Krupuk Rambak, Kabupaten Tulungagung


Pengrajin Krupuk Rambak

Daerah terjepit bukit berbatuan lalu menjadikannya miskin? Contohlah Tulungagung. Kabupaten di bibir laut Selatan ini, memiliki potensi alam yang besar, namun justru karena sumberdaya manusianya yang unggul, Tulungagung tampil sebagai daerah yang kaya dengan home industry.

Di setiap daerah memiliki potensi yang tumbuh berbeda dengan daerah lainnya. Desa pengrajin konveksi, desa batik, desa produsen peralatan dan asesoris TNI/Polri dan desa krupuk rambak semua tetap bertahan meskipun sering digoyang pesaing dari dalam negri dan luar negri.

Pengusaha konveksi misalnya, sejak diserbu baju-baju model terbaru berharga murah dari China, ozet penjualannya turun drastis kalah bersaing. Pengusaha konveksi pun harus berputar otak untuk bisa berkembang menghadapi serbuan pasar.

Ini berbeda dengan krupuk rambak. Meskipun belum disaingi produk luar negri, krupuk rambak juga mengalami penurunan produk akibat kekurangan bahan baku, terutama krupuk rambak dari kulit kerbau. “Saat ini sudah semakin seret bahan baku rambak dari kulit kerbau,” kata Arifin pengusaha krupuk rambak dari Desa Sembung, Tulungagung.

Kulit kerbau menurut pengrajin rumah tangga telah menjadi produk unggulan desa. Rasanya lebih renyah dan lebih gurih dibanding dengan krupuk berbahan baku dari kulit sapi. Harga krupuk rambak kulit kerbau juga lebih tinggi, sehingga keuntungannya juga lebih bagus. Namun akibat jumlah persediaan kulit kerbau terbatas, padahal jumlah permintaan terus meningkat akhirnya banyak warga yang mendatangkan kulit kerbau dari luar Pulau Jawa seperti Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan. “Kalau kulit sapi, kami tidak mengalami kesulitan, bahkan Stoknya melimpah, tetapi kalau kulit kerbau sulit didapat,” ujar Arifin.

Zaenab pengusah krupuk di Desa Sembung mengakui setiap dua minggu sekali dirinya mendatangka kulit kerbau dari NTT melalui mitra kerjanya di sana. “Rata-rata dalam seminggu kami mendatangkan kulit kerbau sebanyak 2 kwintal,” kata pemilik usaha krupuk rambak “Lestari” ini.

Karena lebih banyak diminati pasar dan bahan bakunya lebih sulit, secara otomatis, harga krupuk rambak dari kulit kerbau jauh lebih mahal dari kulit sapi. Harga satu bungkus krupuk rambak kulit kerbau mencapai Rp95.000 per bungkus, sedangkan krupuk rambak sapi hanya Rp75.000 per bungkus. “Faktornya ya itu tadi, bahan sulit dan peminat lebih banyak dibanding krupuk rambak dari kulit sapi,” kata Djaenab. Desa Sembung merupakan salah satu sentra krupuk rambak di Kecamatan Kota Tulungagung. Hampir semua rumah tangga di desa ini memproduksi krupuk yang terbuat dari kulit sapi dan kerbau.Industri rumah tangga jenis ini, menurut Djaenab, merupakan usaha turun temurun warga di Desa Sembung. Kedua orang tuanya juga produsen krupuk rambak.

Kisah sukses bisnis krupuk rambak juga dinikmati Slamet Mujito pewaris dari MbahTawi yang memulai usahanya sejak 1945. Menurut Slamet, “Awalnya saya tidak tertarik untuk meneruskan usaha krupuk rambak. Karena selain sulit membuat, menjualnya juga sulit. Namun berkat semangat dan dorongan sang istri yang dinikahi tahun 1997, dengan senang hati ia meneruskan usaha orang tuanya itu.

Tahun 2000 penjualan krupuk masih menggunakan sepeda onthel. Roda kehidupan mulai berubah pola penjualannya menggunakan sepeda motor, kemudia pada tahun 2007 Sla­met menggunakan mobil pickup de- _ ngan jangkauan pemasaran wilayah kota Tulungagung, Blitar, Malang, Batu, Trenggalek, Kediri, Kertosono, Jombang dan Surabaya.

Saat ini krupuk rambak merk UD Harapan Jaya miliknya telah mencapai omset 2,5 juta rupiah per hari. Ia dibantu 7 karyawan perempuan dan 5 karyawan laki-laki yang diberi upah kerja rata-rata 25 ribu rupiah per hari. Untuk memperbesar volume usaha, Hartini Slamet bulan Juni 2011 membeli mesin oven berkapasitas 60 kg sehingga dalam 1 hari dapat memproses 120 kg (2 kali pengolahan). Selain itu Hartini juga membuka kios di depan stasiun Tulungagung dan menambah aneka macam camilan, seperti krupuk ceker ayam, krupuk kuku macan, krupuk bawang, kripik ubi ungu, kripik gadung, sous kering dan kripik tempe. “Usaha kita seperti ini setelah jatuh bangun diterpa perlbagai masalah seperti karyawan yang sudah ahli pindah tempat keija, persaingan antar pengusaha krupuk rambak maupun kekurangal modal usaha,” katanya, (nf)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:SUARA DESA | Edisi 07 | 15 Agustus -15 September 2012. Hlm. 30

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sentra, Th. 2012, Tulungagung dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s