Upacara Toron Tana


Upacara toron tana, dilakukan kepada bayi yang sudah berumur tujuh bulan. Dengan upacara itu dimaksudkan agar si bayi “mengenal” bumi tempat ia hidup. Dengan melalui upacara itu diharapkan si bayi mengenal tanah leluhurnya, diperkenalkan secara simbolik kepada tanah sebagai sumber penghidupannya.

Ada beberapa perbuatan yang harus dilakukan si anak, yaitu menjejakkan kaki ke tanah, menginjak tettel, memilih benda-benda dan menginjakkan kaki ke tomang.

Upacara ini diadakan umumnya pada siang hari, biasanya di mulai ketika matahari sudah sepenggalah.

Sebelum upacara itu mulai, orang tua si bayi menyedia­kan alat-alat ataupun benda-benda yang akan dipakai dalam upacara toron tana. Persiapan itu dimulai dengan menentukan tempat berlangsungnya upacara, yaitu di serambi muka. Semua benda yang diperlukan disiapkan pula ditempat itu. Tikar, abu dapur, tangga dari tebu, buah-buahan, seikat padi, cermin, potlot, bi.ku tulis, uang, tettel (juadah) seperangkat pakaian baru.

Dalam penyelenggaraan upacara tersebut, selain kedua orang tua si bayi, diundang pula saudara-saudara ibunya atau saudara perempuan fihak suaminya. Sudah tentu nenek dari si bayi, baik dari fihak suami ataupun fihak si ibu. Para tetangga yang diundang adalah tetangga dekat dan seorang ulama atau Kyae, kalau bayi itu perempuan diundang Bu’ Nyae.

Upacara Toron tana itu berlangsung sebagai berikut

Setelah para kerabat dan undangan tetangga sudah hadir, maka orang tua si anak telah siap dengan pakaian baru. Demikian pula si anak yang akan mengalami upacara tadi diberi pakaian baru.

Si anak dibawa ketempat para undangan, dan oleh ibunya diletakkan di atas tikar pandan. Kemudian anak tersebut di­pindah ke tempat yang tidak tertutup tikar. Tempat itu kemudian ditaburi abu dapur sedikit tebal. Kaki anak tersebut kemudian diinjakkan oleh neneknya di atas taburan abu itu. Dengan perbuatan itu dimaksudkan si

anak sudah menginjakkan ke bumi (tana).

Berikutnya si anak tadi dipindahkan ke sisinya di mana sudah tersedia tettel, yang berwarna merah kuning dan hitam. Di atas Tettel itulah kaki si kecil itu diinjakkan oleh neneknya. Sesudah cukup, si anak dinaikkan ke tangga yang dibuat dari tebu, kaki si anak dinaikkan ke masing-masing anak tangga yang dibuat dari tebu pula, ada tiga tataran atau anak tangga. Sesudah ketiga anak tangga itu dinaiki, maka si anak dipindah­kan ke tikar, dimana sudah tersedia berbagai benda yang ter­sebut di atas. Anak tadi memungut salah satu benda yang me­narik, dan ketika si anak memungut sebuah cermin, maka para undangan akan berucap : Radin, yang artinya cantik, maksud­nya anak tersebut kelak akan suka bersolek. Benda yang dipi­lih oleh si anak oleh yang hadir diartikan sebagai petunjuk mata pencaharian apa yang kelak dapat membahagiakan hidup­nya. Demikian pula benda yang diambil oleh si anak itu juga sebagai tentang sifat dan watak anak itu kalau sudah dewasa.

Sementara anak menginjak tettel, yang berwarna tiga macam itu, ibunya mengganti pakaian si anak, pada setiap in­jakan pada tettel yang berwarna tersebut. Sehingga si anak ber­ganti pakaian tiga kali pula. Setelah upaya untuk memilih benda oleh si anak itu di­anggap cukup, maka ibunya mengambil alih tugas dari nenek si anak dan membawanya ke tomang. Dengan perbuatan itu berakhirlah upacara toron tana tadi.

Seluruh kegiatan dalam upacara toron tana ini, tidak le­bih dari 30 menit dan diakhiri dengan arasol, yang terdiri dari nasi Tompeng, serta lauk-pauk dari telur, ikan ayam dan sayur­an. Semua makanan itu sebagian dimakan di tempat yang mempunyai hajat, dan sisanya dibawa pulang.

Makna dari upacara itu, adalah agar si anak cinta kepada tempat kelahirannya, suka tinggal di rumah. Berbagai benda yang ada dengan aneka warna makanan, melambangkan ten­tang kehidupan yang bermacam-macam. Demikian pula mata pencaharian itu, harus dipilih yang paling sesuai dengan minat anak. Dengan menginjak tangga dari tebu yang jumlah anak tangganya tiga, mempunyai makna bahwa, si anak harus mam­pu mencapai tingkat kehidupan yang tinggi. Di samping itu jumlah anak tangga, melambangkan tiga kala dalam kehidupan, yaitu lahir, hidup dan mati. Sejak saat yang dini, si anak di­harapkan dapat menempuh tiga tahap kehidupan itu dengan selamat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional daerah Jawa Timur.Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi Daerah 1983-1984, Surabaya September 1984,  hlm. 48-49

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madura, Seni Budaya, Th. 1984 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s