Desa Poreh Pusat Tikar Rakara, Kabupaten Sumenep


Sumenep, Desa Poreh Pusat Tikar Rakara

Desa Poreh, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, bahwa Desa tersebut adalah sebagai sentra tikar yang terbuat dari daun pohon siwalan. Bahkan 90% dari penduduknya berprofesi sabagai pengrajin membuat tikar rakara. Lalu  bagaimana aktifitas keseharian dan cara memproduknya? Jika kita melintasi atau masuk ke Desa Poreh Kecamatan Lenteng, maka kita akan menemui suatu keguyuban aktifitas warganya.

Bahkan jika kita telisik lebih jauh lagi atau dengan jeli memperhatikan sepertinya di setiap warga mempunyai pohon siwalan yang dikenal sebagai bahan membuat gula merah. Ternyata pohon yang dikenal cu-kup kuat untuk bahan bangunan itu, daunnya jika dianyam menjadi tikar. Manfaat tikar daun lontar ini, biasanya dibuat pembungkus tem- bakau yang bakal disimpan dalam gu- dang. Itu sebabnya, tikar daun lontar tersebut sangat terkenal terutama bagi kalangan petani tembakau. Kebutuhan terhadap tikar bertambah besar jika musim panen tembakau tiba, sehingga para pengrajin tikar optimistis produknya tetap diminati karena mempunyai pasar yang cukup cerah. Hal ini membuat warga desa menggantungkan hidupnya dari anya- man daun lontar. Pendapatan yang diterimanya cukup tinggi yang menghidupan warga tetap survife  dalam kondisi apapun.

Wajar saja jika dusun itu disebut sebagai dusun tikar daun siwalan atau orang me- nyebutnya tikar rakara. Hal itu bisa dilihat dari keseharian warga -yang biasanya kaum hawa aktifitasnya membuat ti-kar rakara. Bahkan 90% dari penduduknya berprofesi sebagai pengrajin tikar rakara. Untuk membuat tikar rakara warga cukup mengambil bahan tikar di sebe-lah rumah saja, karena memang setipa rumah sudah berdiri pohon siwalan yang siap melayani para kaum ibu. Untuk menjadikan sebuah tikar yang siap pakai atau siap jual memang tidak terlalu sulit atau tidak akan memakan waktu lama. Artinya sangat mudah dan gampang lebih-lebih bagi mereka yang sudah trampil.

Adapun cara membuatnya, pertama mereka mengumpulkan daun siwalan
secukupnya lalu dikeringkan cukup dijemur satu hari saja sudah siap dianyam pada malam harinya. Bagi yang sudah trampil biasanya mereka menghasilkan 4 hingga 5 lembar tikar dalam seharinya. Itu kalau di-kerjakan tidak ngoyo, tapi jika be- kerja dengan sedikit ngoyo mereka bisa memproduksi 8 hingga 9 lembar tikar rakara dalam sehari. “Untuk menjadikan satu lembar tikar bagi kami yang cukup makan waktu 1 jam menganyam sudah pekerjaan sehari-hari,” aku salah seorang warga saat diwawancari Suara Desa beberapa minggu yang lalu. Saking larisnya tikar rakara yang dibuat oleh warga yang umumnya kaum hawa itu, belum jadipun sudah ada yang ngorder. Artinya jika ingin borong ya inden dulu pada pengrajin, karena jika ti­dak jangan harap dapat barang. Jadi mereka para pengrajin itu tidak me­masarkan sendiri, sebab, para pembeli datang sendiri ke sentra-sentra. Mereka para pembeli datang sendiri kesini. Sebab jika tidak ya tidak bakal dapat barang,” terang Sukiye yang memang kesehariaanya menganyam tikar sejak masih anak- anak.

Lalu harganya? Harga perlembar tikar hanya Rp 8 ribu. (alan)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA, Edisi 07, 15 Agustus – 15 September 2012

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sentra, Sumenep, Th. 2012 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s