Saronen


Saronen adalah pertunjukan ansambel musik (kelompok music) rakyat yang tumbuh berkembang di masyarakat Madura. Sedangkan sebutan saronen, dari bahasa Madura ” sennenan ” ( Hari Senin ). Kyai Khatib Sendang ( cicit Sunan Kudus ), tinggal di Desa Sendang Kecamatan Pragaan memperkenalkan musik ini sebagai media dakwah dalam mensyiarkan Agama Islam. Konon setiap hari pasaran yang jatuh pada setiap hari senin

Alat music Saronen terdiri dari sembilan instrumen, sesuai dengan nilai filosofis Islam merupakan kalimat pembuka Alqur’anul Karim yaitu “BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM ” kalau dilafalkan terdiri dari sembilan keccab. Kesembilan instrumen musik SARONEN ini terdiri dari : 1 saronen, 1 gong besar, 1 kempul, 1 satu kenong besar, 1 kenong tengahan, 1 kenong kecil, 1 korca, 1 gendang besar, 1 gendang dik-gudik ( gendang kecil ).

Yang menarik dan menjadi jiwa dari musik ini satu alat tiup berbentuk kerucut, terbuat dari kayu jati dengan enam lobang berderet di depan dan satu lubang di belakang. Sebuah gelang kecil dari kuningan mengaitkan bagian bawah dengan bagian atas ujungnya terbuat dari daun siwalan . Pada pangkal atas musik itu ditambah sebuah sayap dari tempurung menyerupai kumis

Personil pemusik yang memainkan/membunyikan,  sembilan sampai enam belas pemusik Terdiri dari: satu sampai tiga orang sebaga peniup saronen (jenis alat musik tiup), dua orang sebagi penabuh kendang, satu sampai tiga orang penabuh rebana, satu sampai tiga orang membunyikan korsa atau simbal, tiga sampai lima orang penabuh kenong dan satu orang penabuh gong.

Busana para pemusik Saronen, celana panjang sebatas lutut atau betis berwarna gelap, memakai kain panjang yang dipakai dengan cara sapit urang, pemakaian kain panjang dengan setagen ditambah kelengkapan  ikat pinggang. Busana baagian atas, berkemeja lengan panjang warna menyolok, dilengkapi dengan rompi berwarna kontras dengan warna kemeja. Ikat kepala dikenakan dengan hiasan bulu-bulu imitasi. Bersepatu olah raga warna putih atau hitam dilengkapi kaos kaki panjang,  serta memakai kacamata hitam.

Saronen sering ditemui pada berbagai upacara yang bersifat  Pawai/Arak-arakan di Madura. Penempatan Saronen berada di bagian paling depan. Saronen dan Haddrah kadang-kadang juga dipergunakan bersama di dalam satu arak-arakan. Namun demikian dimainkan secara bergantian. Urutan penempatan menurut kehendak penyelenggara hajat atau sesuai kesepakatkan. .=Siwh0t0=

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Ditulis oleh Tim Pustaka  Jawatimuran – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sumber

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madura, Seni Budaya, Th. 2012 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s