Kanjeng Sinongkel


Pada jaman dulu di desa Pramban, Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek, tepatnya daerah Silakar dan Jong Biru ini para abdi dalem mengelami kesengsaraan. Banyak penyakit yang dideri­ta, menanam tak tumbuh, hama begitu banyak.

Tersebut seorang tokoh yang ber­nama Kanjeng Sinongkel. Tentang nama Kanjeng Sinongkel ini belum -ada keterangan yang pasti apakah ini memang nama asli atau samaran, atau hanya sebagai penyebutan yang menunjukkan bahwa tokoh ini salah satu Kanjeng atau Bupati yang ditaklukkan.

Keadaan ini membuat keprihatinnan Kanjeng Sinongkel, beliau yang merasa menjadi sesepuh mereka. Pagi dan malam Kanjeng Sinongkel tak henti- hentinya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar daerah Silakar dan Jong Biru mendapat ketenteraman, kemakmuran dan kebahagiaan, ahirnya Kanjeng Sinongkel memdapatkan ilham.

Menurut  petunjuk ilham uang didapatkan  Kanjeng Sinongkel, bahwa daerah tersebut dapat sejah­tera dan tenteram jika di Jong Biru ditumbalkan Kijang Kencana “bubat kawat mata kumala bal karah tracak waja”,  di karenakan pada salah satu tempat di Jong Biru itu ada permukiman kerajaan roh-roh halus dan pemimpinnya bernama Bancolana dan Sabukalu, serta memakai  Baju Duya  yaitu baju yang dibuat dari sobekan-sobekan kain yang beraneka warna, sewaktu berhadapan dengan si Bancolana.

Setelah menerima ilham itu, Kanjeng Sinongkel mencari jalan bagaimana agar bisa bertemu dengan si Bancolana dan si Sabukalu serta rakyatnya, agar mereka dapat ditaklukkan dan tidak mengganggu lagi.

Sukar untuk dikatakan bagaimana upaya serta syarat- syarat yang harus dilakukan oleh Kanjeng Sinongkel dan para bawahannya, untuk melawan si Bancolana dan si Sabukalu serta rakyatnya, sehingga membuat pada akhirnya membuat Bancolana dan Sabukalu beserta prajuritnya dapat ditaklukkan dan berjanji untuk tidak mengganggu lagi masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut.

Maka sejak itu, setiap setahun sekali di bulan Sela, tepat hari Jum’at, sebagai peringatan, diadakanlah upacara yang dinamakan upa­cara Sinongkelan untuk pembersihan desa. (Upacara bersih desa).

Diambil dari cerita bahasa Jawa, daerah Trenggalek.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Leo Indra Ardiana. Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, (1982-1983), 1984, hlm. 84-86.

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Th. 1984, Trenggalek dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s