Liem Keng, Pelukis Surabaya


Liem Keng, Nama harumnya terukir dengan sendirinya sebagai pelukis yang ekspresif sangat membanggakan hingga menjadi aset budaya Jawatimur.  Liem Keng dengan goresan-goresan tintanya yang yang melahirkan karya-karya bernilai tinggi.

Liem Keng adalah sosok yang sederhana dalam berkesenian namun kaya akan karya dengan goresan tinta baknya yang ekspresif dan mampu menciptakan karya yang luar biasa yang diakui dunia meskipun selalu hidup dalam keserhanaan.

9 Maret 1934,   Lim Keng lahir di Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo, ayah Lim Ie Swan tinggal di Undaan Kulon 125 Surabaya,  Istri  Ernawati,   Anak Tradiyanto Halim, Lim Ie Waliban (Iwan Walimba)

Tahun 1962, Sekolah di SMA Pecindilan  Surabaya, Ketika di SMA ini, kecintaan pada menggambar makin tak terbendung. Belum genap dua tahun bersekolah, Lim memilih keluar dari sekolah. Dia berguru pada dua pelukis andal, Nurdin B.S. dan Iwa Kustiwa. Awal mula belajar, dia menekuni teknik drawing, melukis dengan pensil. Berikutnya, dia mulai merambah lukisan cat air dan cat minyak.

Tahun 1962 Lim mendaftar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Jogjakarta (kini Institut Seni Indonesia).

Tahun 1964,  di ASRI, dia hanya menghabiskan dua semester. Selebihnya, dia berkeliling ke sejumlah daerah bersama teman-temannya. Bali adalah tempat favorit Lim. Di Pulau Dewata, dia menghasilkan banyak karya. Karya-karyanya itu dijual di art shop setempat. “Kalau beruntung ya ada yang beli, lumayan buat biaya hidup,” kenangnya.

Tahun 1972, dia mulai menjajal sketsa. Di situ, dia mengaku mengalami kesulitan luar biasa. “Dari tiga media yang saya kuasai, melukis sketsa menggunakan tinta bak (tinta hitam dari Tiongkok, Red) justru yang paling sulit. Kalau sekali gores sudah salah, ya nggak bisa diulangi. Harus gambar lagi mulai awal,” tuturnya.

Akhir tahun 1970, dia ikut berpameran bersama rekan-rekannya. Karya-karya Lim mulai dikenal di kalangan para seniman Surabaya. Lukisannya dicari banyak kolektor. Berbagai pameran bersama pernah dia ikuti. Namun, Lim selalu ogah berpameran tunggal.

Pelukis umumnya berkarya di studio, namun Lim Keng melukis datang langsung ke lokasi. Melukis petani dan sapi, misalnya, dilakukan pinggiran persawahan.  Melukis tarian barongsai dilakukan di tengah atraksi. Sambil ditonton ramai-ramai oleh masyarakat.

Ternyata tidak mengganggu konsentrasi. Bahkan bagi Lim Keng, semakin ramai orang, sketsanya makin hidup dan semakin cepat rampung. Hanya butuh waktu 15 menit untuk bikin satu sketsa.

Lim Keng sangat idealis, ingin menjadi diri sendiri. Lim enggan meniru gaya lukisan yang ramai di pasaran atau sudah banyak digarap orang lain. Karena itu, Lim Keng memilih sketsa (sketch), jenis lukisan yang sangat jarang ditekuni pelukis Indonesia. Namun, Lim tetap ingin tampil beda. Tak heran, ia menjajaki sketsa dengan pensil, lidi, pena, hingga ranting kayu. Tapi ia belum puas.

Suatu ketika muncul ide yang nyeleneh, orisinal. Lim Keng memasukkan tinta ke botol cuka, ditutup, dan lubang kecil penutup botol menjadi saluran tinta. Bisa dibayangkan sulitnya melukis dengan metode macam ini. Bergetar sedikit saja, kurang konsentrasi, kucuran tinta niscaya merusak kertas. Di sinilah pentingnya konsentrasi serta keahlian luar biasa (virtuositas) dari seorang seniman.

Di dunia ini hanya satu orang yang bisa melakukan itu. Namanya Lim Keng,  sulit bagi orang lain meniru gaya Lim Keng.

30 Maret 2001,  Baru bersedia pameran di Galeri Candik Ayu Surabaya. Pameran itu mendapat perhatian sangat luas, dibuka Konsul Jenderal Amerika Serikat Robert Pollard. Yang awalnya, Lim Keng mengaku paling malas mengelar pameran. Meskipun karya-karyanya sangat banyak, “Pelukis itu kerjanya gambar, bukan pameran” katanya, memang sekali-sekali, karena tak enak sama teman-teman pelukis di Jawa Timur, Lim Keng akhirnya mau juga menyertakan lukisannya di pameran bareng. Namun Lim Keng, tak muncul di lokasi.

Tahun  2004,  Lim berpameran tunggal di pusat kebudayaan Prancis di Surabaya, CCCL. Dalam pameran tersebut, dia memajang karya sketsa bergambar potret dirinya. Yang  gambar melalui cermin.

Minggu (23-8-2009) sekitar pukul 23.30 WIB, Dunia seni rupa Indonesia berduka. Pelukis Lim Keng, yang dijuluki maestro sketsa, meninggal dunia di RS Darmo dalam usia 75 tahun.=siwhoto=

Sumber  :
http://hurek.blogspot.com
http://brangwetan.wordpress.com

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Surabaya, Tokoh dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Liem Keng, Pelukis Surabaya

  1. stemy berkata:

    admin…adakah biografi tentang pelukis Iwa kustiwa ..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s