Mengkafani, Tradisi Kematian Daerah Jawa Timur


Setelah selesai dimandikan, pekerjaan berikutnya adalah menga­fani. Cara mengafani ini bermacam-macam. Kain yang digunakan se­lamanya dipilih yang berwarna putih, atau disebut kain layon.

Peralatan untuk mengafani itu sendiri dari tikar yang bersih, kemudian dibentangkan kain kafan beberapa lapis, bunga. Tikar di­bentangkan pada posisi kepala di utara, kaki di selatan, di atas lapis­an kain kafan itulah, jenazah itu kemudian dibuat pocongan atau diolesi.

Kain kafan yang digunakan selalu dengan rangkap ganjil atau tidak genap, 1, 3, 5, 7 dan seterusnya. Hal ini disesuaikan dengan jumlah wali atau jumlah nabi yang ada. Wali ada sembilan dan nabi ada 25, jadi semuanya ganjil. Tidak diambil jumlahnya, tetapi di­ambil ganjilnya saja. Sebab kalau diambil jumlahnya 9 atau 25, ja­rang sekali orang yang mampu. Yang umum ialah rangkap 3 atau 5. Sedangkan untuk orang-orang yang dianggap kaya atau orang yang dihormati karena ilmunya menggunakan 7 lapis.

Sebelum dibungkus atau dikafani Modin memegang kapuk kapas kecil-kecil yang diberi minyak wangi sebanyak tiga puluh buah. Jumlah ini disesuaikan dengan jumlah wuku menurut per­hitungan Jawa.

Kapas itu ditutupkan di atas mata, hidung, telinga, mulut, pusat, kelamin, kuku-kuku tangan dan kuku-kuku kaki. Hal ini mengandung maksud untuk menunjukkan bahwa segala perbuatan orang itu se­masa hidupnya serba suci. Segala yang diucapkan suci, segala yang dilihat suci, segala yang didengar suci dan segala geraknya pun adalah gerak yang suci.

Bentuk kain kafan yang paling dalam untuk mayat pria berbeda dengan untuk wanita. Wanita memakai kemben dan mekeno (tutup kepala). Mayat pria menggunakan bebet dan tutup kepala. Sering juga diberi jubah atau baju. Ada kalanya seorang itu sebelum mening­gal dunia telah memesan pakaian tersebut. Sehingga pada saat ia mati sudah tidak usah memotong. Peralatan yang lain adalah sobekan kafan kecil-kecil sejumlah tiga helai untuk tali.

Cara mengafani

Kain yang telah dipasang tersebut ditelungkupkan atau dikatup­kan. Untuk pria belahan sebelah kiri mayat ditelungkupkan lebih dahulu kemudian yang kanan. Jadi yang kanan berada di atas. Ini disesuaikan dengan orang laki-laki kalau sedang memakai sarung. Untuk wanita kain sebelah kanan ditelungkupkan lebih dahulu ke­mudian sebelah kiri. Jadi belahan yang kiri berada di atas. Ini juga disesuaikan dengan wanita yang memakai kain panjang di masa hidupnya.

Tali tiga yang telah disediakan digunakan untuk mengikat ujung kain yang ada di atas kepala dan ujung kain yang ada di kaki serta untuk ikat pinggang. Tali tiga ini mengandung lunas dari segala pro­ses kehidupan. Tiga, dalam bahasa Jawa telu. Menurut purwakanthi (sajak) diambil suku terakhir lu. Kemudian dipakai seperti purwa­kanthi lumaksita lunas yang artinya berakhir.

Makna tali tiga yang dipakai untuk mengikat kafan, antara lain di­jelaskan sebagai berikut : Kalau yang meninggal seorang Islam, tali tiga itu melambangkan Iman, Islam dan Ikhsan. Iman ialah percaya kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa dan meng­akui Nabi Muhammad sebagai Rasulnya.

Islam, adalah sifat seorang yang mendapat keselamatan, karena mengikuti ajaran Allah dan Rasulnya. Ikhsan, seorang yang baik budi pekertinya, mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhannya maupun dengan sesama manusia selama hidupnya.

Keterangan lain mengatakan bahwa tali tiga itu mempunyai lam­bang tiga macam rasa, yaitu roso, artinya tenggang rasa; pangroso, yaitu perasaan, dan rumongso, selalu merasa. Apabila orang telah meninggal dunia, telah lepas dari tiga rasa tersebut. Pandangan ini terutama dipercayai oleh penghayat kepercayaan di desa itu.

Ada penjelasan lain tentang tali tiga ini, yaitu : tali tersebut mengingatkan orang kepada tiga tempat suci yaitu Baitul Mukadas, Baitul Mu karam atau Muhadal, dan Baitul Makmur. Tiga tempat itu berada di jazirah Arabia, yang mempunyai hubungan kesejarahan dengan Nabi Muhammad. Bagi orang jawa nama

itu diucapkan men­jadi Betal Mukadas, artinya Rumah Suci, Betal Mukaram, juga ber­arti rumah terhormat, dan Betal Jemur, yang berarti Rumah yang sejahtera.

Lambang tali tiga itu juga diartikan bahwa manusia itu adanya di dunia melalui tahapan tiga, yaitu dari keadaan tidak ada, ada, dan tidak ada. Dengan kata lain manusia di dunia itu akan meng­alami tiga masa ialah masa dalam kandungan, masa lahir di dunia, dan masa meninggal dunia.

Setelah jenazah selesai dikafani, bila masih ada keluarga yang ingin melihat wajahnya, masih diperbolehkan, sehingga pada waktu mengikat kain kafan itu, hanya bagian kepala yang sementara tidak disimpul, barulah ketika jisim itu akan dimasukkan keranda, tali pengikat pocongan itu disimpulkan.

Setelah jenazah selesai dikafani, dilakukan upacara sembahyang jenazah. Para keluarga mempersilakan para pelayat yang akan menyembahyangkan, yang biasanya dipimpin oleh Modin, atau kyai dapat juga orang lain yang dianggap mampu menjadi imamnya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Jawa Timur
: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan; Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1985 – 1986, hlm.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Th. 1986 dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s