Musik Patrol Banyuwangi


Tentang Musik Patrol Surabaya Melirik Banyuwangi
Bagaimana di Banyuwangi Sendiri

Bulan Romadhon tahun ini (1417 H) bisa dikatakan Bulan Patrol di Banyuwangi. Bertempat di Shaba Swagata Blambangan Jl. Sritanjung 1, hampir sebulan penuh sejak tanggal 13/1 – 7/2 1997 digelar Lomba Patrol Kreatif. Pada tanggal 1-2-1997 Banyuwangi mengirimkan 5 grup patrol andalan ke Surabaya mengikuti Festifal Musik Patrol Memorandum (FMPM) IV’97. 3 grup diantaranya berhasil merebut 3 buah tropi dari 6 buah tropi yang disediakan, sebagai juara I, II dan Harapan 1. Dan pada hari yang sama mengirim 1 grup patrol ke Sidoarjo untuk mengikuti Lomba Musik Sahur yang diselenggarakan oleh DPD Golongan Karya Tk. I Jatim, berhasil masuk nominasi. Pada tanggal 8 Februari 1997, lebih dari 100 orang pemusik patrol dan kuntulan mengikuti Takbir Akbar di Surabaya yang diselenggarakan oleh Pangdam V/Brawijaya, di Banyuwangi sendiri pada malam itu juga, grup-grup patrol Kecamatan Banyuwangi ikut menyemarakkan Malam Takbiran menyusuri Jl. A. Yani, Jl. Sudirman dan Jl. Sritanjung (Finish di Pendopo Banyuwangi).

Berbicara tentang Musik Patrol, Musik Patrol dari Banyuwangi diacungi jempol, dikagumi para pemusik patrol daerah lainnya di Jatim, baik alat musik yang unik maupun para pemainnya yang terampil. Hal ini juga pernah disinggung oleh Bupati Banyuwangi ketika beliau memberikan pengarahan pada acara Lomba Patrol Kreatif di Pendopo, bahwa Gubernur Jatim, HM. Basofi Sudirman mengucapkan salut kepada pemusik Patrol Banyuwangi, beliau berpesan agar musik patrol Banyuwangi dilestarikan dan dikembangkan. Memang, rupanya musik patrol Banyuwangi mulai di ‘lirik’ oleh Panitia Lomba/Festival Musik Patrol Memorandum, salah satu Lomba musik Patrol bergengsi di Jatim.

Pada Lomba Musik Patrol (LMPM) I ’94 Banyuwangi belum mengikuti, sejak LMPM II ’95, LMPM III ’96 dan FMPM IV ’97 Banyuwangi selalu tampil dan menjadi juaranya. Pada LMPM II ’95 Banyuwangi Putra Kel. Temenggungan sebagai Juara I dan Pemusik Patrol dari Kel. Kertosari yang ‘diambil’ sebuah Perusahaan di Surabaya sebagai Juara II, pada saat itu panitia menentukan setiap grup terdiri dari 5 pemain dan mengharuskan minimal 2 buah musik dari bambu. Pada LMPM III ’96, Banyuwangi mengirimkan 10 grup. Karena persyaratan peralatan dan pemain tetap seperti LMPM II ’95 Grup dari Banyuwangi rata-rata menggunakan angklung dan atau seruling, padahal di Banyuwangi kedua alat musik tersebut tidak termasuk alat musik patrol. Tiga grup dari Banyuwangi berhasil menjadi juara, yaitu Juara I Grup Banyuwangi Putra Kel. Temenggungan, Juara III Pahlawan Bangsa dari Kel. Lateng dan Sayu Gringsing dari Kel. Kampung Melayu sebagai Juara Favorit. Dan sebagaimana telah disebut di atas, bahwa pada FMPM IV ’97 dari 6 buah tropi yang disediakan panitia 3 buah direbut grup dari Banyuwangi, yaitu Kangkung Setingkes dan Gajah Uling masing-masing dari Kel. Kampung Melayu sebagai juara I dan II, Juara Harapan I diraih Sayu Gringsing dari kel. Kampung Melayu. Yang perlu dicatat disini, bahwa Panitia FMPM VI ’97 menentukan pemain dalam satu grup yang berjumlah 7-10 orang dan alat musik dari bambu dan kayu, tidak diperkenankan mengggunakan gitar, seruling, dan angklung, disinilah dasar, bahwa panitia mulai melirik musik patrol Banyuwangi, bukankah persyaratan-persyaratan panitia diatas adalah ‘pas’ sebagaimana keberadaan Musik Patrol Banyuwangi?

Tentunya kita telah mengetahui, ada batasan yang jelas diantara musik tradisional di Banyuwangi, seperti musik patrol (terdiri dari dundung atau tretek, utuk-utuk atau trutuk dan gong bambu), musik angklung (terdiri dari angklung,selentem, saren, peking, kendang dan gong besi), dan musik gandrung (terdiri atas biola, ketuk-keneng, klurtcing, kendang, dan gong besi).

Bila ada Lomba Festival di Banyuwangi, ada yang menggunakan angklung biola atau misalnya, maka peserta yang lain akan mengadakan protes terhadap penyimpangan tersebut. Tempo doeloe, yang namanya patrol di Banyuwangi, alatnya terdiri dari ‘wilah-wilah’ bambu yang diraut sedemikian rupa sehingga menimbulkan bunyi yang dimaui pembuatnya bila dipukul.

Setiap orang memainkan satu wilah saja. Sehingga pemain petrol tempo doeloe banyak, paling sedikit 10 orang, bisa 15, 20 dan seterusnya. Perkembangan selanjutnya, mulai Lomba musik patrol pertama tahun 1972 untuk merampingkan pemain yang banyak tadi, wilah-wilah tadi dikemas, dirangkai .dalam sebuah ‘ancak’ yang besar kecilanya disesuaikan dengan wilah-wilah tersebut. Satu ancak berisi 2,3 paling banyak 4 wilah. Penabuh gong yang asalnya 2,3 orang, dengan model ancak tadi bisa dikuasakan pada seorang penabuh saja. Sehingga dalam tahap perkembangan ini jumlah personil musik patrol bisa dirampingkan/disederhana­kan menjadi hanya7 – 10 orangsaja.

Bagaimana sikap kita sekarang dengan adanya ‘lirikan-lirikan’ dari pemusi-pemusik patrol luar daerah. Tentunya kita harus bertahan pada batasan yang sudah jelas yang disebut terdahulu. Mari kita laksa­nakan anjuran beliau-beliau untuk melestarikan dan mengembangkan musik patrol Banyuwangi ini.

Upaya pelestarian musik patrol Banyuwangi dirasa cukup gigih. Hal ini dilakukan dengan penyelenggaraan lomba patrol setiap tahunnya. Pernah pada suatu Lomba Patrol amat sedikit pesertanya, penyebabnya karena yang menjadi juara hanya ‘itu-itu’ saja, bahkan ada tercetus kata: Juara Langganan.

Untuk mengatasi hal ini, diselenggarakan Festifal PatroldisampingLombaPatrol. Dalam Lomba Patrol ditentukan 10 grup nominasi dan berhak mengikuti Festifal Patrol tahun berikutnya. Sehingga setiap tahunnya akan bergantian juaranya. Dengan sistem lomba dan Festifal inipun masih ada kendalanya, yaitu Grup-Grup Patrol Lomba diluar Kecamatan Banyuwangi sulit masuk baik sebagai nominasi maupun sebagai juara. Kemudian tahun 1996 diselenggarakan Lomba Patrol di tiap-tiap Wilker Pembantu bupati, dan pada tahun 1997 digelar Lomba Patrol Kreatif yang pesetanya dari kecamatan Banyuwangi dan Grup Patrol Unggulan masing-masing Pembantu Bupati di Bany­uwangi.

Pada Lomba ini banyak ditentukan juaranya, seperti Juara Kreativ, Aktraktiv, Harmonis, Juara I, II, III,Harapan I, II, II. Grup patrol Unggulan Pembantu Bupati se Kabupaten Banyuwangi mendapatkan penghargaan tersendiri, demikian juga Grup Patrol -Aktiv dan para vokalis mendapatkan penghargaan dan hadiah. Rupanya penentuan kejuaraan seperti diatas dapat mereda suar sumbang yang biasanya muncul setelah pengumuman kejuaraan. Untuk pengembangan musik patrol Banyuwangi sangatlah memprihatinkan. Pada tahun 1996,pada Lomba Patrol se Wilker Pembantu Bupati Banyuwangi, panitia menentukan persyaratan pemain dalam satu Grup hanya 5 pemain saja. Rupanya p? aitia berkiblat pada penyelenggaraan Lomb; V,?sik Patrol Memorandum III ’96, yan seharusnya Memorandum berkiblat pada kita. Sehingga untuk mencapai keharmonisan, banyak grup yang menggunakan angklung dan ‘seruling padahal kedua alat tersebut tidak termasuk musik patrol. Dan pada Lomba Patrol Kreatif 1997, ada ketentuan tahun sebelumnya, 2,3 maksimal 4 wilah.

Disini panitia perlu ada ketegasan, agar ditahun-tahun yang akan datang tidak berkembang seorang pemain boleh membawa 6,7 dan seterusnya. Panitia FMPM IV ’97 sudah berani tegas, menentukan angklung dan seruling tidak diperbolehkan, kenapa kita tidak? Kiranya pengembangan Musik Patrol tidak perlu merubah batasan yang jelas, yang terpenting pengembangan mengarah kepada kreasi musik, tehnik pukulan, mungkin bentuk ancak dan hiasan­nya. Yang perlu menjadikan catatannya, bahwa musik patrol Banyuwangi menjadi barometer dari daerah lain di Jatim, untuk itu jangan ‘goyah’.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sidomuljo S. Sos,  Kaur Pemerintahan Kel. Temenggungan. Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 
GB. No. 070/1997. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1997. hlm.35-37.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Kesenian, Surabaya, Th. 1997 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s