Memandikan Jenazah, Tradisi Kematian Daerah Jawa Timur


Sesudah persiapan selesai, jenazah dipindahkan ke tempat khusus yang akan digunakan untuk memandikan. Tempat itu berada di sam­ping rumah, dekat dapur. Tempat itu dipilih dengan dasar sebagaian masyarakat Jawatimur perca­ya bahwa tempat itu tidak akan digunakan untuk mendirikan bangunan, misalnya rumah. Tempat bekas untuk memandikan jena­zah dianggap sangar, artinya jika tanah itu semula subur, akan men­jadi gersang, jika tempat itu semula tidak berbahaya, akan menjadi tempat yang dapat menimbulkan kecelakaan atau malapetaka. Seandainya di bekas tempat memandikan itu didirikan rumah, peng­huninya akan mendapat sial, atau diganggu rokh halus.

Cara untuk menghindari akibat yang demikian itu, yaitu tempat bekas orang memandikan jenazah, selepas digunakan maka para kera­batnya mandi di tempat itu, dengan jalan demikian dianggap dapat menghilangkan akibat buruk, atau menetralisir tempat itu menjadi tidak sangar.

Dengan khidmat, jenazah dibaringkan dengan posisi kepala di timur dan kaki di barat. Hal ini dilakukan oleh keluarganya karena adanya kepercayaan bahwa matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat. Terbitnya matahari diibaratkan lahirnya manusia, sedang tenggelamnya matahari diibaratkan akhir hayatnya manusia. Dengan cara meletakkan posisi yang demikian itu, berarti bahwa jenazah yang dimandikan telah meninggalkan dunianya dan menghadapi dunia lain yaitu alam akherat.

Para anak cucu yang dewasa, siap di tempat pemandian, duduk berjejer di atas bangku. Semua yang akan memandikan itu laki-laki, tetapi jika ahli warisnya yang perempuan ingin juga ikut memandi­kan, tidak dilarang.

Di tempat pemandian jenazah itu telah disediakan tiga buah tempat air (jun) dan bokor berisi ramuan untuk keramas atau men­cuci rambut. Jun yang pertama dan kedua berisi air yang diberi ra­ muan kembang telon; jun ketiga hanya berisi air bersih sebagai bilasan.

Air untuk memandikan jenazah, selain diberi ramuan bunga yang harum, juga diberi daun kelor. Menurut kepercayaan penduduk di sana, daun kelor itu mempunyai daya gaib untuk menetralisir kekuatan gaib yang dimiliki oleh almarhum, misalnya ia memakai susuk, yaitu logam yang dimasukkan ke badan dengan cara gaib. Orang meninggal dunia harus suci raganya, sebab itu semua bekas benda yang masih melekat pada dirinya harus dilolos. Termasuk gigi emas atau perhiasan yang dipakai ketika masih hidup. Dengan badan jasmani yang bersih, maka rokh almarhum dapat mencapai kesempurnaan.

Air untuk memandikan terdiri dari air keramasan, yang akan digunakan untuk membersihkan rambut; dan air untuk membersih­kan sekujur tubuh. Agar air keramasan itu berbau wangi, digunakan ramuan yang terdiri dari bunga melati, atau daunnya; landha-merang, yaitu batang padi (merang) yang diperabukan; kunir dan tepung beras. Semua ramuan itu ditumbuk halus dan kemudian ditapis hingga tujuh kali. Ramuan itu masih ditambah dengan kapur barus yang ditumbuk halus, dimasukkan dalam adonari air keramas ter­sebut.

Mula-mula penutup jenazah atau baju yang masih dipakai dilo- rot, artinya dilepaskan, kalau terpaksa baju itu digunting untuk memudahkan melepaskannya. Yang tertinggal adalah kain basahan, berupa kain panjang yang sengaja dipakai untuk menutup aurat. Memandikan dimulai dengan mencuci rambut, dengan landha- merang, pekerjaan ini dilakukan oleh modin yang dibantu oleh ahli warisnya. Sesudah itu jenazah disiram dari kepala ke arah kaki sam­pai tiga guyuran. Barulah dibersihkan noda yang masih melekat dengan sabun, dan baru dibilasi sampai bersih.

Terdapat kepercayaan jika seorang meninggal dunia, dan dari badannya keluar bau amis, atau bacin, (basin dalam bahasa Jawa), meskipun yang meninggal itu tidak mempunyai luka di badannya, memberi petunjuk bahwa yang meninggal dunia ini seorang yang banyak dosa. Bagi penghayat kepercayaan bau itu dapat dihilang­kan dengan membaca donga seperti berikut :

“Sir suci mulya sejati, banyu urip kang winasuhan sumberan Idayatullah, sir gondo rogo arum hura-heri, raga muliha karsa, karsa awor lan sukma, sukmaningsun sakudhuping mlati, les angles ing lautan, sukma marah sukma larih sukma mulya raga tan kena kari hudat lesy hudat, les hudat les,y. Mayat disabun dan dibersihkan bagian atasnya, kemudian di­miringkan ke kiri, dibersihkan lagi, sesudah itu dimiringkan ke kanan dan terakhir dikembalikan pada posisi semul

 

Bila sudah bersih mayat setengah didudukkan (bahasa Jawa : diengkok) dengan maksud agar kotoran dalam perut keluar, kotoran itu dibersihkan. Guyuran terakhir dilakukan oleh Pak Modin dengan menggunakan air kendi sebanyak tiga kali, dari arah kepala ke kaki. Selama dimandikan itu, digunakan kain panjang sebagai bilasan, dan setiap kali basah diganti dengan kain panjang yang kering.

Dahulu jika yang meninggal orang laki-laki, maka ketika di­mandikan, dipapah oleh anak-cucu yang laki-laki, dan jika yang meninggal perempuan atau ibu, yang memangku anak-anak perem­puan dan cucu perempuan. Apabila yang meninggal itu tidak mem­punyai ahli waris, atau anak, atau meninggal karena penyakit me­nular, cara memandikannya dibaringkan di atas tiga buah batang pohon pisang yang panjang sekitar 100 cm, diletakkan melintang di atas bangku panjang.

Tempat memandikan di luar rumah yang tidak mengganggu lalu lintas jalan orang, dindingnya dari kain berkeliling segi empat, atap­nya dari kain juga. Tempat airnya diletakkan di sebelah kiri, ber­jumlah lima biah. Posisi jenazah timur – barat, bangku yang diguna­kan duduk bagi yang memangku berjumlah empat buah ditempat­kan berhadapan.

Untuk keperluan memandikan jenazah terdiri dari air merang untuk keramas, serpihan kain putih untuk menggosok kotoran badan; arang dari kayu jati untuk mulut, merang untuk membersih­kan kuku, dan sejumlah kain panjang untuk basahan. Jenazah yang akan dipindah diusung untuk dimandikan, sebaiknya diangkat oleh tiga orang (anak atau cucunya yang dewasa) kalau tidak kuat oleh lima orang, pokoknya harus ganjil jumlahnya. Saudara yang tertua di bagian atas (kepala dan leher) yang lebih muda di perut dan pan­tat, yang termuda di bagian kaki. Pada waktu mencucikan jenazah jumlahnya harus ganjil 3 atau 5. Sesudah dimandikan secara tuntas, barulah di”suci”kan yaitu di’Vudukan” maksudnya disucikan dari hadas besar maupun kecil. Biasanya yang melakukan upacara sesuci ini adalah Modin. Pekerjaan untuk merawat jenazah selanjutnya biasanya orang-orang dewasa atau kerabatnya sendiri

Setelah selesai dimandikan, air yang masih tersisa di drum diguna­kan mencuci muka, terutama anak cucunya, bahkan jika yang me­ninggal itu dianggap mempunyai ilmu yang tinggi (kesdik) orang lain pun menggunakan sisa air memandikan jenazah itu untuk mencuci muka. Mereka percaya bahwa air itu mengandung tuah, karena ada kepercayaan barang siapa yang bersedia minum air tersebut, ilmu yang dimiliki oleh orang itu akan “menurun” kepadanya. Ada kalanya untuk memperoleh ilmu orang yang sudah meninggal itu, dilakukan dengan menghisap pusat (wudel/puser), ketika orangnya masih belum dimandikan atau sesudahnya. Kemudian memandikan jenazah ini, disebut juga “nyuceni” yang berarti membersihkan.

Di tengah kesibukan memandikan mayat itu, datang sanak ke­luarga yang terlambat datang, orang itu serta merta mencium kaki jari almarhum/almarhumah, dengan perbuatan itu ia berharap dapat meminta maaf ata kesalahan terhadap si mayat, karena selama itu belum sempat meminta maaf ketika masih hidup. Setelah upacara memandikan selesai, jenazah dipapah oleh tiga orang, dibawa masuk ke rumah, untuk dikafani.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Jawa Timur
: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1985 – 1986, hlm.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Th. 1986 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s