Historis Kabupaten Sumenep


Kabupaten Sumenep berada di ujung paling timur Pulau Madura dengan luas wilayah 2.093.457.573 km2, luas perairan 50.000 km2, serta jumlah penduduk 1.069.928, yang terbagi atas 126 Pulau dan secara administratif Kabupaten Sumenep mempunyai 27 kecamatan terdiri dari 19 di daratan dan 8 di Kepulauan dengan kaya potensi sumber daya alamny

Sumenep jaman dahulu diperintah oleh seorang Raja. Ada 35 Raja yang telah memimpin kerajaan Sumenep. Dan, sekarang ini telah dipimpin oleh seorang Bupati. Ada 14 Bupati yang telah memerintah Kabupaten Sumenep.  Arya Wiraraja adalah seorang pejabat tinggi Kerajaan Singasari yang dilantik sebagai Adipati pertama Sumenep pada tanggal 31 Oktober 1269 M, yang sekaligus menjadi dasar penetapan hari jadi Kabupaten Sumenep. Pada tahun 2012 Kabupaten Sumenep akan berusia 743 tahun.

Sebutan kata Sumenep sampai saat ini masih terdapat perbedaan dalam memaknainya. Dikalangan kelompok terpelajar dan tinggal di sekitar pusat Kabupaten Sumenep, umumnya menyebut dengan kata Sumenep. Sedangkan masyarakat yang tinggal di pedesaan, menyebutnya dengan Songennep.

Perubahan nama Songennep menjadi Sumenep terjadi pada masa penjajahan Belanda, permulaan abad XVIII (1705M), terbukti dengan banyaknya buku-buku karangan atau terbitan Belanda pada masa itu telah menggunakan sebutan Sumenep. Nama Sumenep menjadi baku di kalangan pemerintahan karena setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, nama Kabupaten
Sumenep disebut dengan nama Kabupaten Sumenep.

Menurut arti etimologis (asal-usul kata) Songennep berasal dari kata Song yang berarti relung, geronggang (bahasa kawi) dan Ennep yang berarti mengendap (tenang). Jadi Songennep berarti lembah bekas endapan yangtenang. Menurut Dr. Adi Sukadana (Antropolog) berdasarkan penelitian-penelitiannya di Madura, pemukiman awal di Madura terdapat di bagian tengah (punggung) pulau Madura yang umumnya terdiri dari pegunungan atau bukit- bukit kecil.

Sedang daerah-daerahyang terletak di dataran rendah(termasuk wilayah Sumenep), padamasa lalu sebelum abad XIII masih tergenang oleh air laut (rawa-rawa). Baru pada abad XIII sesudah terjadi proses pengeringan rawa-rawa, daerah dataran rendah di Madura mulai dihuni. Jadi wilayah Sumenep pada masa itu sebagian besar terdiri dari tanah bekas endapan rawa. Oleh sebab itu wilayah ini dinamakan Songennep yang berarti lembah bekas endapan yang tenang.

Keadaan Geografis

Kabupaten Sumenep berada di antara 113° 32’54″ hingga 116° 16’48″ Bujur Timur dan 4° 55′ hingga 7° 24′ Lintang Selatan, dengan batas-batas sebagai berikut:

>    Sebelah Utara Laut Jawa

>    Sebelah Selatan Selat Madura

>    Sebelah Timur Laut Jawa/Laut Flores

>    Sebelah Barat Kabupaten Pamekasan

Geografis wilayah Kabupaten Sumenep terbagi menjadi dua bagian, yaitu wilayah daratan dan kepulauan dengan masing-masing Bagian daratan luasnya 1.146,93 kilometer persegi atau sekitar 54,79%. Bagian daratan ini terbagi menjadi 18 (delapan belas) Kecamatan. Meskipun Kabupaten Sumenep dapat dibagi secara tegas yakni terdiri dari wilayah lautan dan daratan, akan tetapi diwilayah daratan tertentu masih ditemukan satu pulau kendati tidak terlampau besar. Wilayah dimaksud adalah Kecamatan Dungkek yang terdapat pulau Giliyang dan juga Kecamatan Talango yang terdapat pulau Poteran.

Sedangkan wilayah kepulauan luasnya 946,53 kilometer persegi atau sekitar Pulau-pulau ini yang berpenghuni sebanyak 48 pulau dan 78 pulau tidak berpenghuni. Berdasarkan Peraturan Bupati 45,21 %. Wilayah kepulauan meliputi 126 pulau. Sumenep Nomor 11 Tahun 2006 tentang Luas Wilayah Administrasi Pemerintah Kabupaten Sumenep, telah ditetapkan 126 pulau bernama. Bagian kepulauan
terbagi atas 9 (sembilan) Kecamatan yaitu : kecamatan Giligenting, Talango,

Nonggunong, Gayam, Ra’as, Arjasa, Sapeken, Masalembu dan Kecamatan Kangayan. Kondisi tersebut, telah memperkaya sumber daya alam, baik yang terdapat di darat, laut dan udara, dalam bentuk keanekaragaman flora, fauna, sumber daya mineral dan sumber daya air yang diharapkan dapat didayagunakan secara optimal, bertanggungjawab dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.

Sebagai gambaran terhadap kondisi geografis Pemerintah Kabupaten Sumenep, pulau paling utara adalah Pulau Karamaian yang termasuk wilayah Kecamatan Masalembu dengan jarak ± 151 mil laut dari Kecamatan Kalianget dan pulau paling timur adalah Pulau Sakala termasuk wilayah Kecamatan Sapeken dengan jarak +165 mil laut dari Kecamatan Kalianget.

Cuaca dan Iklim

Temperatur Kabupaten Sumenep pada tahun 2010 tertinggi dibulan April (34,4 °C) dan terendah di Bulan Juni (23,6 °C) dengan kelembapan 61,0 s/d 98 %. Tekanan udara tertinggi di Bulan Maret sebesar 1.014,8 milibar dan terendah di Bulan Desember 1,005,7 milibar. Jumlah curah hujan terbanyak terjadi di Bulan Desember. Rata-rata penyinaran matahari terlama di Bulan Agustus dan terendah di bulan Pebruari. Sedangkan kecepatan angin di Bulan Juli merupakan yang tertinggi dan terendah di Bulan Desember.

Pembagian Wilayah Administrasi

Secara administrasi, wilayah Kabupaten Sumenep terbagi atas 27 (dua puluh tujuh) Kecamatan, 328 (tiga ratus dua puluh delapan) Desa dan 4 (empat) Wilayah Kelurahan. Kecamatan Arjasa yang terdapat di Pulau Kangean mempunyai luas Kecamatanterbesar yaitu 241,99 dengan jumlah Desa sebanyak 19 Desa dan Kecamatan yang luas kecamatannya terkecil yaitu Kecamatan Batuan dengan luas 27,10 dan terdiri atas 7 Desa.

Keberadaan Pariwisata dan Budaya

Kawasan pengembangan masing-masing jenis wisata yang ada di Kabupaten Sumenep antara lain catatan dibawah ini:

Pantai Lombang                           Kecamatan Batang-Batang

Pantai Slopeng                             Pantai Utara Daratan Sumenep

Rumah Kasurn Pasir Desa Leggung Timur, Legung Barat dan Dapenda                                         Kec. Batang-Batang

Pemandian Kermata                    Kecamatan Saronggi

Pemandian Batuan                       Kecamatan Batuan

Pemandian Kasengan                  Kecamatan Manding

Sumber Air Panas                        Kecamatan Batang-Batang

Gua Payudan                                Kecamatan Guluk-Guluk

Gue Koneng                                  Kecamatan Arjasa

Taman Laut Mamburit               Kecamatan Arjasa

Taman Laut Gili Labak               Kecamatan Talango

Taman Laut Saor                         Kecamatan Sapeken

Keraton Sumenep                       Kota Sumenep

Museum Sumenep                      Kota Sumenep

Masjid Agung                               Kota Sumenep

Asia Tinggi                                   Kota Sumenep

Asta Sayyid Yusuf                      Kecamatan Talango

Asta Panaongan

Asta Katandur                           Kota Sumenep

Asta Anggo Seto                        Kecamatan Saronggi

Asta Belingi                               Kecamatan Gayam

Asta Adipoday                           Kecamatan Gayam

Asta Jokotole                     Kecamatan Manding

Kerapan Sapi                      Kota Sumenep

Sentra Batik  Madura           Kecamatan Bluto

Sentra Perajin Keris             Kecamatan Saronggi

Sumber: RPJMD Kabupaten Sumenep 2011-2015

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Bagian Organisasi Sekda Kabupaten Sumenep, Tahun 2012.

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Sumenep, Th. 2012 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s