Perlengkapan upacara Parkawinan, Adat Suku Jawa di Daerah Jawa Timur


Perlengkapan upacara perkawinan adat daerah Jana Timur pada dasarnya cukup bervariasi. Sebagian perlengkapan tersebut telah dikemukakan dalam uraian tentang upacara perkawinan adat, yakni “kembar mayang”, “sanggan”, “rontek”, “srasrahan”, “jagoan”, “panjang ilang”, “pasangan”, dan “gantal”.

Perlengkapan lainnya adalah busana pengantin yang memperlihatkan adanya pengaruh dari Kerajaan Majapahit. Hal ini terlihat dari busana pengantin yang dikenakan, dimana busana tersebut menunjukkan dominasi unsur-unsur busana Majapahit.

Ragam hias yang dituangkan antara lain : motif-motif Gringsing Majapahit, motif Surya Majapahit, motif Gerbang Waringin Lawang, motif Sulur Buah Maja, motif Sulur Bunga. Cempaka, motif Sulur Bunga Anggrek, dan motif Sulur Bunga Teratai. Di samping unsur-unsur dominasi tersebut, upacara perkawinan adat daerah Jawa Timur juga dilengkapi dengan baju “beskap” lengan panjang, “sumping”, “kelat bahu”, sabuk “pending”, “rapek”, dan selop.

Mengenai seperangkat busana pengantin yang dikenakan oleh pengantin pria dalam upacara perkawinan adat daerah Jawa Timur, dapat dikemukakan sebagai berikut Tutup kepala berupa mahkota model gelung keling warna dasar hitam, yang dihiasi dengan jamang kancing gelung motif “Surya Binelah” warna emas dan permata yang disesuaikan dengan jamang pengantin puteri.

1)       Sumping motif Sulur Bunga Cempaka rinenggo sekar karang melok.
2)       Kalung susun tiga motif “Wulan Manunggal”
3)       Kelat bahu motif Garuda Mungkur
4)       Ikat pinggang/sabuk pending motif Antaraksi warna emas, bisa dari kain sutra atau linen yang bagian tepinya disulam/diberi manik-manik warnna emas.
5)       Senjata berupa Keris Landrang yang dipakai di bagian depan rinenggo sekar melati roncen kolong keris.
6)       Mengenakan cincin dua buah.
7)       Bagian dalam mengenakan baju warna terang model taqwa yang
dihiasi kancing smas motif Surya Majapahit.
8)       Baju luar berupa baju beskap pajang sampai di atas lutut, di bagian tengah agak terbuka yang dihiasi dengan benang/manik- manik/monte warna emas dengan motif Sulur Bunga Cempaka/ Mojo, Surya Majapahit, Candi Waringin Lawang, dan Itik Modopuro.
9)       “Rapek” bersusun tiga motif “Surya Trimondo”
10)    Ilatan/koncer motif “Cawuto” berwarna hitam atau dapat pula menggunakan kain sutera.
11)    Dodot sinebab paniang dengan motif Surya Ginelar dibatik/ dipiodo/monte warna emas menyala.
12)    Celana gringsing motif Surya Majapahit yang dihiasi dengan benang/prodo/monte warna emas menyala.
13)    Alas kaki berupa “selop” yang dihiasi dengan monte/manik- manik warna emas.
Adapun mengenai seperangkat busana pengantin putrinya dapat dikemukakan sebagai berikut:

1)    Pada bagian kepala dibentuk gelung keling yang mengepal ke atas rinenggo “sekar panganti” (pandan wangi, gading, anggrek, dan melati), serta dilengkapi dengan “cunduk mentul” motif Suryo Sekar Mojo yang dihiasi permata, dan sebagian rambut diulur lepas terurai ke ba>vah sampai ke pinggul yang dililit dengan untaian bunga melati.
2)    Hiasan kepala bagian depan berupa jamang motif “Kancing Gelung Surya Binelah” yang pada bagian bawah dihiasi dengan untaian permata motif Tritis, dan diberi kain beludru lima lengkung, sedangkan pada sisi kanan dan kiri dilengkapi dengan untaian bunga melati sepanjang lebih kurang 30 cm yang di bagian ujungnya ditutup dengan bunga cempaka/gading.
3)    Subang/giwang motif Ponyok
4)    Sumping motif Sulur Bunga Cempaka “rinenggo karang melok”
5)    Kalung motif “Kebon Rojo/Kaae rinonce”
6)    Kelat bahu motif Garuda Mungkur
7)    Cincin motif Ronyok
8)    Gelang tangan motif Kono/Sigar Penjalin
9)    Ikat pinggang/sabuk pending motif Antaraksi warna emas, bisa juga dari kain sutera atau linen yang bagian tepinya disulam/ diberi manik-manik warna emas.
10)  Bagian dalam baju menggunakan mekak warna terang.
11)  Penutup badan bagian luar berupa baju panjang sampai di atas lutut, di bagian tengah agak terbuka dan dihiasi dengan benang/ manik-manik/monte warna emas dengan motif Sulur Bunga Mojo/Bunga Cempaka, motif Surya Majapahit, Candi Waringin Lawang, Itik Modopuro dan dilengkapi bros/peniti renteng rinenggo sekar melati rionce.
12)  Rapek bersusun tiga motif Surya Trimondo
13)  Ilatan/kancer motif Cawuto berwarna hitam, dapat pula menggunakan kain sutera.
14)  “Dodot sinebab” panjang dengan motif “Surya Ginelar” dibatik/ diprodo emas menyala.
15)  “Sinjang gringsing” motif Surya Majapahit dengan dihiasi benang/prodo warna emas menyala.
16)  Alas kaki berupi selop yang dihiasi dengan monte/manik-manik warna emas.

Upacara “temu” atau “kepanggih” merupakan puncak upacara adat, dan pada upacara ini perangkat busana pengantin putera dan puteri juga dikenal adaya busana pengiring, sehingga upacara tersebut kelihatan menarik baik dari segi etika, estetika, norma maupun adat. Adapun busana pengiring pengatin terdiri atas pakaian pria, pakaian wanita, pakaian remaja putera, pakaian remaja puteri, dan pakaian anak-anak. Sedangkan unsur-unsurnya di antaranya gelang keling, udet (ikat kepala, kebaya renda/bordir dengan motif Candi Waringin Lawang, baju beskap model taqwa; rantai jam gandul, peniti renteng, kain gringsing, sabuk otok, dan selop atau sepatu.

Rombongan pengiring pengantin pada dasarnya terdiri atas “cucuk tampah”; “gandik sakembaran”; “talang atur”; “pembawa payung”; “pengapit” (pembawa sekar rontek); “perawan suhthi” (pembawa peralatan temu pengantin; talang bagus (pengiring pengantin putera); orang tua; pembawa: “kloso bantal”, “jodang”, dan “bubak kawak”.

Beberapa peralatan yang dibawa oleh para pengiring pengantin adalah loro pangkon, yang terdiri dari : jagoan Jodang, bubak kawak, dan “kloso bantal”; “tumbak”; payung; “sekar rontek”; bokor isi beras kuning: dan baki yang isinya kendi, daun kelor, telor, gelas, dan bokor isi bunga setaman.

Secara traditional seluruh upacara perkawinan adat daerah Jawa Timur berlangsung di rumah keluarga atau orang tua pengantin puteri. Untuk itu, sebelum tiga sampai tujuh hari pelaksanaan perkawinan pihak yang punya gawe biasanya akan mendirikan terob atau tratak di depan rumahnya. Bahan-bahan yang digunakan untuk medirikan tratak adalah bambu yang fungsinya sebagai tiang penyangga dan atap yang bahannya terbuat dari anyaman dauh kelapa, atau bisa juga dari anyaman bambu (kepang). Selama mendirikan tratak biasanya ada wanita yang menumbuk lesung (kotekan). Hal ini dimaksudkan sebagai tanda bahwa di tempat tersebut ada yang akan mempunyai hajad. Apabila tratak sudah selesai dikerjakan, maka sebagai kelengkapan terob biasanya di pasang janur dan tetuwuhan.

 

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pandangan Generasi Muda Terhadap Upacara Perkawinan  Adat di Kota  Surabaya, Departemen Pendidikandan  Kebudayaan RI Jakarta, 1998, hlm. 40- 44

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Th. 1998 dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s