Cu-Cuan, Permainan Masyarakat Madura


Deskripsi Permainan

“Cuuuuuuu……………….”, itulah suara yang diserukan oleh anak-anak yang ditugasi untuk mengejar lawannya bermain. Oleh karena itu, permainan ini disebut cu-cuan Cu-cuan berarti bermain cu. dan kata cu di sini tidak mengandung pengertian apa-apa selain tiruan suara cu yang panjang tersebut.

Permainan cu atau cu-cuan ini sangat digemari oleh anak-anak petani di daerah Bangkalan, Madura. Pada umumnya yang me­lakukan permainan ini adalah anak-anak petani. Dalam kaitannya dengan peristiwa lain, baik upacara keagamaan atau upacara tra­disional lainnya tidak ada sama sekali. Permainan ini sifatnya hiburan untuk mengisi kekosongan waktu yang terluang di siang hari, setelah pulang dari sekolah atau setelah melakukan pekeijaan yang harus dilakukan di rumahnya.

Dalam pelaksanaannya, permainan cu-cuan tidak diiringi nyanyian atau pun musik gamelan, yang terdengar hanya suara “cuuuuu     “ke luar dari mulut anak yang sedang mencari atau mengasyikkan karena selain sederhana, permainan ini sangat mudah dimainkan. Hal ini, karena yang diperlukan menguji ke­mampuan fisik seperti kegesitan, keuletan dan mengatur pernapas­an serta mengasah kecerdasan dan kecerdikan. Selain sifatnya hiburan, permainan ini juga bersifat kompetitif karena ada lawan bermain dan ada ketentuan kalah menang.

Permainan cu-cuan dimainkan oleh anak-anak yang beijumlah anak-anak sebanyak sepuluh orang. Jumlah itu lalu dibagi dua kelompok dengan kekuatan yang seimbang, dan para pemain ini rata-rata berusia sekitar antara sembilan sampai dengan dua belas tahun. Permainan tersebut selain dimainkan secara berkelompok dapat pula dimainkan secara perorangan, yakni satu lawan satu hanya saja bila dimainkan terasa kurang mengasyikkan. Oleh karena itu lebih sering dimainkan secara berkelompok sehingga permainan tersebut menjadi lebih meriah dan semarak.

Pada umumnya cu-cuan dimainkan oleh anak laki-laki, namun tidak menutup kemungkinan bagi anak perempuan untuk memain­kannya. Hanya saja biasanya anak perempuan sebagai penonton, sebab dalam permainan memerlukan kegesitan serta ketahanan napas sehingga permainan tersebut seolah-olah hanya dilakukan oleh anak laki-laki.

Peralatan yang dipergunakan dalam cu-cuan ini tidak ada, kecuali sebuah tonggak atau pohon atau pun bengko untuk tem­pat hinggap yang disebut “penclokan”, tetapi jika ini tidak ada dapat pula dibuatkan sebuah lingkaran kecil di atas tanah.

Apabila para pelaku permainan telah mencukupi, maka dicari­lah lapangan permainan yang ada pohonnya, atau tonggak sebagai bengko (rumah) tempat hinggap “penclokan”. Kemudian dilaku­kan konsensus dalam pemilihan anggota kelompok. Pada mulanya anak-anak mengambil pasangannya yang dianggap sebaya, sama besar dan sama tinggi serta diperkirakan pula seimbang kekuatan fisiknya. Masing-masing pasangan tersebut melakukan “suten”. Pihak yang kalah “suten” berkumpul dalam satu kelompok, demikian pula yang menang suten berkumpul dalam satu kelom­pok. Dengan demikian terjadilah masing-masing kelompok pemain yang sepadan kekuatannya, kemudian wakil atau pemimpin dari masing-masing kelompok melakukan suten kembali untuk menen­tukan kelompok yang dadi, yang berperan sebagai pengejar, dan kelompok yang bertahan. Kelompok yang dadi ini menguasai sebuah penclokan (tempat hinggap) yang merupakan pangkalan mereka yang netral, sedangkan kelompok yang bertahan mengu­sai seluruh halaman. Misalnya, kelompok A .yang dadi dan kelom­pok A yang dadi dan kelompok B yang bertahan.

Setelah diketahui bahwa kelompok A yang dadi dan kelompok B yang bertahan, maka permainan pun dimulai. Kelompok A yang gerombol di penclokan. Kelompok B yang bertahan berpencaran di halaman dan bersembunyi. yang dapat dilakukan secara bergantian dengan sesama teman kelompoknya. Di sini pimpinan kelompoklah yang berkewajiban mengatur dan menyusun urutan gilir sebelumnya. Untuk turun ke lapangan ini tidak boleh dilakukan lebih dari dua orang, tetapi harus ada yang tinggal menjaga penclokan. Hal ini penting sebab apabila teman kelompoknya (kelompok A) yang turun ke lapang­an kehabisan suara, ia akan kembali ke penclokan dalam kejaran lawan (kelompok B). Oleh karena itu, untuk menghindari ter­tangkapnya teman sekelompok (kelompok A) maka si penjaga penclokan segera ganti mengejar lawannya yang mengejar teman sekelompoknya (kelompok A) sambil bersuara “cuu-uuku               ………………………………”.

A j yang diperintah untuk turun ke lapangan ini lalu melaku­kan pencaharian. Ia (Aj) sambil bersuara “cuuuuu . . . .” mencari tempat persembunyian lawannya, (kelompok B). Bila berhasil diketemukan, maka lawan (kelompok B) yang bersembunyi di­kejarnya sampai dapat, tetapi jika hampir kehabisan napas harus segera kembali ke tempat pangkalan untuk mengambil napas dan kemudian turun ke lapangan kembali untuk mencari dan mengejar sambil bersuara “cuuuuuuu                …………………………….”. Hal ini dilakukan karena pada waktu mencari dan mengejar, “cuuuuuu……………………” tidak boleh terputus.

Apabila A^ berhasil mengejar dan menggapai salah seorang lawannya (kelompok B) dengan sempurna, artinya sebelum suara “cuuuuu……………………   ” terputus karena kehabisan napas maka kelompok B dinyatakan kalah. Tetapi bila A| belum berhasil menggapai lawan, namun sudah merasa akan kehabisan napas, Aj harus segera kembali ke penclokan sebelum “cuuuu . . . … ” terputus di tengah jalan. Dan setelah berhasil ia hinggap di penclokan. maka seorang kawan sekelompoknya (misal A->) menggantikannya dan segera turun untuk mengejar lawan sambil menyuarakan  “cuuuuuu……………             ” secara terus menerus pula. Sasarannya tidak perlu orang yang sama, tetapi dapat berganti-ganti mana yang paling baik untuk memberi peluang.

Begitu pula jika Aj belum berhasil menggapai lawan, namun sudah terlanjur kehabisan napas sehingga'”cuuuu . . . .” terputus. Maka situasi pengejaran berubah, Aj yang semula mengejar kini berbalik dikejar oleh bekas buruannya bersama-sama dengan teman-teman sekelompoknya (kelompok B). Dalam pengejaran berhasil menghindar dan selamat kembali ke penclokan (pangkal­an), berarti bebaslah ia dari kejaran. Sebaliknya, kawanan kelom­pok B yang mengejar harus waspada, sebab begitu Aj hinggap di penclokan, salah seorang pengganti Ai, yakni A-> sudah siap me­nyergap mereka sambil menyuarakan “cuuuuu……………”

Sebaliknya, jika A j belum berhasil menggapai lawan, tetapi “cuuuu . . . .!” sudah terputus karena kehabisan napas, sedangkan dalam usahanya untuk menghindarkan diri dari kejaran lawan (kelompok B) untuk kembali dengan selamat ke pangkalan pun tidak berhasil. Ia (Aj) tertangkap. Dengan demikjan, maka ke­lompok A dinyatakan mati, dan teijadilah pergantian peran. Kelompok B kini menguasai penclokan dan berperan sebagai pe­nyerang. Sedangkan’kelompok A menjadi pihak yang bertahan memencar meliput seluruh halaman. Akan tetapi sebelum teijadi pergantian peran tersebut, maka kelompok yang kalah (kelompok A) harus menggendong kelompok B.

Demikianlah permainan cu-cuan itu berlangsung sampai anak- anak merasa lelah, biasanya permainan tersebut berlangsung lama karena di sini dilakukan cara selamat-menyelamatkan teman se­kelompoknya.

Analisa.

Bangkalan terletak di Pulau Madura, di mana penduduknya sebagian besar bermata pencaharian pokok bertani. Bertani mereka lakukan di sawah dan di ladang. Di peladangan biasanya banyak bermacam-macarp jenis serangga yang menyerang tanaman, baik itu tanaman palawija maupun padi. Suara-suara serangga ini oleh anak-anak ditirunya, misalnya suara tawon atau lebah. Suara ini oleh anak-anak diimajinasikan ke dalam bentuk permainan, yakni permainan cu-cuan.

Jika dilihat dari kata cu-cuan itu sendiri menunjukkan asal-usul permainan ini. Karena suara yang dilakukan oleh permainan dalam permainan cu-cuan ketika sedang mengejar lawannya mengeluar­kan suara yang berbunyi “cuuuuu            “.

Bunyi “cuuuuu        ” ini ada kemiripan dengan suara tawon atau lebah ketika sedang terbang atau jika ada yang mengganggunya. Begitu pula jika dilihat dari perlengkapan permainan ini hanya memerlukan sebuah tong juga mirip dengan lebah. Serangga ini biasanya akan bersarang di pohon atau pun di atap rumah penduduk. Lebah yang bersarang ini tidak hanya satu atau dua ekor yang hinggap tetapi akan ber­gerombol jika bersarang. Karena itulah, kemungkinan permainan cu-cuan diilhami dari serangga tersebut.

Permainan cu-cuan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni suatu permainan yang muncul karena diilhami oleh kehidup­an serangga yakni lebah, di mana lebah bergerombol untuk meng­umpulkan madu. Begitu pula kehidupan masyarakat pedesaan yang agraris, mata pencaharian pokoknya adala!it)ertani. Di mana kehidupan masyarakatnya masih bergotong-royong, sikap ini telah tertanam dan merupakan bagian dari kehidupannya sebagai ciri dari masyarakat agraris. Kegotong-royongan ini mereka ungkapkan ke dalam bentuk permainan itu tadi.

Permainan itu sendiri kapan mulai dimainkan dan siapa-siapa yang mula-mula melakukannya tidak banyak diketahui, yang jelas permainan itu sudah ada sejak dahulu. Kemungkinannya timbul karena sebagai kreativitas yang diilhami oleh latar belakang budaya agraris. Seperti diketahui, masyarakat penduduk di daerah Bang­kalan ini terdiri atas dua suku. yakni suku Madura sebagai pen­duduk asli daerah itu dan suku Jawa sebagai penduduk pendatang yang kemudian menetap di sini. Walaupun demikian kedua suku tersebut berbaur dengan masing-masing mempunyai kebudayaan, serta masing-masing tetap mencerminkan aspirasi ketradisionalan yang dimiliki oleh” masyarakat pedesaan yang agraris. Kebudayaan kedua suku ini mempunyai banyak persamaan, karena seperti diketahui letaknya Madura di ujung Jawa Timur. Karena itulah pengaruh kuat kebudayaan Jawa ini tidak dapat dipisahkan, salah satu di antaranya ke dalam bentuk permainan yakni per­mainan cu-cuan. Karena permainan tersebut juga terdapat di Jawa, walaupun namanya berlainan tetapi cara memainkannya dan jalannya permainan mempunyai banyak persamaan.

Cu-cuan itu sendiri sebagai suatu permainan hiburan bersifat kompetitif, karena si pemain berusaha untuk memenangkan per­mainan. Sebagai suatu permainan hiburan, permainan tersebut di dalamnya mengandung dua unsur gabungan, yakni unsur bermain dan berolah raga. Dalam bermain, si anak yang bermain benar-benar menikmatinya sebagai suatu permainan yang tidak sungguh-sungguh.

Sedangkan unsur olah raga yang terlihat pada fungsi permainan ini cocok untuk melatih kecekatan, kecermatan, dan kewaspadaan serta pengaturan napas. Dan sebagai suatu permainan, cu-cuan dimainkan tanpa takut mengalami konsekuensi kekalahan. Yang ada dalam perasaan mereka adalah rasa puas yang bersifat semen­tara jika menjadi pemenang. Sebaliknya, rasa tidak puas dan pe­nasaran yang sifat sementara juga. Hal ini tampak apabila permain­an tersebut sudah selesai dimainkan, si anak yang menang dan yang kalah akan bersama-sama kembali sehingga kekalahan bagi kelompok yang kalah dan yang menang terasa tidak ada sama sekali.

Apabila kita kaji latar belakang sosial budaya permainan ini. berasal dari anak-anak petani yang suka meniru suara serangga. Dalam pelaksanaannya mereka tidak memandang stratifikasi sosial maupun pendidikan, sehingga permainan tersebut sebagai permainan yang benar-benar merakyat. Permainan ini juga men­dukung semangat mereka untuk berkreasi .sambil berolahraga. Pada dasarnya permainan cu-cuan tidak dapat meninggalkan warna kehidupan budaya masyarakat yang dimilikinya, misalnya ke­hidupan bergotong-royong. Untuk itu, mereka ungkapkan ke dalam bentuk permainan cu-cuan. Di sini tampak sekali, jalannya permainan diilhami dari serangga

Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan cu-cuan ini. antara lain yakni gotong-royong, rasa persatuan, kepatuhan akan peijanjian dan demokrasi.lebah yang suka bergerombol dan bergotong-royong ketika mencari madu.

Unsur gotong royong. Gotong royong yang dimaksud di sini yakni suatu cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, yang harus dilakukan secara bersama-sama. Karena keija sama identik dengan gotong royong yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Misalnya dapat dilihat pada jalannya permainan ketika pemimpin kelompok A menyuruh salah seorang anggotanya (Aj) untuk turun ke lapangan melakukan pengejaran terhadap lawan (kelompok B) dapat dilakukan secara bergantian dengan sesama rekan kelompoknya. Di sini pimpinan kelompoklah yang berkewajiban mengatur dan menyusun urutan gilir. Dengan de­mikian pula antara pemimpin kelompok dengan anggota-anggota- nya. Begitu pula kelompok yang “bertahan” kelompok B, me­lakukan keria sama vakni ketikA’ melakukan balik pengejaran yang semula mengejar dikejar oleh bekas buruannya bersama- sama dengan

Rasa persatuan. Rasa persatuan tampak ketika kelompok yang “dadi” yang mempunyai penclokan (tempat hinggap) seluruh ang­gotanya ditugaskan untuk turun, maka pasti ia akan kembali ke tempat asalnya.teman sekelompoknya (kelompok B).

Kepatuhan akan perjanjian. Yang dimaksud di sini adalah kon­sekuensi kalah menang dari permainan. Dalam konsekuensi kalah menang ini ada suatu peijanjian yakni yang kalah harus meng­gendong yang menang. Di sini tampak ketika kelompok A kalah, maka dilakukan pergantian peran. Akan tetapi sebelum pergantian dilakukan, kelompok A sebagai kelompok yang kalah menggen­dong kelompok B yang menang.

Demokrasi. Yang dimaksud dengan demokrasi yakni adanya keterbukaan dalam melakukan pemilihan anggota kelompok. Dalam melakukan pemilihan ini. masing-masing pasangan memilih pasangannya yang sama kuat, sama sekali dan sama tinggi dengan cara melakukan suten. sehingga masing-masing kelompok mem­punyai kekuatan yang seimbang

Selain unsur-unsur di atas. pengembangan, mental maupuft fisik juga terlihat dalam permainan. Dalam pengembangan mental tampak sekali kewaspadaan dan kecermatan dari para pemain. Sedangkan dalam pengembangan fisiknya terdapat kegesitan dan kecerdikan serta ketangkasan dalam permainan ini. Jadi dapatlah disimpulkan bahwa motivasi dari permainan ini adalah untuk menguji kemampuan fisik dan pernapasan di samping mengasah kecerdasan dan kecerdikan seperti yang telah disebutkan se­belumnya. Karena untuk berlari-lari, berkejaran, jelas diperlukan tubuh yang sehat, sementara mengeluarkan kata “cuuuuuuu. . . .” sambil berlari merupakan latihan ketahanan napas. Anak. yang turun ke lapangan mengejar lawannya harus memperhitungkan dua faktor berlawanan sekaligus. Si pengejar ingin berhasil menangkap (menggapai) lawan dengan resiko mengejarnya sejauh mungkin, tetapi dalam pada itu berusaha jangan sampai jauh-jauh meninggal­kan pangkalan agar tidak mendapatkan kesulitan untuk mencapai­nya kembali sewaktu kehabisan napas. Demikianlah kombinasi kemampuan fisik pernapasan dan kecerdasan si anak dituntut un­tuk membuktikan keunggulannya dalam memperebutkan prestasi.

Setiap anak secara naluriah bergelitik rasa kebanggaannya ber­prestasi, dan permainan cucuan membuka peluang menyalurkan rasa. kebanggaan si anak itu. Itulah sebabnya cu-cuan mengasyik­kan dan sekaligus memberikan kegembiraan.

Pada saat ini permainan ini masih dimainkan, walaupun sudah agak jarang. Karena tergeser oleh permainan yang lebih menarik, dalam kemajuan teknologi. Anak-anak lebih menyukai permainan yang baru daripada permainan tradisional. Begitu pula generasi sebelumnya kurang memberi perhatian. Oleh karena itu kemungkinan besar permainan ini akan hilang begitu saja dan hanya tinggal namanya. Padahal permainan cu-cuan ini sangat baik bagi perkembangan anak untuk belajar berkreasi sambil) berolah raga. karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang sangat baik untuk pembentukan jiwa anak.

Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa Timur, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai Nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1991.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madura, Seni Budaya, Th. 1991 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s