Pidato Bung Karno: Lahirnya Pancasila


LAHIRNJA PANTJA-SILA

Tepat dua windu jang lalu, jaitu pada tanggal 1 Djuni 1945, adalah hari terachir dari sidang pertama ,,Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” (Badan Penjelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan), untuk membitjarakan ,,Dasar Negara kita”. Dan pada hari itu  jugalah „Dasar Negara kita”, jaitu „Pantja-Sila” untuk pertama kalinja didjelaskan oleh Bung Karno, dan kemudian terkenal dengan djudul „Lahirnja Pantja-Sila”.

Untuk memperingati hari bersedjarah, hari „Lahirnja Pantja- Sila” itu, maka catatan ini  dengan maksud dan tudjuan agar supaja ia lebih luas diketahui dan dipeladjari oleh setiap orang. Kemudian, tentang betapa pentingnja catatan ini, jang oleh karena itu perlu sekali dipeladjari dan dikuasai sedalam-dalamnja oleh setiap patriot komplit dari berbagai tingkatan dalam merealisasi MANIPOL setjara sungguh2.

Sebagai ,,Kaitjoo” (ketua) dari „Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” (Badan Penjelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) saja mengikuti dan mendengar sendiri diutjapkannja pidato ini oleh Bung Karno, sekarang Presiden Negara kita.

Badan „Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai”. itu telah mengadakan sidangnja jang pertama dari tanggal 29 Mei tahun 1945 sampai dengan tanggal 1 Djuni 1945 dan jang kedua dari tanggal 10 Djuli 1945 sampai dengan tanggal 17 Djuli 1945.

„Lahirnja Pantja Sila” ini adalah buah „stenografisch verslag” dari pidato Bung Karno jang diutjapkan dengan tidak tertulis dahulu (voor de vuist) dalam sidang jang pertama pada tanggal 1 Djuni 1945 ketika sidang membitjarakan „Dasar (Beginsel) Negara kita”, sebagai pendjelmaan daripada angan-angannja. Sudah barang tentu kalimat- kalimat sesuatu pidato jang tidak tertulis dahulu, kurang sempurna tersusunnja. Tetapi jang penting ialah I SINJA!

Bila kita peladjari dan selidiki sungguh-sungguh „Lahirnja Pantja Sila” ini, akan temjata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel jang mendjadi Dasar Negara kita, jang mendjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel jang telah meresap dan berurat-berakar dalam djiwa Bung Karno, dan jang telah keluar dari djiwanja setjara spontaan, meskipun sidang ada dibawah penilikan jang keras dari Pemerintah Balatentara Djepang. Memang djiwa jang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang- kekang!

Selama. Fascisme Djepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut ta’ pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnja teguh-teguh dan senantiasa ditjarikannja djalan untuk mewudjudkannja.

Mudah-mudahan ,,Lahirnja Pantja Sila” dapat didjadikan pegangan, didjadikan pedoman oleh Nusa dan Bangsa kita seluruhnja, dalam usaha memperdjoangkan dan menjempurnakan Kemerde­kaan Negara

Walikukun, tertanggal 1 Djuli 1947
Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrt

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrt, Lahirnja Pantja-Sila: Pidato Bung Karno Pada Tanggal 1 Djuni 1945 Dalam Sidang Pertama “Badan Penjelidik Usaha Persiapan Kemerdekaa”, Surabaja, 1961

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Th. 1961 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s