Sejarah Reyog Ponorogo


Reog Panaraga sebagai pertunjukan satire, olok-olok, atau sindiran, tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan sasaran yang dijadikan olok-olok tersebut. Sasaran itu bermacam-macam. Dapat menunjuk pada situasi masyarakat umum, atau tertentu, dalam kurun waktu tertentu pula, atau kepada seseorang tokoh terpandang, yang sedikit banyak mempunyai pengaruh terhadap kehidupan atau penghidupan orang banyak, biasanya seorang pejabat atau penguasa. Atau dapat pula merujuk kepada suatu keadaan politik. Menurut kamus Van Dale, satire berarti: “hekeldicht, hekelend geschrift; hekelende, bijtende uitdrukking; daad welke dient om ene andere (of een persoon) in een kwaad of bespottelijk daglicht te plaatsen,” yang artinya: “sastra atau’ tulisan” yang mengandung kebencian; ungkapan yang melontarkan rasa benci secara tajam; perbuatan (ulah) dengan maksud menempatkan sesuatu (atau seseorang dalam sorotan yang mengundang kebencian atau cemoohan.” Di sini terasa sekali tekanannya kepada “kebencian” ,sebagai motivasinya.

Tetapi suatu sifat yang khas dalam dunia kebujanggaan Jawa tempo dulu, yalah, bahwa satire-satire yang dllontarkan dalam berbagai ungkapan, (sastra, ulah, pertunjukan, dan lain-lain sebagilinya), betapa pun tajamnya, namun cenderung tidak inenaburklln rasa kebencian. Inilah yang membedakannya dengan satire-satire barat atau Indonesia modern. Ungkapan-ungkapan satire Jawa sudah dibesut sedemikian rupa, sehingga ketajaman olok-oloknya itu tidak lagi nampak , atau terasa, kalau tidak diterima dengan kearifan atau ketajaman tanggap rasa. Artinya, bagi yang tidak arif, satire demikian diterima apa adanya; sebagai lelucon, sebagai lawakan, membuat kita ketawa, membuat puas, habis. Biasanya, yang merasakan ketajaman olok-olok yang dilontarkan oleh satire-satire Jawa demikiap., yalah orang yang bersangkutan yang menjadi sasaran. Publik lain tidak merasakan olok-oloknya, atau tidak melihat adanya olok”olok yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Dengan demikian, maka sifat menghasut atau membangkitkan sentimen publik terhadap sasaran olok-olok, tidak ada sarna sekali. Di sini sifat rasa “ngeman” (sayang) lebih diutamakan.

Demikian pula Reog Panaraga sebagai pertunjukan satire Karena sublimnya penggarapan, tidak terasa betapa tajamnya sebenarnya olokolok yang ditujukan terhadap suatu keadaan. Untuk dapat menangkap apa yang tersirat dalam satire pertunjukan Reog Panaraga; kita perlu meninjau latar belakang sejarahnya. Jaman kapan terciptailya pertunjukan tersebut, siapa penciptanya, apa motivasinya, lalu · bagaimana perkembangan selanjutnya. Dari sumber tradisi seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha, raja-raja Demak menyatakan dirinya sebagai keturunan dari Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Bahkan di Purwaka Caruban Nagari, disebutkan dengan jelas, bahwa Raden Patah adalah anak Prabu Brawijaya Kertabumi (Brawijaya V). Raja Kertabumi ini merebut kekuasaan Majaphit dad tangan Bra Pandhan Salas Dyah Suraprabawa (Briwijaya IV) yang masih kemenakannya, dengan jalan menyingkirkannya dari keratonnya di Tumapel pada tahun Syaka 1390 (= 1468 Masehi). Pada tahun Syaka 1400 (1278 M) kekuasaan atas tahta kerajaan Majaphit dapatdirebut kembali oleh anak Bra Pandhan Salas, yaitu Dyah Ranawijaya Girindrawardana (Brawijaya VI) dengan mengadakan penyerangan ke Majapahit. Dalam penyerangan Ranawijaya ini Bra Kertabumi gugur di kraton. Peristiwa gugurnya Bra Kertabumi di kraton Majapahit ini tersimpul dalam candra sangkala “sirna-ilang-kertaning-bumi” (= 1400 syaka, atau 1478 Masehi).

Panaklukan kerajaan Majapahit kemudian oleh Demak, dapat dianggap sebagai tindakan balasan . Adipati Unus (anak Raden Patah) terhadap Girindrawardana Dyah Ranawijaya, yang telah mengalahkan neneknya Bra Kertabumi. Demikianlah gambaran sejarah Majapahit Akhir, yang ditandai aengan persaingan dan pertikaian antar kerabat raja, sehingga kedudukan kerajaan yang pernah mencapai puncak jaman keemasannya, makinlama makin suram dan goyah. Antara klik yang satu dan klik yang lain saling berebutan Pengaruh. Ditambah dengan masuknya agama Islam yang sudah mulai banyak dipeluk oleh kalanga·n kraton sendiri, semakin menambah tajamnya pertentangan. Dalam masa pemerintal}.an Bra Kertabumi, yang dalam sastra babad lebih dikenal dengan sebutan Brawijaya yang terakhir, (yang sebenarnya bukan terakhir), salah seorang pembesar pembantunya, seorang cendekia berpangkat Bujangga Anom bernama Ki Ageng Ktut Surya Alam, telah menyingkir dari ibukota. Iamelihat keadaan negara sangat menguatirkan terancam’ keruntuhan. Raja. tidak lagi berwibawa. Surya Alam menganggap Raja terlalu banyak memberikan konsesi kepada permaisurinya yang beradal dari Cina dan beragama Islam itu. Surya Alam adalah penganjur agama Buda, karena itu ia tidak sependapat dengan kebijaksanaan baginda, yang banyak dipengaruhi oleh permaisurinya orang asing itu, baik kebangsaan maupun agamanya: Sering ia memperingatkan baginda, tetapi rupanya peringatan itu tidak termakan.

Maka ia pun menarik diri, dan menyingkir ke daerah Wengker (daerah Panaraga sekarang), tinggal di desa Kutu. Di desa Kutu ini Ki Ageng Surya Alam mendirikan sebuah “paguron” (pergunlan), yang mengajarkan “ilmu kanuragan” (ilmu kekebalan, ilmu kesaktian), di.samping ilmu kebatinan dan keprajuritan (ilmu perang). Muridnya makin lama makin banyak, dan rata-rata masih muda-muda. Selama dalam pendidikan mereka dik-!nakan disiplin yang keras, dikumpulkan dalam sebuah pondhok paguron (asrama), dan harus mematuhi persyaratan yang berat. Salah satu persyaratan yang unik yalah pantangan berkumpul dengan perempuan. Mereka yang melanggar pantangan tersebut akan kehilangan kesaktiannya. Untuk menyalurkan nafsu berahinya, maka diadakanlah apa yang sekarang kita kenai sebagai “gemblak”. Yaitu anak laki-Iaki rupawan dan halus sikap pembawaannya, yang didandani seperti perempuan. Menggauli gemblak demikian tidak menjadi pantangan. Mereka yang sudah dinyatakan lulus dalam pendidikan , diberikan predikat “warok”. Dan warok-warok ini benar-benar kebal dan sakti.

Pantangan bergaul dengan perempuan tidak berlaku lagi bagi mereka, tetapi sifat dan sikap berani, jujur, dan rendah hati harus tetap dipegang teguh, tidak boleh dilepaskan selama hidup. Ini sudah menjadi semacam kode etik mereka. Lambat laun “perwarokan: ” dan ” pergemblakan” tersebut membudaya, dan akhirnya sudah demikian kuat berakar di masyarakat, sehingga sampai sekarang pun nama Panaraga tidak dapat dipisahkan dengan warok dan gemblaknya. Kembali kita kepada Ki Ageng Surya Alam . Setelah ia mendirikan paguron kanuragan di desa Kutu tersebut, namanya menjadi terkenal dengan panggilan Ki Ageng Kutu. Apa maksud. Ki Ageng Kutu mendirikall, tempat paguron semacam itu Kiranya mudah diterka, kalau kita hubungkan dengan sikapnya yang melawan kebijaksanaan rajanya, yaitu Bra Kertabumi. Memberontak, itulah kesimpulan yang gampang. Tetapi dalam cerita babad atau tutur belum pernah diungkapkan adanya niatan pemberontakan dad pihak Ki Ageng Kutu itu. Mungkin hanya usaha membuat suatu kubu pertahanan dengan para warok sebagai kekuatan tulang-punggung, kalau sewaktu-waktu ia mendapat serangan dari pihak raja.

Bagaimanapun juga, ia menyadari benar bahwa sikapnya selama ini cepat atau lambat akan dianggap sebagai pemberontakan terhadap kerajaan. Tetapi perjuangan Ki Ageng Kutu lebih diarahkan kepada perjuangan idiil, perjuangan cita-cita, yang bertentangan sifatnya dengan kebijaksanaan yang dianut oleh Prabu Kertabumi. Hal ini dapat kiranya dibuktikan dengan hal-hal yang dilakukan olehnya lebih ilanjut. Karena Ki Ageng Putu adalah seorang bujangga, jadi seorang seniman, maka dalam memperjuangkan “ideologinya”, ia menggunakan sarana keseniah. 1a mencipta sebuah karya seni yang kemudian dinamakan REOG. Reog asli yang diciptakannya itu hanya sederhana sekali, tidak menggunakan peraga lebih dari secukupnya saja, dengan tetabuhan yang minim juga. Dengan kesederhanaannya, dan peralatan yang minim itu, sangat memudahkan Ki Ageng Kutu untuk memperbanyaknya menjadi beberapa unit menurut keperluannya atu unit Reog hasil ciptaan Ki Ageng Kutu menurut aslinya, terdiri dari:

 

a. para pelakunya.

1. Singabarong dengan bulu meraknya;

2. Bujangganong atau Ganong;

3. dua Jathil, yaitu penari penunggang kuda kepang, laki-laki dengan dandanan perempuan.

 

b. tetabuhannya.

1. sebuah kendhang;

2. dua angkiung;

3 .sebuah kenong;

4. sebuah gong;

5. sebuah selompret.

 

c. pengiring, terdiri dari beberapa orang, yang tidak ditentukan jumIahnya. Tugasnya serabutan, membantu di mana diperlukan, dan terutama memeriahkan suasana dengan senggakan-senggakan dan sorak-sorainya yang riuh gemuruh.

 

Dengan penampilan kesenian Reog yang diciptanya itu, Ki Ageng Kutu ingin membuat “prasemon”, yaitu gambaran karikatural situasi negaraMajapahit pada waktu itu. Singabarong dimaksudkannya ‘ sebagai pengejawantahan ‘ raja Bra Kertabumi yang sedang berkuasa. Singabarong dalam kehidupan kawanan margasatwa diumpamakan sebagai raja. Tetapi Singabarong Reog ini menyunggi burung merak, yang melambangkan, bahwa permaisurinya, seorang puteri Cina, sedang menduduki kepala sang raja. Maksud kiasannya yalah, bahwa kewibawaan raja sudah dikalahkan oleh permaisurinya, sang puteri Cina yang cantik lagi congkak itu . Sebagaimana kita ketahui, burung merak adalah sejenis burung yang mempunyai bulu yang indah dan mewah, berwama hijau kemilauan. Dalam penampilannya tampak congkak dan angkuh.

Adapun Bujangganong atau Ganong adalah potret diri sang bujangga sendiri. Pangkat Bujangga Anom disandikan menjadi Bujangganong. Kecuali nama itu lucu kedengarannya, maksud sang bujangga Penampilan Bujangganong itusendiri sengaja dibuat lucu, baik dalam ulah ” tarian”nya, maupun ujudnya. Ujud ini digambarkan dalam bentuk topeng yang berwama merah (lambang keberanian), sepasang mata yang melotot (lambang “mampu melihat kenyataan”), hidung panjang, kumis panjang, dan rambut panjang (yang serba panjang ini melambangkan “mampu berpanjang nalar” ).  Ujud Bujangganong itu menakutkan, khususnya bagi anak-anak, tetapi pun membuat mereka ketawa senang, karena lucunya. Maksud pasemon ini yalah, bahwa sang bujangga bersungguh-sungguh, tidak main-main, yang dinyatakan dalam sikapnya yang terus-terang. Menentang kebijaksanaan raja, oleh sebab itu ditakuti oleh orang-orang yang bertingkah seperti kanak-kanak, yang dimaksudkan: para pejabat kerajaan Majapahit waktu itu, termasuk raja Kertabumi. Tetapi sebenarnya sang bujangga ingin berbuat senang bagi mereka, bahwa sang pujangga tidak perlu ditakuti, karena memang tidak ada maksud menakut-nakuti siapa pun.

Hanya yang berbuat tidak benar itulah yang merasa takut. Maka dalam gerak tariannya pun,  Bujangganong kadangkala mendekat berhadapan muka dengan Singabarong, maksudnya mengajak berdialog, tetapi kalau singabarong menjadi marah dan hendak menerkamnya, maka Bujangganong menghindar lari menjauh, kadang-kadang berada di belakang Singabarong, tetapi tidak meninggalkannya. Maksudnya: Sang Bujangga mendekati sang Prabu, berdialog, menasehati, memperingatkan, tetapi kalau sang Prabu menjadi marah, sang Bujangga mengundurkan diri, tetapi masih tut-wuri, tidak mau meninggalkan. Jadi tidak ada niatan untuk memberontak atau mengkhianati. Sepasang penari jathilan menggambarkan prajurit Majapahit, tetapi dengan dandanan seperti perempuan, solah tingkahnya pun kewanitawanitaan, artinya: prajurit Majapahit sudah kehilangan kejantanannya.

Namun yang demikian itu tidak menjadi perhatiannya. Disiplin prajuritnya sudah demikian merosotnya, sampai-sampai ibarat si prajurit sudah berani duduk di atas kepala sang raja.  Dalam tiap , pertunjukan Reog Panaraga pasti terdapat adegan penari Bunyi tabuhan yang riuh, dibarengi dengan sorak-sorai senggakan senggakan yang riuh pula, menggambarkan usaha sang Bujangga untuk menari perhatian rakyat agar mau menyaksikan tingkah laku raja. Senggakan-senggakan yang bernada olok-olok yang sering ditujukan kepada Singa barong .. mengandung maksud, bahwa rakyat memperolok-olok.

Demianlah Reog Panaraga benar-benar merupakan suatu pertunjukan yang sangat istimewa tidak sekadar main akrobat atau pun demonstrasi, kekuatan otot singo barongan megang peranan, yang pada jaman permulaannya kekuata otot ini dulu dibarengi dengan kekuatan dalam , kekuatan kanuragan, yang dilakukan oleh warok-warok. Juga bukan sekadar suatu show seperti sekarang yang siap dijual murah untuk konsumsi wisatawan , Satire yang terkandung di dalamnya tetap merupakan cermin peringatan sepanjang masa, juga bagi kita semua. Setiap saat peristiwa semacam gejala ketahan Majapahit tetap mengancam ketahanan nasional kita. Tentu saja si burung merak sudah berganti rupa, entah apa. Dengan demikian para pujangga muda kita harus tetap waspada untuk tidak perlu harus menjadi bujangganong. Para prajurit harus tetap jantan untuk tidak menjadi prajurit jathilan yang menari di atas kuda kepang. Itulah amanat hakiki sang Bujangga Ki Ageng Kutu yang disiratkannya melalui Reog Panaraga karya ciptaannya.

Dalam pada itu Prabu Brawijaya Kertabumi tidak tinggal diam. Ia mengutus salah seorang puteranya, Raden Kebokenanga alias Raden Katong, mengadakan penglacakan terhadap Ki Ageng Surya Alam , yang disinyalir konon berada di daerah Wengker. Raden Katong berangkat dengan lebih dulu singgah di Bintara, menghadap kakaknya, yaitu Adipati Bintara, Raden Patah. Raden Patah ini putera Prabu Brawijaya Kerta bumi lahir dari ibu seorang puteri Cina, permaisuri baginda. Setelah dewasa ia diangkat oleh baginda menjadi Adipati Bintara, dan di sinilah Raden Patah merintis pemekaran agama Islam bersama-sama para wali. Raden Patah pun merencanakan untuk mengIslamkan daerah Wengker, yang masyarakat penduduknya kebanyakan- masih memeluk agama Budha. Dari Sunan Kalijaga, seorang dari kesembilan wali, Raden Patah mendapat info asli, bahwa Ki Ageng Surya Alam, penganjur agama Budha yang berada di Wengker itu, merupakan kelilip yang membahayakan bagi kedudukan kadipaten Bintara dan agama Islam.

Maka kedatangan Raden Katon ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Disarankannya kepada Raden Katong untuk memeluk agama Islam, dengan demikian rintisan peng Islaman daerah Wengker dapat dipercayakan kepadanya disamping tugasnya melcak Ki Ageng Surya Alam. Untuk memikat masyarakat penduduk derah Wengker yang masih percaya kepada Dewa-dewa, maka disarankan Dia agar Raden Katong menambahkan gelar Bathara di depan namanya. maka berangkatlah Bathara Katong ke Wengker, dengan didampingi oleh seorang ulama yang menjadi penasehatnya. Tidak perlu diceritakan, betapa Bathara Katong membuka hutan, mempersiapkan daerah pemukiman di kawasan Wengker, dan betapa pula ia berhasil memperoleh banyak pengikut diri sedikit ke sedikit, kini langsung dituturkan, bahwa ia akhirnya berhasil pula bertemu dengan teman lama yang dicarinya: Ki Ageng Surya Alam. Mereka lalu mengadakan pertemuan.

Akan tetapi dalam pertemuan itu mereka tidak mendapatkan persesuaian pendapat. Perang tidak dapat dihindarkan, karena masing-masing pihak mempertahankan prinsipnya sendiri.  Pada babakan-babakan pertama Bathara Katong menderi kekalahan. Ki Ageng Surya Alam adalah lawan yang tangguh. Tetap, Bathara Katong pun bukan orangnya yang mudah menyerah kalah. Ia mencari bantuan pada seorang bernama Ki Ageng Muslim, yang di desanya lebih dikenal dengan panggilan Ki Ageng Mirah. Tetapi Mirah ini sebenarnya bukan namanya sendiri, melainkan nama anak gadisnya. Nama aslinya Anggajaya, semula pengikut dan murid Ki Ageng Kutu juga. Jadi ia pun seorang warok yang sakti pula. Kemudian memisahkan diri, lalu masuk agama Islam. Sejak itu ia berganti nama Ki Ageng Muslim. Tetapi karena desa yang ia tempati adalah hasil cikal bakalnya sendiri yang Juga dinamakan desa Mirah, maka nama yang tetap populer baginya yalah Ki Ageng Mirah.

Bantuan Ki Ageng Mirah membuka lembaran baru bagi perjuangan Bathara Katong, karena pengaruh Ki Ageng amat besar dan banyak pula pengikutnya. Tetapi bagi Ki Ageng Kutu merupakan titik balik. Dalam menanggulangi serangan-serangan gadungan Bathara Katong – Ki Ageng Mirah ini, sering Ki Ageng Kutu tetpaksa berpindah-pindah tempat. Banyak anak buahnya yang gugur, dan akhirnya Ki Ageng Kutu sendiri pun harus mengakui keunggulan lawan. Ia tewas. Konon menurut kepercayaan orang, ia muksa bersama raganya.  Sepeninggal Ki Ageng Kutu, kesenian Reog yang sudah membudaya dan berurat-akar di masyarakat, diteruskan oleh Ki Ageng Mirah, tetapi segala unsur yang mengingatkan kepada kejayaan Ki Ageng Kutu dihapus.

Akar-akar atau naluri yang menebalkan kepercayaan tentang dunia perwarokan dihilangkan. Motivasi satirik penciptaan Reog Panaraga yang ditujukan untuk menjatuhkan nama Prabu Brawijaya Kertabumi dibuang dan diganti dengan latar belakang legendarik yang diambilkan dari cerita Panji. Tokoh-tokoh peran yang semula tidak ada, ditambahkan, seperti Kelana Sewandana, Sri Genthayu, Dewi Sanggalangit, dan seterusnya, ‘makin lama m,akin banyak menurut perkembangannya kemudian. Penggantian motivasi satirik dengan latar belakang legendarik tersebut tidak mengalami kesukaran, sebab lahiriah hampir tidak mengalami perubahan, kecuaIi menambah tokoh Sewandana dan lain-lain. Sebagaimana dipaparkan di muka, satire yang dituangkan dalam kesenian Reog sudah demikian sublimnya, sehingga tidak sembarang orang manyadari adanya olok-olok yang sengaja ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Bagi Ki Ageng Mirah sendiri, hal itu sudah barang tentu bukan rahasia lagi, karena ia memang bekas kepercayaan Ki Ageng Kutu.

Dengan timbulnya perpecahan dan permusuhan antara Ki Ageng Kutu dan Ki Ageng Mirah yang sama-sama waroknya dan berasal dari satu paguron yang sama, kemudian saling berpisah mengikuti alirannya masing-masing, Yang satu berkiblatkan kepada pandangan agama Budha yang dipertahankan, yang lain menganut ajaran agama Islam yang bersikeras hendak menghapus agama Budha, dapat kita bayangkan betapa dunia perwarokan yang semula utuh itu lantas mengalami perpecahan yang semakin lama semakih parah. Dengan dihilangkannya akar-akar atau naluri kepercayaan masyarakat terhadap dunia perwarokan oleh Ki Ageng Mirah dalam usahanya menghapus pengaruh Ki Ageng Kutu, maka paguron kanuragan sebagai pusat pengadaan kader-kader warok, dengan sendirinya dilarang. Tetapi dunia perwarokan yang sudah membudaya dan berakar di masyarakat tidak mudah dihilangkan begitu saja, terutama bagi mereka yang tetap setia menganut ajaran Ki Ageng Kutu.

Mereka meneruskan paguron tersebut secara perorangan (privaat), dan tidak terang-terangan melainkan terselubung dalam ulah kegiatannya. Dalam hal ini ulah kesenian Reoglah satu-satunya peninggalan Ki Ageng Kutu yang mendapat legalisasi, meskipun dengan inotivasi lain. Tidak mengherankan, bahwa dalam waktu yang tidak lama munculnya kelompok-kelompok unit Reog seperti jamur di musim hujan layaknya. Rertahun-tahun kemudian, setelah masa pertentangan antara penganut aliran Ki Ageng Mirah dan Ki Ageng Kutu terlampaui, dan keadaan lambat laun mereda dan semakin stabil , maka kelompok-kelompok unit Reog yang sekian banyaknya tanpa koordinasi ilu cenderung berkembang sendiri-sendiri menurut iradatnya masing-masing, dan sayang tidak tanpa ekses. Egoisme manusia mengambil peranan menonjol justeru .dalam keadaan yang sudah aman dan damai, karena “semangat kesaktian dan perjuangan” yang tersimpan menumpuk dalam dada para warok itu memerlu kan penyaluran keluar dan mencari sasaran.

Sasaran itu ditemukan pada sesama warok ‘ melalui unit-unit Reog yang mereka wakili masing-masing, tidak jarang terjadi. Sangat boleh jadi pada awal mulanya sebagai semacam “pertunjukan pameran”, suatu “exibition show”, akan tetapi lambat laun terdapatlah ekses-ekses yang pada akhirnya membuat arena ‘ pertunjukan Reog sering berubah meiljadi kancah perkelahian masal; unit Reog yang satu melawan unit Reog yang lain, termasuk para penabuh dan pengiring kedua belah pihak. Dalam istilah mereka. perkelahian masal demikian dinamakan “tempuk”. Tentang “tempuk” ini dapat dituturkan sebagai berikut. Biasanya padii” bulan Besar banyak orang mempunyai hajat mengawinkan anaknya. Maka sering kali terjadi beberapa rombongan perarakan pengantin saling berpapasan dalam perjalanan pulang kembali dari kenaiban . atau waktu berangkatnya. Karena adanya persaingan satu sarna lain , warok yang satu ingin mengungguli wilTok’ yang lain. maka perkelahian tidak dapat dihindarkan. Masing-masing lalu mencari lawannya sejenis: Singabarong lawan Singabarbng, Bujangganong lawan Bujangganong, Jathilan lawan Jathilan , penabuh lawan penabuh. dan bahkan pun kuda tunggangan mempelai kedua belah . pihak dihasut untuk saling bertarung. Keruan saja terjadi kekalutan hebat, yang berakhir dengan rusaknya peralatan, pakaian, dan perhiasan. serta jatuhnya korban luka-luka.

Kalau pihak yang satu berhasil menyingkirkan piliak lawannya, maka dengan penuh rasa bangga pillak yang menang itu pun meneruskan perjalanan semlfari berjogedan dan bersorak-sorai. Kadang~kadangpun dengan membawa rampasan berupa barang.barang hiasan piliak yang dikalahkan. Biasanya saban unit reog memasang genta pada ujung kanan dan kiri kedhok dhadhakmeraknya, . yang pada tiap gerakan mengeluarkan bunyi. Kalau unit reog demikian sedang berpapasan dengan unit yang lain, ‘ dan keduanya membiarkan genta masing-masing berbunyi, maka itu berarti sarna-sarna berani, dan pasti bertarung. Tetapi kalau salah satu pihak, entah karena tidak berani, atau malas berkelahi, atau menjaga keselamatan, maka gentanya disumbat dengan secarik kain atau lainnya, sehingga tidak akan mengeluarkan bunyi.

Dengan demikian tidak akan terjadi perkelahian. Mereka akan berpapasan dengan ·aman. Namun demikian, sudah barang tentu pihak yang mengalah itu harus pandai-pandai menahan hati untuk tidak terbakar oleh sikap ‘ dan lagak rombongan reoglawannya yang memamerkan kebesaran dan . :esombongannya, yang, kalau ditanggapi, memang sangat menjengkelkan dan menyakitkan hatibenar. Sejak kapan tepatnya “tempuk” demikian mulai timbul, tidak diketahui dengan pasH. Tetapi pada permulaan abad ke-20, tepatnya pada tahun 1912, pernah terjadi pertarungan seru antara dua orang warok bernama Pardi dan Kardjan, berikut unit reognya masjng-masing, yang berakhir dengan bacokan hingga keduanya tewas. Sejak itu pemerintah kolonial Hindia Belanda meiarang adanya pertunjukan reog.  Tetapi Panaraga tanpa reog, agaknya merupakan keganjilan yang tak bertemu nalar. Hal ini dirasakan benar oleh seorang Wedana distrik Arjawinangun , dan melalui Bupati Panaraga Raden Tumenggung Syam, diusulkannya kepada pemerintah Hindia Beianda untuk menghapus larangan tersebut, dan mengijinkan kembali pertunjukan Reog Panaraga. Usul diterima dengan syarat tidak boleh mcmbuat keonllran, bersedia mematuhi segala ‘peraturan pemerintah , dan ikut menjaga ketcrtiban umum. Itu terjadi pada tahun 1936, berarti Reog Panaraga sempat tidur lelap selama 24 tahun. Namun ketinggalan 24 tahun terkejar juga akhirnya.

Pada jaman penjajahan Jepang tahun 1942 – 1945, Reog Panaraga mengalami pasang surutnya kembali. Reog sebagai kesenian rakyat tidak mendapatkan tempat dan peluang untuk berkembang secara wajar scperti yang sudah. Semua anggota unit-unit Reog tidak luput dari bermacammacam kewajiban yang digerakkan oleh pemerintah Balatentara Dai Nippon untuk membantu memenangkan Perang-Asia-Timur-Raya-nya (Perang Dunia lI). Mereka diikutkan dalam gerakan Seinenda (pemuda), Keibodan (pembantu keamanan desa), kinrohoosyi (gcrakan gugur gunung), Romusha (kuli paksa), Heiho (prajurit Dai Nippon) dan sebagainya. Waktu dan enerji mereka praktis tidak tersisa untuk mengurusi kesenian Reog.

Tetapi harapan cerah kembali ketika tahun 1945 tiba dengan jatuhnya Jepang. Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya kepada dunia, tetapi segera terlibat dalarn kancah revolusifisik rnelawan BeIa:nda yang ingin menjajah kern bali. Reog yang rnulai dikenal kernbali rnernpunyai potensi .penggerak ,rnassa yang dinilai sangat efisien, rnendapat peluang · untuk ‘ bangkit dan . berkernbang lagi. Tetapi sayang untuk rnengalami rnalapetaka yang .lebih parah lagi, dengan dilibatkannya dalam satu gerakan petualangan politik rnelawan pernerintah sendiri pad a waktu itu, yang terkenal dengan Affair Madiun (1948). Akibatnyaparah sekali. Reog, yang sernula tersebar di tiap-tiap desa, setelah Affair Madiun, yang segera disusul dengan perang kernerdekaanII, hanyalah tinggal yang berada di ibukota-ibukota kecarnatan, yang langsung rnendapat pernbinaan dari pernerintah seternpat rnelalui KODIM (Kornando Distrik Militer). Luka .yang ditirnbulkan Affair Madiun rnulai terobati lagi. Sedikit demi sedikit nampak kesernbuhannya untuk kernudian pulih giat kernbali seperti sernula. Menyambut hari depan.

Tetapi rupanya hari depan itu tidak secerah diharapkan. Percobaan kedua datang rnenjelang dengan berdirinya sebuah organisasi yang dinamakan Barisan Reog Panaraga, atau disingkat BRP, di bawah panji-panji Partai Kornunis Indonesia (1955), sebagai alat untuk mengikat rnassa dalarn rangka rnemenangkan suara daliun pernilihan umurn. Agaknya orang-orang kornunis Indonesia tahu benar’ kernarnpuan Reog Panaraga sebagai penggerak rna.ssa. Tanpa ragu-ragu Reog ditungganginya lagi seperti di tahunl948. Hanya bedanya tahun 1948 secara illegal, sedang tahun 1955 secara legal , karena pada tahun 1955 itu hak hidup Partai Kornunis Indonesia diakui secara hukurn. Tetapi kekuatan politik di hiar .PKl cukup waspada. BRP ditandingi oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan BREN-nya (Barisan Reog Nasional) dan oleh Nahdiatul ‘Ulama (NU) dengan Reog Cakranya.

Dengan demikian kesenian Reog menjadi selubung pertarungan sengit antara partai-partai politik. Ada juga unit-unit Reog yang berada di luar itu sernua, tetapi jurnlahnya tidak seberapa. Dengan pecahnya pernberontakan G.30S PKI tahun 1965, maka Reog rnendapat pukulan berat lagi, terutama yang tergabung dalam BRP. Menurut catatan Kantor Seksi Kebudayaan Kabupaten Panalaga, yang sarnpai 1965 tercatat 385 unit Reog, gada tahun 1969 tinggal 90 unit.

Kini, tahun 1979, sepuluh tahun kemudian, belum diketahui berapa jumlahnya, tetapi jelas mengalami kebangkitannya kembali dengan lebih dewasa lagi, melalui penertiban integral dalam era pernbangunan budaya bangsa. Panaraga. memang tidak dapat dilepaskan dari Reognya. Reog Panaraga mengalami pasang naik dan . pasang surutnya sejalan dengan pasang naik dim pasang turunnya ·perjuangan bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaannya. Demfkianlah gambaran sekilas latar belakang sejarah Reog Panaraga dan perkembangannya dari masa ke masa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. ………99

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Legenda, Ponorogo, Sejarah, Th. 1978 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sejarah Reyog Ponorogo

  1. Ping balik: wisata kuliner ponorogo | Info Wisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s