Musik Banyuwangi


Musik Banyuwangi Antara Jawa dan Bali

Lho, ini kan Bali! Tapi… Jawa-nya juga ada! itulah barangkali gumam orang yang kali pertama mendengarkan musik (baca: musik tradisional) Banyuwangi yang kemudian akan menyimpulkannya: Ya Bali, ya Jawa.

Kenyataannya memang posisi dua etnis itulah pemberi corak kelahiran nuansa musik khas Banyuwangi. Irama dua etnis yang berbeda saling bergayut, kemudian mengakar pa­da satu rumpun: Jawa dan Bali.

Sutedjo Hadi, musisi tradisional Banyu­wangi menuturkan pengalamannya ketika mengikuti tim kesenian Jatim yang mewakili In­donesia pada Festival Kesenian Rakyat Asia ke-4 di Hongkong beberapa tahun lalu. Ketika musik Banyuwangi di tampilkan, semula ba­nyak yang menyangka musik itu adalah musik Bali. Ternyata, mereka yang mengenai betul musik Bali, lalu bertanya-tanya: Musik apakah ini?

Di sinilah soalnya. Musik Banyuwangi se­belum disimpulkan memang perlu meneliti keberadaannya yang dikailkan dengan latar bela­kang sejarahnya.

Dari beberapa keterangan yang dikum­pulkan, disebutkan kelahiran musik Banyuwa­ngi ini jika diukur jarak waktunya, tergolong muda. Dan pertumbuhannya diperkirakan menjelang ahad ke-19 berakhir. Disebutkan pula bahwa berbagai faktor banyak mempengaruhi kelahiran musik Banyuwangi.

Faktor geografis, jelas Banyuwangi yang berada di Jawa tak akan lepas dari urat antropologis Jawa. Di sisi lain, karena dekat dengan Bali, akan mudah tersentuh oleh tata budaya tetangganya itu.

Faktor sejarah, sejak masa lampau Banyu­wangi memiliki ikatan tradisi dengan Bali. Menurut penelitian, tradisi itu juga diikat secara politis. Sejarah mencatat, zaman kerajaan Blambangan, dan Macanputih, Banyuwangi merupakan protektorat Bali, sehingga bagaimana pun Bali memberikan nuansa pada tata budaya Banyuwangi.

Namun, kesatuan etnis dengan Jawa me­nyebabkan Bali lak sepenuhnya merebut tata budaya Banyuwangi. Jawa tak bisa ditinggal­kan. Yang terjadi: Akulturasi Budaya.

Sedang kaitannya dengan politik masa lampau tersebut, tak menyebabkan terjadinya betot-membetot pada kesatuan budaya tadi. Ini terlihat pada jenis nada musiknya. Bali adalah pelok, sedang Banyuwangi slendro.

Musik Banyuwangi mempunyai guru lagu. Ini bisa disimak pada gending-gending Gandrung (baca : Gandrung Banyuwangi), Angklung, Kuntulan, dan Damarulan.

Sedang musik sebagai iringan pada seblang – upacara sakral bersih desa terdengar sekali kebersahajaan dan kesederhanaannya, namun musik yang dilantunkan tetap laras dan indah. Ada kemungkinan, musik inilah sebagai pemula musik Banyuwangi.

Musik pada sajian Gandrung, nadanya sa­ngat khas. Peralatannya ijiusik untuk mengi­ringi tarian Gandrung, pada mulanya hanya berupa kendang, kluncing (triangel), dan gong, serta ditambah gamelan bernama saron. Sejak tahun 1920-an, seorang Belanda pemilik perke­bunan di Tamansari, Kec. Glagah, menamba­hinya dengan dua biola yang sampai saat ini letap dipergunakan.

Patanah, seorang bekas penari Gandrung tahun 1920-an yang bertempat tinggal di Desa Singojuruh, Kec. Singojuruh, pernah menjelas­kan, grup kesenian Gandrung yang diikutinya selalu menggunakan rebab bualan sendiri. Rebab yang terbuat dari kayu dengan dawai dari kawal halus itu memiliki tinggi sekitar 1,25 me­ter.

Dengan masuknya biola, kemudian saron tak digunakan lagi. Perkembangan berikutnya dan sampai kini, peralatan musik Gandrung adalah dua biola, satu kendang, satu kluncing, dan satu gong besar.

Musik Gandrung sangat institiktif. Jika orang mendengarnya, tak terasa akan menggerakkan indranya mengikuti irama musik itu. Kesenian Gandrung cukup dikenal, bahkan su­dah beberapa kuli tampil di mancanegara. Tak heran jika kemudian menjadi identitas Banyuwangi. “Ingat Banyuwangi, ingat Gandrung”  atau “Ingat Gandrung, ingat Banyuwangi”. De­mikian orang luar Banyuwangi berujar, walau sebenarnya Bali dan Lombok juga memiliki kesenian bernama Gandrung.

Musik angklung Banyuwangi terbuat dari bilah-bilah bambu. Dulunya, tak dilengkapi dengan instrumen dari logam seperti sekarang ini. Jenisnya bermacam-macam. Ada Angklung, Paglak, Angklung Caruk, Angklung Tetak, Angklung Dwilaras, dan Angklung Blambangan.

Pada mulanya, angklung didendangkan orang di dangau tengah sawah sembari menunggui padi yang menguning. Tak jarang pula di­iringi dengan seruling yang melahirkan nada- nada sentimentil. Jenis angklung inilah yang disebut Angklung Paglak.

Tahun 1920-an, Kik Druning yang konon berasal dari Bali, bertempat tinggal di kam­pung Bali (sekarang ikut Kel. Penganjuran, Kec. Banyuwangi) adalah orang yang berjasa mengembangkan keberadaan angklung Banyu­wangi dengan menambah beberapa instrumen musik Bali, seperti slentem, saron, peking, ke­tuk, dan gong.

Eksperimental yang dilakukan Kik Dru­ning ketika itu, dapat dengan cepat diterima masyarakat Banyuwangi. Kreasi Kik Druning yang semula disebut Bali-balian inilah yang menjadi cikal bakal angklung Banyuwangi yang sekarang ini.

Pengembangan angklung Banyuwangi se­cara inovatif yang dikembangkan dengan perkembangan musik modern, menurut budaya­wan Hasan Ali, tidak mengalami kesulitan, se­bab, susunan intervalnya pada setiap wilah atau bilah sangat memungkinkan sekali. Delapan bilah susunan angklung Banyu­wangi adalah A, C, D, C, G. A, C, D maka oktavnya A, C, D, C, G, A. Dengan demikian, misalnya bilahnya ditambah sampai 12 bilah atau lebih, akan menguntungkan. Keuntungan­nya, kata ketua Dewan Kesenian Blambangan dan mantan Kabag Kesra Pemkab Banyuwangi itu, adalah pentatoniknya lebih tepat. Keka­yaan variasi lebih menonjol, dan jika satu nada tidak cocok akan mudah mencocokkan dengan nada yang lain.

Ada pendapat, musik Banyuwangi asalnya dari gatuk matuk. Satu alat musik dipertemukan dengan alat musik lainnya, dicocok-co­cokkan, gatuk, lahirlah satu komposisi musik yang sebenarnya aturan musiknya belum ada standarnya.

Ini terlihat dengan masuknya biola pada musik Gandrung, toh matuk juga. Demikian pu­la dengan musik yang belakangan ini berkem­bang, yakni Kendang Kempul. Alat musik tradisional Banyuwangi ditambah dengan alat mu­sik elektrik seperti gitar, organ, bahkan elektone, melahirkan bunyi tren dangdut.

Musik Banyuwangi ilu luwes ketika di­kawinkan dengan irama Hadrah Kuntulan vang kemudian melahirkan dendang Kundaran (Kuntulan Dadaran). Demikian juga pada musik Damarulan yang didominasi Bali, musik Banyuwangi menyusup dan bisa diterima teli­nga siapa saja.

Alhasil, musik Banyuwangi punya berba­gai komposisi yang dengan mulus bisa diterima dan berkembang. Masalahnya sekarang adalah bagaimana ekosistensi yang luwes itu bisa ber­lahan dan lerus mewaris pada generasi demi generasi, seria mampu pula hidup pada ber­bagai zaman? Tenlu ini berpulang kembali ke­pada masyarakat pemiliknya!.**

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pomo Murtadi, Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi. GB. No. 052/1995. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1995. hlm. 41-44.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Kesenian, Th. 1995 dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s