Ita Purnamasari, Surabaya


15 Juli 1967, Ita Purnamasari lahir di Surabaya, Jawa Timur, dari pasangan Hj Diah dengan H Soekarmeni

Tahun 80-an, di Saat berlangsung final Festival Musik Rock Se Indonesia di Stadion Tambaksari Surabaya yang digagas Log Zhelebour. Ita bersama band-nya Rasio tak berhasil menjadi pemenang,  namun penampilannya sempat mencuri perhatian. Dengan berbusana rocker, Ita yang berkulit putih serta berparas cantik menyanyikan “Don’t Stop Me Now” nya Queen. Tak sekedar menyanyi. Sambil memainkan keyboards.

Tahun 1986 Ita Purnamasari tampil pada acara Aneka Ria Safari TVRI bersama Arthur Kaunang, rocker Jawa Timur dengan supremasi band  AKA/SAS.

Tahun 1988, di lagu “Penari Ular” karya Arthur Kaunang, vokalnya yang bernuansa syahdu alias merdu  dipaksakan menjadi penyanyi  rock.  Namun performa ini justeru melicinkan langkahnya ke jenjang karir yang dilaluinya.

Tahun 1988, Ita  masuk industri music, berbagai media menyebutnya dengan “lady rockers”,  di lagu “Penari Ular” karya Arthur Kaunang, vocal Ita yang  syahdu dipaksakan menjadi penyanyi rock. Namun justeru hal tersebut yang menjadikannya populer.

Tahun 1989, lewat lagunya “Selamat Tinggal Mimpi “ kariernya Ita sebagai penyanyi bertambah mencuat.

Tahun 90-an awal, Ita mulai terlihat seolah berganti image dengan berdandan ala Debbie Gibson. BASF Award memberi penghargaan “Penyanyi Rock Wanita Terbaiik”. Saat itu Ita berhasil membuat hit lagi lewat “Cintaku Padamu” karya Younky Soewarno dan Maryati yang seolah membawa nuansa lagu Pop Mandarin.

Tahun 1993, Kariernya sebagai penyanyi makin melambung lewat tembang Cintaku Padamu.

23 Oktober 1995, Setelah resmi menikah dengan punggawa Krakatau Band Dwiki Dharmawan, Ita lebih giat menjalin kerjasama musik dengan sang suami. Ini manfaat lain yang bisa dipetik Ita, apalagi Dwiki adalah pemusik yang terampil menjadi komposer sekaligus arranger.

Maret 1997, Ita dengan sang suami berbulan madu kedua di Australia. Sebelumnya mereka sengaja menunda momongan karena masih ingin menikmati masa-masa berdua. Setelah 1,6 tahun Ita dan Dwiki sepakat untuk punya momongan.

4 Desember 1997, buah hatinya, Muhammad Fernanda Dharmawan lahir melalui operasi caesar. Sehat, tak kurang satu apa.

Di era ini Yockie Surjoprajogo dari God Bless dan Kantata Takwa ikut andil pula menyentuk sosok Ita. Tetap dalam pola rock. Dengan didukung Donny Fattah (bass), Eet Sjahranie (gitar) dan Budy Haryono (drums), musik yang ditata Yockie seolah mewakili aura God Bless yang tengah menjalin kerjasama dengan Ita Purnamasari. Simaklah lagu “Selamat Tinggal Mimpi” yang kental nuansa rock-nya. Dalam interlude, lengkingan suara Ita seolah berpagut dengan petikan gitar elektrik Eet Syahranie.

Dalam album kompilasi itu Ita menyanyikan dua karya Yockie dan Sawung Jabo yaitu “Selamat Tinggal Mimpi” dan “Cakrawala Cinta’. Atmosfer rock masih menancap kuat dalam jatidiri Ita Purnamasari.

Pun ketika Ita berduet dengan Yankson Al vokalis grup rock Jet Liar dalam lagu “Rindu Sampai Mati” yang seolah membuka pintu untuk duet Inka Christy bersama Amy Suhaimi dari grup Search Malaysia.

Tahun 1996, ”Semakin Sayang Semakin Cinta” Ita dan Dwiki berhasil merampungkan rekaman di Amerika Serikat

Tahun 2002 ”Cintamu” dan “Semakin Sayang Semakin Cinta” merupakan karya Ita Purnamasari yang saat itu tergabung dalam trio Tiga Dara bersama Paramitha Rusady dan Silvana Herman.

Album kompilasi ini bisa dianggap representasi perjalanan karir Ita Purnamasari di khazanah musik kita. Dua lagu termutakhir pun ada di album ini yaitu lagu “Cuma Kamu” sebuah pola duet pop yang menyatukan vokal Ita Purnamasari dengan Zaki, mantan vokalis Kapten yang memiliki karakter unik. Serta lagu “Seandainya”, juga dengan pop touch yang kuat. Dwiki pun mengimbuh kedua lagu baru Ita ini dengan sentuhan orkestra dari China dan Australia.

Album Solo yang telah dihasilkan : Fatimah;   Ratu Disco (Single); Penari Ular; Selamat Tinggal Mimpi; Cakrawala Cinta; Biarkanlah; Sanggupkah Aku; Cintaku Padamu; Kembalilah Padaku; Cinta Itu Ada; KepadaMu Ya Allah; Semakin Sayang Semakin Cinta; Bidadari Yang Terluka (Soundtrack); Tiada Yang Seperti Kamu (Single); Cintaku Yang Terakhir ; Kejamnya Cinta; Cintamu; Sayangi Aku Aisyah (Single Dalam Album Kompilasi 12 Lagu Islami Terbaik Volume 2) serta Kembali Yang Terbaik.

Hasil album Kolaborasi : Nona Manis (Bersama Tiga Dara); Malam Minggu (Bersama Tiga Dara); Hanya Cinta (Bersama Tiga Dara); Bunga Kehidupan (Bersama Kelompok Solidaritas); Bersama Dalam Cinta (Bersama Forum); Memang Aku (Dengan Logika)-Single (Bersama Tiga Dara).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Sosok, Surabaya, Th. 2012 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s