Lamongan Kota Garis Depan


mayor jarotPada masa permulaan revolusi sebelum aksi militer Belanda pertama tanggal 21 Juli 1947, Lamongan disebut sebagai “kota garis depan”. Karena pada waktu itu Belanda menempatkan pasukannya di Tandes yang terletak di barat kota Surabaya. Sedang pihak Republik menempatkan Komando Tempur Batalyon IV dari Resimen XXX/TRI yang dipimpin oleh Mayor Mardanus di desa Benowo. Dengan demikian kota Lamongan menjadi kota yang paling depan dalam menghadapi serangan musuh.

Pada waktu terjadi pertempuran Surabaya, korban,tentara yang luka- luka yang berasal dari sektor Barat dikirim ke Rumah Sakit Lamongan. Demikian pula perbekalan selama perang di front Surabaya itu dikirim dari Lamongan. Semenjak itu Lamongan terkenal dengan sebutan kota garis depan, sedang Babat dan kota-kota lainnya sebagai garis belakang yang menjadi tempat pengumpulan bahan-bahan makanan seperti beras, jagung, kelapa, lauk pauk dan lain sebagainya.

Dalam rangka memperkuat front Surabaya dan sekitarnya, sesudah pecah Perang Kemerdekaan, pada tanggal 9 Desember 1945 dilakukan pengaturan pembagian tugas. Sektor sebelah utara, yakni daerah Gresik dipegang oleh Batalyon Sunaryadi, dan di sebelah selatan dipegang oleh Batalyon Darmo Sugondo yang meliputi Mantup dan Kesamben.

Batalyon Jarot Subiyantoro memperoleh tugas mempertahankan daerah mulai dari Benjeng (sebelah barat Surabaya) sampai dengan Kemlagi (sebelah utara Mojokerto). Di sepanjang front tersebut telah ditugaskan beberapa kesatuan, di antaranya Hizbullah, Pesindo Kompi Macan Kerah di bawah pimpinan Sampurno, Kompi Matosin dan Pasukan PD (Penggempur Dalam) di bawah pimpinan Sriyono.

Batalyonjarot Soebijantoro yang juga dikenal dengan nama Batalyon Mayangkara (sekarang menjadi Batalyon 503 LINUD KOSTRAD di Mojosari Mojokerto), pada saat pecah Perang Kemerdekaan 10 Nopember 1945 berkedudukan di Gubeng Surabaya, dengan nama Batalyon BPRI (Biro Perjuangan Rakyat Indonesia) di bawah pimpinan Jarot Subiyantoro. Dalam pertempuran Surabaya, batalyon ini mundur ke Sepanjang, Krian dan akhirnya bertahan di desa Perning Kecamatan Jetis Mojokerto.

Pada waktu diadakan reorganisasi, batalyon ini berada dalam Resimen XXXII yang dipimpin Kolonel Kretarto dan manjelma menjadi Batalyon IX dan bermarkas di Mantup dengan wilayah mulai dari Benjeng sampai ke desa Kupang Kecamatan Kemlagi Mojokerto. Salah satu kompi dari Batalyonjarot ini ialah Kompi Jansen yang seluruh anggotanya terdiri dari bekas Heiho dan dipimpin oleh Kapten Jansen Rambe.

Pada tahun 1948 ini, Pemerintah Republik Indonesia menerima cobaan berat yakni tatkala harus menghadapi tentara Nica-Belanda dengan agresinya, PKI mengadakan pemberontakan dengan mendirikan Pusat Pemerintahannya di Ma*diun. Wilayah yang mereka kuasai selain Madiun dan sekitarnya, juga Surakarta, Boyolali, Grobogan, Purwodadi, Blora dan Bojonegoro. Untuk menumpas pemberontakan itu sebagian kekuatan militer dikerahkan ke daerah-daerah tersebut, termasuk Batalyon Sunaryadi.

Setelah operasi penumpasan terhadap pemberontakan PKI Madiun selesai, Batalyon Sunaryadi yang dikenal sebagai Stoot Batallion (Batalyon Pendobrak) mendapat perintah untuk mengadakan pembersihan di kota Bojonegoro dan sekitarnya. Dari Bojonegoro Batalyon ini ditugaskan menguasai seluruh Kabupaten Lamongan untuk menghadapi tentara Belanda dari Gresik yang mempunyai pos depan di Desa Duduk Sampeyan.

Pada tahun 1948 Kabupaten Lamongan di bawah Komando Batalyon Sunaryadi (SNYD). Snyddalam bahasa Belanda artinya memotong. Batalyon ini bermarkas di Kota Lamongan (di sekitar Pendopo Kabupaten Lamongan sekarang). Dalam mempertahankan kota Lamongan batalyon ini menempatkan pasukan sebagai berikut :

  1. Kompi Kardomo ditempatkan di desa Deket yang menjaga garis perta­hanan mulai desa Pandan Pancur ke utara.
  2. Kompi Sunarso, mulai desa pandan Pancur ke selatan sampai perbatasan kota Lamongan.
  3.  Kompi Kahim, dari perbatasan kota Lamongan sampai perbatasan daerah Mantup.
  4.  Kompi Dulasim sebagai kompi cadangan  untuk memberikan bantuan terhadap kompi yang membutuhkannya,
  5.  Markas Komando Batalyon bertempat di rumah sebelah Pendopo Kabupaten Lamongan. ditempatkan di kota

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Lamongan Memayu Raharjaning Praja, Lamongan: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan, 1994

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lamongan, Sejarah, Th. 1994 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s