Untung Suropati, Penempaan Kyai Embun


PROSES PENEMPAAN DIRI OLEH KYAI EMBUN

Di dalam penjara, Untung merasakan pahitnya hidup sebagai tawanan Kompeni Belanda. Ia mulai melihat dan merasakan siksaan dan penghinaan yang dilakukan oleh Kompeni terhadap para tawanan. Timbul niatnya untuk melarikan diri dari penjara. Sambil menunggu waktu yang baik Untung mulai memperhatikan keadaan sekitar penjara, pintu penjara, jeruji-jeruji jendela diperhatikan dengan seksama. Demikian pula waktu-waktu yang dianggap paling tepat untuk menyerang penjaga penjara. Hatinya bertambah mantap ketika ia mendapatkan teman yang setia di penjara tersebut ialah Wirayuda. Bagaimanapun keadaannya, ia harus lari.

Lebih baik mati daripada sepanjang waktu hanya menerima penghinaan dan penderitaan. Demikianlah, niat yang sudah lama direncanakan tersebut akhirnya dapat dilaksanakan juga. Ia dapat memukul roboh seorang penjaga penjara. Kemudian ia berganti pakaian dengan mengenakan pakaian penjaga penjara. Dengan bantuan teman-teman sesama tawanan, ia dapat memukul satu-persatu penjaga penjara tersebut, akhirnya ia dapat melarikan diri dari penjara bersama beberapa dari temannya termasuk Wirayuda dengan membawa senjata rampasan milik para penjaga penjara. Sekarang apa yang direncanakan telah tercapai, mereka dapat menghirup udara aengan beoas sebagai orang – orang yang ” MERDEKA ” dan tidak berstatus budak lagi. Setelah kawan-kawannya mengetahui keberanian yang luar biasa dari Untung, ditambah dengan kecerdikannya di dalam memimpin teman-temannya maka ia oleh teman-temannya tersebut diangkat sebagai pimpinan mereka. Sungguh Untung adalah seorang pemimpin yang sanggup berdiri tegak di depan.

Untung bersama dengan teman-temannya mulai mengadakan petualangan di sekitar kota Batavia. Kebenciannya terhadap Kompeni Belanda ditunjukkan dengan mengadakan pengadangan terhadap patroli Belancla. Dalam petualangan ini, banyak serdadu-serdadu Kompeni yang sebenarnya dikerahkan untuk menangkap Untung, justru terjebak dengan siasat yang dilakukan oleh Untung dengan kawan-kawannya. Dalam operasinya itu, Untung dan pasukannya tidak pernah menetap lama di satu tempat. Apabila di satu tempat dirasakan tidak aman, ia segera pindah ketempat lain. Ia kemudian menyeberangi kali Ciliwung menuju ke arah Selatan dan terus ke Jagamonyet di mana Kyai Embun dan anak buahnya bertempat tinggal. Melihat kedatangan Untung, Kyai Embun menjadi sangat terkejut karena ia tidak mengira kalau Untung dapat melarikan diri dari penjara. Waktu itu Kyai Embun sedang bersiap-siap akan meninggalkan daerah Jagamonyet karena ia selalu dikejar-kejar oleh Belanda. Kemudian mereka bergabung dan mening­galkan Jagamonyet menuju ke arah sebelah Barat kali Angke. Di sinilah mereka menyusun kekuatan untuk mengadakan serangan-serangan selanjutnya.

Untung yang selama ini banyak melakukan petualangan dengan mencegat dan membunuh patroli-patroli Belanda, merampas dan merampok harta milik orang-orang kaya sebagai ungkapan rasa dendamnya kepada Kompeni Belanda, selanjutnya oleh Kyai Embun dibina dan diarahkan agar mempunyai kepribadi­an yang kuat. Hal ini dilakukan oleh Kyai Embun karena ia tahu bahwa Untung mempunyai kemauan dan kemampuan untuk membebaskan bangsanya dari bentuk-bentuk pemerasan dan penindasan Kompeni. Kyai Embun yang diakui sebagai orang tua di antara mereka dan sangat disegani itu, kemudian dite – tapkan sebagai pembimbing dan penasehat. Oleh Kyai Embun, Untung dibawa ke Depok untuk diperkenalkan dan sekaligus meminta petunjuk kepada seorang guru yang dituakan oleh Kyai Embun yaitu Syekh Lintung.

Shekh Lintung sangat gembira menerima kedatangan Kyai Embun dan sikapnya terhadap Untung sangat mengesankan. Sebagai seorang alim yang sudah banyak bergaul dengan segala lapisan masyarakat, ia melihat kelebihan Untung dalam segala hal, khususnya kepribadian yang kuat. Karenanya, ia menyarankan agar Kyai Embun dan Untung dapat tinggal di Depok untuk beberapa saat lamanya. Di sinilah pribadi Untung dimatangkan sehingga di samping ia diberikan tambahan ilmu beladiri dan ketrampilan yang lain, ia juga banyak diberikan prinsip-prinsip hidup.

Untung kemudian tidak lagi hidup berpetualangan, akan tetapi telah mempunyai prinsip perjuangan, untuk melenyapkan penindasan dan pemerasan oleh siapa pun juga terhadap bangsanya. Tidak jarang ia harus beradu kekuatan fisik walaupun dengan oknum-oknum sebangsa apabila ia memang mengganggu ketentraman rakyat dan merampas hak-hak rakyat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Tim Pembudayaan Sejarah UNTUNG SUROPATI, Untung Suropati dan Semangat Juangnya, Kabupaten Pasuruan, Pasuruan, 1988, hlm.10

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pasuruan, Pasuruan [Kota], Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s