Kreasi Enceng Gondok, Surabaya


Julita Joylita Wahyu Mumpuni Perangi KDRT Lewat Kreasi Enceng Gondok

Di tangan perempuanlah jatuh dan bangunnya sebuah bangsa. Bagaimana bangsa bisa maju bersaing dengan lainnya, jika setiap hari kerja kaum perempuan hanya membuang waktu untuk menjaga rumah tanpa ada kegiatan produkitf.

Julita Joylita Wahyu Mumpuni (43) mencermati, setelah suami berangkat kerja dan anak-anak pergi sekolah, sebagian besar ibu rumah tangga itu menganggur sejak pukul 09.00. Ide kreatifnya muncul setelah menyaksikan eceng gondok tumbuh liar di waduk kecil belakang rumahnya di Kebraon, Surabaya.

Setelah diiijinkan untuk mengambil eceng gondok, Julita tidak tahu untuk apa tumbuhan gulma itu. Maka dibiakanlah tanaman itu tergeletak di lantai sampai beberapa hari kemudian mengering. “Di saat itu mengering terlihat tekstur batang enceng gondok yang indah dan semakin bernilai seni jika dijadikan lilitan tampar,”ujarnya.

Perempuan yang lama hidup di Malang” ini merangkai enceng gondok itu menjadi sebuah sarung bantal. Produk pertamanya itu ternyata menarik minat seorang temannya yang bersemangat untuk memasarkan ke Jepang. “Tak disangka, orang Jepang yang ditawari teman saya langsung memesan 10.000 unit kreasi eceng gondok,” kata Julita. Kaget dan hampir tidak percaya, tetapi peluang emas itu harus segera ditangkap secepatnya. Dia mencari orang  yang mau membantu memenuhi order tersebut. Ibu-ibu rumah tangga yang mau diajari untuk membuat kerajinan dari eceng gondok diajak untuk membangun bisnis baru dari tanaman yang sering memacetkan air sungai itu.

Dari sanalah kemudian kreasi eceng gondok mulai berkembang di Surabaya. Tak hanya sarung bantal, kini produknya pun semakin semakin beragam. Mulai tas perempuan, wall- paper, tikar eceng gondok, bahkan sampai kursi eceng gondok.

 

Jumlah permintaan kreasi Julita semakin meningkat, sehingga dia harus membentuk kerja jaringan dengan membuka sistem waralaba. Ibu rumah tangga yang berminat masuk jaringannya, akan diajari merancang beragam kreasi berbahan baku eceng gondok. “Banyak yang menyebut saya bodoh, tetapi saya meyakini bahwa rizki itu dari Tuhan, semakin banyak yang menikmati hasil karya saya semakin banyak pula yang akana saya dapat,” tuturnya. Melalui waralaba itu, setiap Jy|ita-menerima order selalu diberik;

pada ibu rumah tangga yang menjadi mitra kerjanya yang berjumlah lebih dari 300 orang. Bahkan, menurut Julita, mitra kerjanya itu juga sudah banyak mewariskan ilmunya kepada ibu rumah tannga yang lain, sehingga kerja jejaring itu telah membuka peluang usaha baru bagi kaum perempuan. “Artinya semakin banyak jaringan yang terbentuk semakin banyak pula wanita yang berdayaguna, “ujarnya.

Para mitra binaan pun tak terikat harus bekerja untuk Julita. Mereka bisa memproduksi kerajinan eceng gondok sendiri, dengan merek sendiri, dan dijual sendiri. “Saya bangga karena binaannya kini telah menjadi pengusaha sukuses tanpa ada yang ter­ganggu. Buktinya usaha saya ini sudah mampu menembus pasar dunia seperti Amerika, Brunai dan Prancis,” katanya.

Selain melalang buana ke berbagai negara, berkat eceng gondok pula Julita berhasil meraih berbagai penghargaan. Tahun 2001 ia menerima penghargaan “Clean up the world” dari United Nation Enviroment Program (UNEP) badan PBB yang bergerak di bidang lingkungan. Kemudian pada tahun 2004, Julita juga menerima penghargaan Kalpataru dari Presiden Megawati. Ada pula penghargaan dari World Bank pada 2005 karena membantu menanggulangi kemiskinan dengan mengajak perempuan mem­buat kerajinan, untuk menambah penghasilan keluarga.

Lewat pengembangan ekonomi itu, kaum perempuan lebih mandiri secara finansial. Dari catatan KDRT, banyak kaum perempuan yang menderita secara lahir dan fisik karena faktor ekonomi. Untuk memerangi kekerasan dalam rumah tangga itu, maka istri harus produktif.

“Suami sering emosional dan ringan tangan karena sering dimintai uang. Namun setelah ibu rumah tangga itu sudah mandiri secara finansial dan mempunyai penghasilan sendiri, jumlah KDRT bis| turun,”ujarnya.(nQ

I Edisi 07 | 15 Agustus -15 September 2012

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sentra, Surabaya, Th. 2012 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kreasi Enceng Gondok, Surabaya

  1. Izza Afifah berkata:

    Bu Julita, bolehkah saya tahu dimana toko atauworkshop ibu? Sebab saya juga ingin belajar dan menjadi mitra kerja bu Julita, caranya gimana bu? Biar saya menjadi seperti Ibu. Walaupun saya ibu rumah tangga tapi saya juga produktif seperti ibu. Terima kasih ibu Julita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s