Nganjuk pada Periode Indonesia Madya


Periode zaman sejarah Indonesia Madya diawali dengan timbulnya Kerajaan/Kesultanan-kesultanan Islam pertama setelah runtuhnya Majapahit Hindu.

Dengan demikian untuk mengungkap sejarah Nganjuk pada masa Madya tentunya harus dimulai dengan melihat sejarah masa runtuhnya Kerajaan Majapahit dan berdirinya Kesultanan Demak, sampai dengan masa pemerintahan Kerajaan Mataram.

Menurut berbagai sumber sejarah tradisional (historiografi – tradisional),dengan runtuhnya kerajaan Majapahit munculah Kerajaan Islam Demak yang didiri­kan oleh Raden Patah, yang masih darah keturunan Majapahit. Untuk memperkuat atas kedudukannya, Raden Patah telah memboyong Pusaka Kraton ke Kesultanan Demak.

Dengan berdirinya Kesultanan Demak, wilayah Nganjuk yang dahulu terma­suk wilayah Majapahit menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Demak.

Keberadaan Kesultanan Demak ternyata hanya berlangsung setengah abad lamanya (1500 – 1550). Dan selanjutnya diambil alih oleh Kesultanan Pajang. Pada tahun 1568 Panembahan Adiwijaya (Sultan Pajang) melakukan penataan kembali terhadap daerah-daerah kekuasaannya. Daerah-daerah Kadipaten atau Kabupaten- kabupaten Bang wetan (Jawa Timur) dijadikan menjadi satu persekutuan wilayah. Untuk itu Bupati Madiun, Pangeran Purbaya diberi gelar Wedono Bupati atau Kepala Bupati. Kekuasaan Wedono Bupati Madiun itu meliputi Kabupaten-kabupaten Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pace (Nganjuk), Trenggalek, Jombang dan Mojoagung.

Masa kekuasaan Kesultanan Pajang hanya sampai tahun 1586. Runtuhnya Kesultanan Pajang ini akibat serangan Senapati Sutowijoyo, pendiri Kesultanan Mataram Islam.

Pada masa peralihan kekuasaan tersebut sebagian dari Adipati-adipati, khu­susnya Adipati-adipati Bang Wetan menyatakan tidak setuju dan memisahkan diri dari kekuasaan Kesultanan Mataram. Namun usaha-usaha pemisahan diri tersebut pada masa pemerintahan Sultan Agung (1614 -1645) dapat dipatahkan. Dengan perjuangannya yang gigih kemudian Sultan Agung dapat menguasai wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat.

Seperti telah dijelaskan dalam babad tanah Jawi, Sultan Agung melakukan penataan kembali atas daerah-daerah kekuasaannya, serta membagi menjadi empat macam wilayah, antara lain :

Nagari                : Daerah pusat pemerintahan kerajaan/Kesultanan ;

  1. Nagari Agung : Daerah sekitar Nagari ;
  2. Monco Negoro :- Monco Negoro Kulon ( Banyumas, Pasundan ) ;

– Monconegoro Wetan (JAwa Timur termasuk Kadipaten Pace).

  1. Pesisir • (daerah pantai).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Panitia Peringatan Hari Jadi Nganjuk, Sejarah Singkat Kabupaten Nganjuk, hlm. 3-4, CB/1996

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Nganjuk, Sejarah, Th. 1996 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s