Ludruk Sebagai Media Perjuangan (1945—1949)


Ludruk itu merupakan kesenian Jawa Timur yang dahulu dinamakan kesenian Bandan. Pertunjukkan kesenian ludruk Bandan itu menggambarkan bermacam-macam kesaktian para leluhur dalam hal ilmu kanuragan (kesaktian).

Ceritera ludruk Bandan itu sampai dengan pertunjukkan kesenian Epiek yaitu suatu ceritera mengenai kejadian-kejadian dengan pahlawan-pahlawan yang sakti, perwira pada masa lampau. Dalam ceritera itu termasuk pengalaman, keberanian, kecintaan dan sebagainya.

Dalam perkembangannya ludruk Bandan tak mendapat perhatian masyarakat, kemudian habis riwayatnya dan selanjutnya diganti dengan kesenian ludruk Lerok yang permainannya mirip sulapan.

Setelah ludruk lerok tidak berkembang dan mati, kemudian tumbuh ludruk Besut. Inti dari dalam ceritera itu menggambarkan kakang besut mencari pekerjaan ke Surabaya disusuli istrinya. Perjalanan dilukiskan dari Jombang, melalui Mojokerto terus ke Surabaya selalu menjumpai rintangan dalam perjalanannya.

Adapun siapa pencipta ludruk Bandan, ludruk Lerok dan ludurk Besut belum diketahui. Pemain ludruk Besut terkenal antara lain Cak Ngan. Ia juga pencipta lagu gending ijo-ijo dan gending emek-emek.

Pemain ludruk Blontan sekaligus seorang pelawak adalah Cak Gondo Durasin yang melahirkan pernyataan perasaannya dengan syair: “pegupon omahe dara, melok Nippon tambah sara”. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia “pegupon rumah burung merpati, diperintah Nippon tambah sengsara”.

Cak Durasin adalah seorang rakyat jelata putera Surabaya asli yang berjiwa patriot. Jasanya besar sekali karena dari tahun 1931-1942 ia selalu turut menyebarkan semangat persatuan dan turut pula menyebar jiwa nasionalisme.

Cak Durasin terkait erat dengan sejarah berdirinya gedong nasional Indonesia di Bubutan Surabaya, kemudian memegang peranan penting dalam memberi penerangan penting dalam memberi penerangan dan propaganda kepada rakyat di beberapa tempat.

Cak Durasin dapat dikatakan sebagai tangan kanan Dr. Sutomo. Karya Cak Durasin “Karma” diakui oleh Dr. Sutomo besar sekali pengaruhnya. Pemain ludurk Besutan yang banyak berperan antara lain Cak Akkidin alias Markuat dan Cak Dauh alias Haji Dulatip (aim), Cak Kuten, Cak Dul, Satari, Kasiyem dan lain-lainya.

Dalam perkembangannya diadakan perubahan dari ludruk Besutan menjadi sandiwara. Perubahan ini atas nasehat Marsaid kepada Cak Gondo. Perubahan itu diadakan karena

keadaan mendesak yaitu rombongan ludruk Cak Durasin di Sidoharjo mendapat saingan dari rombongan Cak Malang sehingga ludruk Cak Durasin pindah mendapat perhatian penonton.

Perubahan itu bukan hanya ludruk maupun sandiwara tetapi juga ceritera-ceritera yang dimainkan diganti dengan ceritera roman atau drama.

Dengan demikian secara proses perkembangan ludruk telah mengalami pergantian nama dari ludruk banden menjelma menjadi ludurk lerok kemudian berganti ludurk besutan dan terakhir menjadi ludruk sandiwara.

Pertunjukkan ludruk, satu-satunya kesenian rakyat Jawa Timur terutama bagi rakyat Surabaya umumnya. Ludruk telah menjadi tontonan daerah dan menjadi kegemaran penduduk Jawa Timur serta memegang peranan penting dalam gelanggang penerangan kepada rakyat dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Jumlah perkumpulan ludruk di dalam kota besar Surabaya, menurut catatan kantor Jawatan Penerangan Kota Besar Surabaya tahun 1952 berjumlah 481 rombongan, di antaranya ada 4 perkumpulan ludruk yang terkenal ialah Ludruk Marchain dibawah pimpinan Bowo, rombongan ludruk Jawa Timur di bawah pimpinan Satari, rombongan Trisno oleh Bradi dan rombongan Warna Sari di bawah Tang Ceng Bok yang dekadenya didunia film Indonesia.

Diantara 4 rombongan itu, ludruk Marhaen digemari orang karena mengandung penerangan terhadap rakyat, baik yang berupa komentar, agitasi dan kritik-kritik yang berfaedah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Partisipasi Seniman Dalam Perjuangan Kemerdekaan Di Propinsi Jawa Timur: Studi Kasus Kota Surabaya Tahun 1945—1949: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI, Jakarta,1999; hlm. 31-37

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Sejarah, Th. 1999 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s