Rusdy Bahalwan


Rusdy Bahalwan Menganggap Sepak Bola Itu Ibadah

7 Juni 1947,  Rusdy Bahalwanlahir diSurabaya, dari pasangan Ali Bahalwan dan Rugaiyah Baadillah. Ayahnya  Ali Bahalwan adalah pemain sepak bola dan pernah memperkuat Persebaya di posisi kiri luar.

Ketika umur 9 tahun Rusdy kecil berobsesi untuk menjadi Yacob Sihasale yang sangat dikenal kala itu, yang bisa nendang dengan salto.

Tahun 1966, Rusdy menamatkan sekolahnya  SM A Negeri 6  Surabaya,

Tahun 1967, masuk Fakultas Ekonomi Unair, Saat di Unair ini, waktu Rusdy banyak dihabiskan untuk sepak bola. Ia sampai bolak-balik Surabaya-Jakarta untuk mengikuti TC tim nasional. Pada akhirnya Rusdy memilih keluar dari Unair dan menekuni karirnya di sepak bola.

Tahun 1968, Umur 14 tahun, Rusdy ikut klub Assyabaab amatir  sampai berhenti jadi 1979, yakni setahun setelah ikut mengantarkan juara tampil sebagai juara kompetisi Divisi Utama.

Tahun 1970, Selama jadi pemain di klub yang diasuh Moh. Barmen ini.  Assyabaab meraih tahta kompetisi kelas utama Persebaya. Kemudian berlanjut Rusdy dipanggil memperkuat Persebaya. Menjadi pemain Persebaya ini, Rusdy harus bekerja ekstra keras. Sebab persaingannya sangat ketat. Posisi Rusdy yang semula jadi libero, pun akhirnya harus rela ditinggalkan. Ini karena Rusdy kalah bersaing dengan Samidi. Rusdy akhirnya digeser di bek kiri Di posisi bek kiri ini, Rusdy masih bersaing dengan Hendra Lesmana. Untuk melewati persaingan itu, Rusdy tak main- main. Dia berlatih serius dan terukur, baik di klub maupun latihan sendiri. Rusdy pun berlatih 34 jam per hari.

Tahun 1970-1980, Awal Karier persepakbolaan sebagai pemain Persebaya, nama Rusdy meroket bak meteor. Dia telah jadi simbol Persebaya. Perannya diakui sangat besar. Dia selalu jadi pemain inti sekaligus dipercaya sebagai kapten Persebaya. Berkat kegigigihan dan kemampuannya, Rusdy akhirnya dipanggil masuk skuad tim nasional PSSI, RUSDY dan sejumlah pemain seperti Subodro, Abdul Kadir, Jaka Malis, I Wayan Diana, dan Purwono, telah menjadikan Persebaya sebagai tim yang disegani Seluruh tim sepak bola di Tanah Air akan keder bila tahu akan bertanding dengan Persebaya.

1972-1975. Bersama tim nasional itu, Rusdy berhasil menjadi juara Piala Sukan di Singapura, Tahun 1972-1975, Pemain tim nasional PSSI, Rusdy sebagai pemain langganan tim nasional yang punya tendangan yang keras dan terarah. Atau piawai meliuk-liukkan tubuhnya mengecoh lawan. Tahun 1984, Pelatih Terbaik PSSI, Yang mampu memberikan ketenangan dan bimbingan kepada pemainnya hingga meraih kemenangan. Rusdy sepuluh tahun silam yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin.

1976. Ketika ikut kompetisi Piala Marah Halim, pemain Persebaya diundang ke rumah Anwar Lutan. Berkenalannya dengan Ramadhani , putri Anwar Lutan , pelatih PSMS yang pernah melatih Persebaya. Ramadhani  juga adik Ainan Jaya teman Rusdy semasa membela klub Assyabaab.

Tahun 1985, pertama kali Rusdy menjadi pelatih Klub, yang ditanganinya adalah PSIL Lumajang. Bayaran yang diterima saat itu hanya Rp 200 ribu Ini tentu sangat kecil bagi ukuran pelatih sekelas Rusdy Sebab, setahun sebelumnya, Rusdy adalah satu dari tiga pelatih terbaik yang memperoleh sertifikat S-l dari PSSI. Dua lainnya adalah Sarman Panggabean dan Edy Sofyan.

Tahun 1986, ia menangani tim mahasiswa Untag Surabaya. Saat menangani Untag itu, Rusdy berhasil menorehkan prestasi gemilang menjadi juara Antar-Perguruan Tinggi,  Debut Rusdy sebagai pelatih mulai terlihat saat ia diberi kepercayaan oleh Komda PSSI Jatim menangani tim PON XII, 1986. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Rusdy ingin menunjukkan kalau prestasi yang diraihnya sebagai tiga besar pelatih terbaik di Tanah Air, bukan isapan jempol. Sebagai pelatih bani, prestasi yang diraihnya tergolong cukup bagus. Kala itu, pertama kali tim PON Jatim meraih medali perak. Sebelumnya, prestasi terbaik Jatim paling banter medali perunggu Sejak itu, nama Rusdy Bahalwan mulai ramai dibicarakan. Sejumlah kalangan pecinta dan pengamat bola percaya Rusdy adalah pelatih bertangan dingin dan berkarakter, la bisa menjadi oase di tengah kepenatan para pemainnya.

Tahun 1989, Sarjana FIA Untag,

Tahun 1990, Surabaya. Persebaya meraih gelar juara Piala Utama, sebuah turnamen bergengsi yang mempertandingkan empat wakil tim-tim Perserikatan dan Galatama (profesional),  hasil polesan Rusdy ini mampu mengobati kedahagaan sepak bola

Tahun 1996, Pelatih PON Jatim XII (meraih emas), masa emas Rusdy menjadi pelatih favorit mengalahkan M. Basri, Prestasi terbaik Rusdy kembali diukir setelah ia menukangi tim PON XIY 1996. Dibantu Subodro, Rusdy berhasil meraih prestasi gemilang merebut medali emas sepak bola. Raihan ini sangat bersejarah mengingat setengah abad mengikuti PON, baru kali pertama Jawa Timur berhasil meraih emas dari cabang sepak bola.

1997-1998. Dia berhasil membawa Persebaya juara musim kompetisi Keberhasilan ini membuat Rusdy terus meningkatkan kualitas diri. Ia tak berpangku tangan untuk melakukan instrospeksi dan retrospeksi. Di Liga In­donesia III, Rusdy yang menangani Persebaya, menunjukkan kelasnya sebagai pelatih bertangan dingin.

Tahun 1977-1978, Berhasilnya, bersama klub kebanggaan Arek-Arek Suroboyo ini, ia ikut menikmati gelar juara, yakni juara I Kompetisi Divisi Utama Perserikatan.

Tahun 1989, Rusdy melanjutkan kuliah S-l di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya.

1990 Selama menjadi pelatih, dia mendapatkan kesempatan ke Italia, nonton pertandingan World Cup.

Tahun 1991. Juga menimba ilmu sepak bola di Brasil,  dari sepak bola semuanya telah didapatkan

2 Desember 1979. Menikah. Ketika itu  Ramadhani  masih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Di karuniai tiga anak ,Irfan Bahalwan, Khaira I mandiha Bahalwan dan Ikhwannurdin Bahalwan.

1998 PSSI menunjuk dia sebagai pelatih timnas yang kemudian menjadi semifinalis Piala Tiger.

Tahun 2003, Menamatkan (S-2)  Magister Ilmu Pemerintahan Untag,

Desember 2005,   Di rumahnya Rungkut Mejoyo Selatan 1/38 Surabaya, Tangan dan kakinya sulit digerakkan, gangguan keseimbangan yang dialaminya, setahun lalu. Hasil analisa sementara dari dokter, dia mengalami gangguan keseimbangan sehingga kakinya sulit dipakai berjalan. Namun Rusdy tetap sosok yang gigih dan penuh semangat. Sampai sekarang, Rusdy masih aktif memantau perkembangan, sepak bola di Tanah Air. Hari-harinya yang banyak dihabiskan di rumah digunakan untuk membaca dan menulis. Siwhoto

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Ditulis oleh Tim Pustaka  Jawatimuran – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sumber Data & Foto Kantor Pariwisata Kabupaten Lumajang, Surabaya, 2012

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sosok, Surabaya, Th. 2012 dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Rusdy Bahalwan

  1. ambar berkata:

    persebaya tim yang bagus dari segi prestasi, lebih bagus lagi kalau bisa menghapus citra buruk dari segi sportifitas, penonton dan suporter.

    • Sebenarnya berbeda antara suporter dengan tim, namun dua-duanya tidak bisa dipisahkan dan saling terkait dan saling membutuhkan, mudah-mudahan mendatang suporter mendapatkan porsi binaan yang seimbang. Dalam hal ini kita sebagai masyarakat jawa timur umumnya, surabaya khususnya hanya berharap kepada pemerintah daerah. Tapi yang lebih penting adalah penyadaran pada diri kita sendiri para penggila bola persebaya, bahwa bola adalah milik dan untuk kita bersama. Terima kasih atas kunjungannya di PUSAKA JAWATIMURAN salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s