Erlangga


Ibu kota Galuh Watu Mataram telah musnah oleh kobaran api karena serangan Shri Haji Wora Wari. Banyak pembesar kerajaan yang gugur dalam pertempuran. Erlangga berhasil meloloskan diri dari bahaya maut lari meninggalkan medan laga, sambil menggendong isterinya Shri Ishana Dharmapadni yang terluka parah.

Berjalan sangat lambat menuju hutan terdekat, setiap kali berhenti memperhatikan keadaan isterinya. Perjalanannya hanya diiringi oleh Mpu Narotama seorang senopati. yang sangat setia. Tidak tahu apa yang harus dikerjakan, dalam hati hanya ingin mencari kesembuhan bagi isterinya tercinta. Namun demikian karena jauh dari tempat pengobatan serta perumahan penduduk yang kiranya dapat dimintai pertolongan, pada akhirnya Shri Ishana Dharmapadni meninggal di atas pangkuan suaminya.

Betapa hancur hati Erlangga ditinggal mati oleh isteri tercinta Erlangga adalah seorang satria yang tangguh berdarah perwira, maka ia pun dapat mengendalikan kesusahannya, menyerahkan semuanya kepada Sang Hyang Pencipta. Perjalanan Erlangga menelusup belantara, pada akhirnya sampailah di Wonogiri diterima oleh Mpu Kanwa. Di padhepokan Mpu Kanwa, Erlangga dididik dan dilatih berbagai ilmu jayakawijayan, kedigdayaan, dan kaprajuritan, serta ilmu pemerintahan. Konon, kota Galuh Watu yang telah lebur oleh serangan Shri Haji Wura Wari, ditinggalkan kosong begitu saja tanpa menetapkan penguasa baru. Melihat kenyataan tersebut maka para brah-mana yang sangat mencintai Erlangga, meminta dan mendukungnya untuk menjadi raja mewarisi tradisi Shri Ishana. Erlangga pun mulai menunjukkan tanggung jawabnya, dengan dibantu oleh para brahmana beserta para muridnya, Erlangga mendirikan keraton baru di Kahuripan.

Sedikit demi sedikit Erlangga berusaha memulihkan kejayaan yang hilang. Para raja di Gagelang, Magehan, Wuratan dan Wengker telah dikuasainya. Pada akhirnya sampailah waktunya Erlangga membalas dendam terhadap Shri Haji Wura Wari. Untuk itu Erlangga membentuk suatu satuan pasukan yang sangat kuat untuk meng-gempur negeri Wura Wari Bang. Dalam pertempuran yang sangat menentukan, Shri Haji Wura Wari dapat ditangkap dan dibunuh oleh Erlangga.

Keberhasilan pemulihan kejayaan Galuh Watu tersebut tidak terlepas dari kesetiaan dan peranan yang diberikan oleh para senopatinya antara lain ialah Mpu Narotarna, Mpu Niti, Mpu Bama, Mpu Manuritan serta para senopati lainnya. Setelah berhasil dalam pemulihan kejayaan negerinya, Erlangga baru bersedia menduduki singgasana yang diperuntukannya, naiknya keatas tahta ditandai dengan upacara besar yang penuh kemuliaan, disaksikan oleh segenap raja bawahan, para brahmana, serta seluruh nanarnya dan pasukannya. Erlangga naik tahta Kahuripan dengan gelar Shri Maharaja Rake, Halu Shri Lokeshwara Dharma-wangsa Erlangga Anantawikrama Tunggadewa (1019 -1041).

Mpu Narotama yang sangat setia dalam Segala keadaan, Raja di Kahuripan, sedangkan Mpu Niti ditetapkan sebagai panglima perang Kahuripan. Upacara besar tersebut dilengkapi dengan pagelaran berbagai kesenian, termasuk pagelaran wayang dengan mengambil cerita Harjuna Wiwaha yang ditulis oleh Mpu Kanwa. Hari masih teramat pagi, bumi masih enggan menanggalkan selimutnya yang berupa kabut tebal menebar merata menutupi kota Kahuripan. Samar-samar nampak sepasukan berkuda yang keluar dari gerbang keraton ternyata adalah Shri Erlangga yang diiriingi oleh beberapa Pembesar kerajaan turun melihat kesejahteraan para kawulanya, berjalan dari desa ke desa. Perjalanan Shri baginda sampai di desa Kelagen, disana Shri Baginda menemukan sawah dan pategalan yang kering kerontang tanaman tidak mau tumbuh karena kekurangan air. Tanahnya memerah keras tandus dan pecah pecah. Sebaliknya pada waktu perjalanan telah sampai di Waringin Sapta, Shri baginda melihat tanaman rakyat yang rusak karena dilanda air bah sungai Brantas yang mengalir deras.

Seketika itu juga Shri Erlangga memerintahkan untuk membuat bendungan raksasa di Waringin Sapta, yang sangat bermanfaat untuk menghindari banjir dan mengairi sawah ladang yang kekeringan Pada tahun 1041, Shri Erlangga merasa telah cukup meletakkan dasair-dasar pemerintahan yang kuat, maka baginda berkeinginan untuk meninggalkan tahta kerajaan. Sehubungan dengan itu, dipanggilah putri sulungnya Sang Maha Mantri 1 Hino Sanggramawijaya, yang telah lama dipersiapkan sebagai pengganti raja. Namun demikian teryata Shri Sanggramawij aya dengan rendah hati menolak tawaran dari ayahandanya, justru ia mohon ijin untuk pergi bertapa sebagai pendeta suci di pertapaan Pucangan.

Dengan berat hati terpaksa Shri Erlangga mengabulkan permohonan putri sulungnya, serta kepada sang putri Shri baginda menganugerahkan nama Rara Suci atau Kilisuci. Sepeninggal Kilisuci dari penghadapan, nampak Shri Erlangga kebingungan untuk menetapkan pilihan siapa yang pantas dinobatkan sebagai raja Kahuripan. Sekurang-kurangnya ada dua orang bangsawan yang paling berhak untuk menggantikannya sebagai raja Kahuripan, yaitu adik Kilisuci yang bernama Mapanji Garasakan ” dan keturunan langsung Shri Darmawangsa yaitu Samarawijaya.

Segeralah Shri baginda memanggil Aiyya Bharad yang juga terkenal dengan sebutan Mpu Barada, untuk diminta membantu memecahkan persoalan yang sedang dihadapi baginda. Dalam hubungan ini Mpu Barada menyampaikan saran agar negeri Kahuripan dibagi dua untuk menghindari perselihan sesama keluarga. Mpu Barada diminta pula untuk membagi Kahuripan menjadi dua bagian.

Konon, sang brahmana yang ternyata sangat sakti segera menggunakan mantranya, mengambil air yang diwadahi kendi emas, terbang melayang di atas Kahuripan sambil mengalirkan air yang berada di dalam kendi.

Air yang mengalir jatuh ke bumi menimbulkan suara menggelegar menggetarkan, bumi bagai dibelah, tanah keras tergempur oleh air yang mengguyur, mengaduk perut bumi sehingga sumber air yang ada di dalamnya meluap keluar mengalir deras jadilah sebuah sungai yang disebut kali Lamong. Kahuripan telah berhasil dibagi dua, yaitu Janggala dengan ibu kotanya Kahuripan serta Panjalu dengan ibu kotanya Dahanapura.

Segeralah Shri baginda memanggil kedua bangsawan untuk diwisuda sebagai raja, Mapanji Garasakan sebagai raja Janggala dengan gelar Shri Jayantaka, sedangkan Samarawijaya dinobatkan di Panjalu. Erlangga segera turun dari tahta, menjalani hidup sebagai pertapa dengan nama Resi Gentayu. Kisah ini disajikan dalam rakitan tembang. (MEGATRUH, ASMARADANA, MIJIL, SINOM, PANGKUR,DURMA)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: RM. Budi Udjianto, HN. Banjaran Kadiri, Kediri: Pemerintah Kota Kediri, 2008

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri, Kediri [Kota], Legenda, Th. 2008 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Erlangga

  1. yoscan berkata:

    suatu sejarah yang mengagungkan bumi nusantara,dg belajar sejarah maka rasa ingin tau akan sejarah nusantara semakin bertambah,jd d sinilah sy bs tau dan menghargai betapa luhur sebuah sejarah nusantara..

  2. Ping balik: nama bayi erlangga | Informasi Terkini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s