Pendopo Agung


Pendopo Agung adalah merupakan bangunan baru yang didirikan oleh Kodam VIII Brawijaya pada tahun 1966 yang ke­mudian disempurnakan pada tahun 1973. Bangunan pendopo ini berbentuk bangunan rumah joglo sebagai ciri khas rumah Jawa berdiri di atas umpak-umpak yang besar. Di dalam pendopo Agung ini dapat kita saksikan photo-photo Panglima—Panglima yang memegang Kodam VIII Brawijaya. Pendirian Pendopo Agung oleh Kodam VIII Brawijaya ini kemungkinan tidak berbeda tujuannya bila dibandingkan dengan Kodam VII Diponegoro mendirikan Monumen Diponegoro. Dengan adanya Pendopo Agung ini kita dapat membayangkan bagaimanakah bentuk dan keindahan Pendopo Agung kerajaan Majapahit yang besar dan disegani oleh negara negara luar.

Di tempat didirikan Pendopo Agung ini dahulu ter­dapat sederetan umpak dari batu yang besar-besar dan berbentuk segi delapan hanya di bagian atasnya tidak berlubang seperti umpak yang kita dapatkan di Sumur Upas. Sehingga dapat kita tafsirkan bahwa, umpak-umpak ini belum pernah terpakai. Di dekat deretan umpak ini terdapat 2 buah tiang batu, satu diantaranya masih terpancang di tanah. Menurut pendapat orang tiang batu tersebut untuk mengikatkan gajah milik raja-raja Majapahit. Menurut tulisan para peninjau—peninjau tempat ini disebut sebagai kandang gajah.

Dibelakang pendopo kita masih dapat menjumpai sebuah kompleks makam yang di bagian tengahnya, ada sebuah makam tertutup cungkup dan letaknya agak tinggi. Makam inilah yang semenjak jaman Raffles dikenal dengan nama Kubur Pang­gung.

Penggalian purbakala yang pernah diadakan ditempat ini. menghasilkan ditemukminya fondasi tembok membujur dari utara-Selatan dan Barat-Timur sehingga membagi tempat itu menjadi ruang-ruang yang disekat-sekat.

Letak Kubur Panggung adalah diatas persilangan sa­lah satu fondasi tembok itu, inilah sebabnya letak makam ini lebih tinggi dari pada yang lain. Dongeng rakyat menge­nai tempat ini ada 2 versi.

Yang pertama adalah, yang dicatat oleh Knebel th 1907 sebagai berikut:

Ketika Majapahit diperintah oleh Kencanawungu dibuatlah sebuah pesanggrahan untuk para tamu dongan memakai  panggung.

Pada suatu saat putera, Sultan Pajang yang bernama Pangeran Benawo, lolos dari Pajang, dan melarikan diri ke Majapahit. Selama di Majapahit ia berdiam di pesanggrahan ini. Setelah tinggal beberapa waktu lamanya Pangeran Benowo kemudiah pergi dan di tempat itu ia membuat petilasan yang di­beri nama Kubur Panggung.

Ceritera kedua, menyebutkan bahwa ketika pusat kekuasaan politik sudah beralih ke Demak, daerah ibukota Majapahit hanya diperintahkan oleh seorang Adipati. Tersebutlah, ketika saat Demak akan melantik Adipati Pajang, Sang Adipati Majapahit tidak mau hadir dalam pelantikan itu.

Peristiwa ini jelas merupakan pembangkangan sehingga Demak mengirimkan balatentaranya untuk menghukum. Ketika balatentara itu tiba di selatan Kubur Panggung, mereka semua tiba-tiba sakit dan menangis tersedu-sedu sebagai akibat kesaktian Adipati Majapahit.

Di dalam bahasa Jawa “menangis tersedu-sedu” adalah “gereng-gereng“, sehingga tempat tersebut hingga kini disebut Puntuk Gereng (bukit menangis).

Sang Adipati Majapahit segera datang ke tempat kejadian itu. Karena ia merasa bersalah, maka ia, bersedia untuk dihukum, akan tetapi hukuman itu hendaknya datang dari Tuhan dan bukan dari orang lain. Pada saat ia selesai mengucapkan kata-katanya itu, seketika itu juga ia hilang dan­ tak diketahui kemana perginya.

Balatentara Demak yang segera pula jadi sembuh dari sakitnya, menyaksikan kejadian ajaib tersebut. Sehingga ditempat itu lalu dibuatkan sebuah makam petilasan yang kemudian dikenal sebagai Kubur Panggung.

Baik dari hasil-hasil penggalian Purbakala yang pernah dilakukan maupun dari kedua dongeng rakyat tadi je­las bahwa Kubur Panggung itu sebenarnya bukanlah makam melainkan hanya sebuah petilasan belaka.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sekitar Kepurbakalan di Trowulan Mojokerto. Kantor Wilayah departemen P DAN K Propinsi Jawa Timur, Th. 1981

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Mojokerto, Sejarah, Th. 1981 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s