dalam air iring-iringan menuju ke utara yang jauhnya kurang lebih 300 meter. Airnya bergelombang dan akhirnya menjadi surut/kering. Maka kedhung itu kemudian menjadi Kedhung Grombyang, hanya tinggal air kedhung di kiri kanan kapal tadi yang berwujud lahar dan tempat -itu sekarang dinamakan “Kedhung Kawah”. Air kedhung tadi walaupun musim kemarau tidak pernah surut, dapat dipergunakan untuk mer airi sawah di kiri kanannya kurang lebih 25 ha. Terowongan itu tadi airnya cukup deras dan lama kelamaan menjadi sebuah kedhung. Tero­wongan itu bergaris tengah satu setengah meter dan di dalamnya merupa­kan sebuah kedung yang airnya tidak pernah kering. Pada waktu kema­rau ikan-ikan yang banyak sekali hidup dalam kedhung itu diambil oleh orang.

Terceriteralah, Raden Pesu dan Demang Tangar sudah menjelma menjadi manusia lagi, datang ke tempat sang putri. Tetapi sang putri sudah tidak ada, karena telah meninggalkan tempat itu.

Dalam pencariannya itu dari kejauahan Rangga Pesu melihat wajah sang putri. Sang putri sedang bersembunyi di balik batu, dan hanya kepalanya saja yang kelihatan (wates tenggak). Oleh karena itu dusun itu kemudian disebut sebagai Nggakatu (setengah tertutup batu).

Rangga Pesu dan Demang Tangar terus mengikuti sang putri yang telah meninggalkan tempat itu. Demi diketahuinya bahwa ia sedang di­buntuti, sang putri pergi ke arah utara. Kurang lebih beberapa ratus meter dari Nggakatu, Rangga Pesu dapat melihat sang putri lagi, sedang berada di dekat sebuah kedung. Tetapi ketika Rangga Pesu berusaha mendekati, tiba-tiba sang putri tersebut menghilang. Dengan perasaan yang sangat sedih Rangga Pesu mencari sang putri ke semua penjuru alam Namun usahanya itu sia-sia. Alih-alih sang putri bersembunyi di tepi sebuah kedung. Ketika Ki Demang Tangar mengetahuinya, ia mencoba untuk mengintainya. Niatnya sang putri akan ditubruk dari belakang. Te­tapi ketika mendekat, ternyata sang putri sudah menghilang lagi. Tak la­ma kemudian, sang putri sudah kelihatan lagi sedang berjalan-jalan di se­belah utara sungai, tiada berapa jauh dari sungai itu. Karena sangat jeng­kelnya maka Demang Tangar dan Rangga Pesu melemparinya dengan ba­tu-batu hitam di kali itu.

Sekarang kedung tersebut disebut Kedung Sungsang, dan bukit di atas Kedung Sungsang itu disebut dusun Tempel, sebab dipakai menem­pel sang putri, dan sebelah utara sungai disebut dusun Mbalang (melem­par).

Konon di dusun Mbalang tadi sang putri memakai pakaian yang bergemerlapan bagai bidadari, dan jalannya sangat menggoda pada De­mang Tanggar dan Rangga Pesu. Maka sampai sekarang di dusun Mbalang banyak perempuan yang cantik-cantik, dan suka tersenyum-senyum dan tertawa kepada lelaki.

Putri tadi berlari terus ke arah utara kurang lebih lima ratus depa dari tempat itu. Setelah itu kurang tengah hari sang putri melewati sungai du­sun Mbalang, dan mencuci muka pada sebuah mata air yang tertimpa matahari, berkilatanlah air di sumber itu. Ketika Demang Tangar dan Rangga Pesu melihat sang putri, cepat-cepat ia menuju mata air tempat sang pu­tri mencuci muka tadi. Tetapi sang putri pun segera menghilang. Belik itu sekarang disebut belik Mileng, dan airnya tak akan pernah ke­ring. Sekarang belik itu merupakan pemandangan yang sangat menyegar­kan, dinaungi oleh pohon trembesi yang sangat rindang. Di bawah belik itu kemudian dipelihara bermacam-macam ikan. Sebelah selatan belik itu merupakan padang rumput, yang rumputnya tumbuh dengan sangat tingginya. Kemudian sang putri di situ kelihatan sedang berjalan di ti­kungan jalan. Melihat sang putri, Demang Tangar dan Rangga Pesu ke­mudian mengejarnya. Usaha mereka itu semua akan sia – sia belaka. Se­bab sang putri pada hakekatnya bisa menghilang. Dia adalah seorang pu­tri yang sakti. Dan memang sesungguhnya sang putri ingin mempermain­kan mereka belaka, menggoda mereka saja.

Karena Demang Tangar dan Rangga Pesu sudah terlanjur tergila-gila ke­pada sang putri, maka kemana pun sang putri tetap akan dibuntutinya. Maka selanjutnya belik di sebelah barat itu disebut dusun Kangkung. Di sebelah timur sebuah selokan Demang Tangar seperti melihat sang putri sedang menyulam bajunya yang sobek, di dekat belik itu. Ma­ka belik itu kemudian dinamakan belik Jahit. Konon kabarnya putri yang mencuci muka di beli Jahit itu akan mempunyai keturunan yang cantik, bagaikan bidadari.

Putri tadi tidak dapat ditemukan oleh Demang Tangar dan Ra­ngga Pesu. Namun sebentar kemudian sang putri menampakkan diri lagi di sebuah belik. Dan ketika didekati kemudian menghilang. Akhirnya De­mang Tangar dan Rangga Pesu kelelahan. Mereka beristirahat di sebuah pohon kepuh yang sangat besar. Dukuh di sebelah baratnya disebut dusun Gemawang.

Diambil dari ceritera bahasa Jawa, daerah Trenggalek

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982-1983, hlm. 68-72.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri, Legenda, Trenggalek dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s