Upacara Mesae, Adat Madura


Mesae, artinya memisah, yaitu memisahkan si anak dari susu ibunya. Upacara mesae diadakan jika umur bayi sudah mencapai 9 bulan. Kadang-kadang sampai usia 12 bulan si anak baru disapih.

Sebelum seorang ibu mesae anaknya, lebih dahulu harus meminta nasehat Kyae atau dukon baji, kapan sebaiknya mesae itu dilakukan. Menentukan waktu untuk mesae ini pen­ting agar si anak tidak menjadi rewel atau perajuk.

Menurut petunjuk dukun atau kitab primbon itulah, ke­mudian orang tua si anak melakukan mesae terhadap anaknya. Biasanya waktu yang dipilih menurut perhitungan hari kelahir­an si anak, atau menurut waktu ketika colpak bujel, saat tang­galnya tali pusat.

Di tempat tidur si anak, diletakkan polo’, semacam peri­uk yang diisi dengan topa panglobar, yaitu ketupat yang ber­isi beras kuning, sebagai penolak bala. Di samping tempat tidur si anak diletakkan Tajin senapora, yaitu bubur lemak dimana terdapat irisan telur dan kacang, sebagai penangkal penyakit.

Dalam upacara mesae ini hanya terbatas kepada ibu dan ayah si anak serta -para kerabat dari dua belah fihak yang me­nyaksikannya. Tentu saja peranan dukun dalam upacara ini menentukan, karena dialah yang melaksanakan semua kegiat­an dalam upacara mesae ini.

Ketika semua keperluan upacara tersebut sudah siap, ma­ka dukun menggendong anak yang disapih itu berkeliling ru­mah, sebanyak tiga kali. Setiap kali sampai di pintu muka, du­kun itu membelakangi pintu. Sesudah itu, dukun membawa anak tadi ke tempat tidurnya, yang berdekatan dengan tempat tidur orang tuanya. Di tempat itu dukun itu berucap : “mon polo” nanges, kacong (jika anak berkelamin laki-laki), jebbing nanges”.

Kalimat yang diucapkan itu berarti : “apabila periuk ini manangis, si kacong atau si jebbing itu akan menangis pula” Dengan demikian berakhirnya ucapan itu, dukun menghembus ubun-ubun si anak tiga kali. Dengan perbuatan itu dukun mengharapkan agar si anak sejak saat itu melupakan tetek ibu­nya. Ada kalanya si anak diberi kalung dari perak dengan bandul yang berisi mantra. Dimaksudkan agar si anak tidak mudah kena saban (sawan) dan penyakit lain.

Upacara mesae ini lazimnya diadakan pada waktu siang hari. Pada puting susu si ibu, diberi ramuan dringo, agar si anak tidak mau lagi. Menurut kepercayaan masyarakat Madura, jika si anak yang sudah berusia sekitar setahun tidak di sapih maka anak itu akan bebal atau bodoh.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional daerah Jawa Timur.Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi Daerah 1983-1984, Surabaya September 1984, hlm.50

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madura, Seni Budaya, Th. 1984 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s