Njoo Kiem Bie Pahlawan Thomas Cup, Surabaya


Legenda bulutangkis Indonesia yang berasal dari klub Suryanaga sebelum Rudy Hartono Kurniawan dan Alan Budikusuma adalah Njoo Kiem Bie. Dia adalah Pahlawan Thomas Cup Indonesia karena untuk kali pertama ikut merebut piala bergengsi tersebut pada 1958. Kiem Bie, yang berperawakan tinggi besar, lahir di Surabaya pada 17 September 1927. la sempat menjadi pemain sepak bola Kelas I “Tiong Hoa’ pada 1950-an.

Sebagai pemain belakang dia bahu membahu bersama  Kwee Hwa Sik(Mulyanto) dan Phwa Sian Liong(Januar Pribadi) untuk mendampingi dua bek sayap Yap Ting Gan dan Liem Tjay Hie untuk melapis penjaga gawang Bing Mo Heng. Di lini depan selain Tee San Liong dan Liem Tiong Hoo(dokter Hendro Hoediono) juga ada Kho Thiam Gwan. Sedangkan kedua sayap ditempati oleh Tan Ping Hoo dan Liem Tiong Mo. Ketika itu, “Tiong Hoa” menjadi juara kompetisi Persibaya(sekarang Persebaya).

Walaupun sebagai pemain .sepak bola Kiem Bie cukup bagus, namun ia kemudian lebih memilih bulutangkis. Apalagi setelah Indonesia bergabung dengan IBF(international Badminton Federation) pada 1957. Sejak saat itu, Kiem Bie sudah memperkuat tim Indonesia. Para pemain yang terpilih untuk tim Indonesia dalam babak penyisihan Piala Thomas selain Kiem Bie adalah Ferry Sonneville, Tan Joe Hok, Eddy Yusuf, Tan King Gwan dan Lie Poo Djian(Pudjianto).

Indonesia mengawali langkahnya merebut Thomas Cup dengan lolos dari babak inter zone setelah memukul Australia dan Selanduia Baru masing- masing 9-0 pada 1957. Dalam perebutan Piala Thomas di Singapura pada 1958, Indonesia kali pertama berjumpa Denmark. Indonesia ketika itu masih dianggap anak bawang, sedangkan Denmark merupakan tim yang sangat disegani, “Ketika itu kami memakai kaus bergambar bendera Merah Putih. Lambang negara kita itu seolah-olah membakar semangat kami,” tutur Kiem Bie.

Karena itu, saat menghadapi Denmark semangat para pemain Indonesia meledak-ledak. Hasilnya, Indonesia mengalahkan Denmark 6-3. Kemenangan itu, membuat pemain-pemain Indonesia lebih percaya diri. Berturut-turut kemudian Indonesia mengalahkan Amerika Serikat 7-2, Muangthai (sekarang Thiland) 8-1 dan Jepang 6-3.

Indonesia lolos ke final untuk berhadapan dengan pemegang piala Malaya(kini Malaysia). Publik Singapura tidak ada yang menjagokan , Indonesia. Hampir semua pemberitaan menyatakan yakin Malaya bakal menjadi juara lagi. Namun, serpua prediksi itu berhasil dijungkirbalikkan oleh pemain-pemain Indonesia, Dengan perjuangan yang sangat berat, Indonesia akhirnya mampu mengalahkan Malaya 6-3.

Sang Merah Putih pun berkibar. Perasaan gembira yang luar biasa pun melanda seluruh Tanah Air begitu tersiar berita bahwa Indonesia untuk kali pertama merebut Piala Thomas. Presiden RI ketika itu, Bung Karno, langsung mengirimkan ucapan selamat Hasil gemilang itu benar-benar di luar  dugaan mengingat persiapan Indonesia yang sangat minim. Untuk berangkat ke Singapura para pemain Indonesia tidak dibekali uang saku.

“Kami berangkat begitu saja. Sepekan sebelumnya kami diberi tiket kereta api ke Jakarta oleh PBSI. Kami dikumpulkan di Stadion Ikada dan ditempatkan di sebuah asrama kecil. Untuk makan kami harus beli sendiri-sendiri,” tutur Kiem Bie. Karena serba kurang, jas yang dipakai para pemain pun tidak seragam. Ada yang mengenakan jas warna biru, ada yang cokelat dan ada pula yang warna krem.

Karena tidak memakai seraga menjelang welcome party tim Indonesia agak rikuh. Sebab, semua peserta yang lain memakai seragam. Hal itu membuat perwakilan Indonesia di Singapura repot. Akhirnya petugas kedutaan mengajak para pemain membeli jas di sebuah toko di Singapura. “Saya tidak ingat lagi nama toko itu. Kami ke sana lalu diukur dan beberapa jam kemudian jas sudah selesai/’ kenang Kiem Bie.

Kiem    Bie sebenarnya pernah mengganti namanya menjadi Koesbijanto Setia Dharma Atmadja. Namun, ia lebih senang memakai nama aslinya. “Ketika orang tua saya memberi nama pasti mereka sudah punya pertimbangan, hitung-hitungan hari baik dan sebagainya. Jadi, biar saja kalau ada yang mau memakai nama aslinya. Jangan dipaksakan,” katanya.

Kiem    Bie mengenal bulutangkis dari kakaknya Njoo Kiem Biauw. Kala itu, kakaknya bergabung dengan PB(Perkumpulan Bulutangkis) Happy. Kakaknya itu sempat beberapa kali menjadi juara di tingkat regional. Bagi Kiem Bie bisa menjadi pemain bulutangkis itu dinilainya kebetulan. Sebab, orang tuanya tidak pernah merestui dia sebagai pemain bulutangkis. Kedua orang tuanya lebih senang jika dia bersekolah dan kemudian mendapatkan gelar. “Mereka ingin anaknya punya titel atau jadi dokter,” kenangnya.

Karena itu, setiap kali berlatih ia melakukannya secara sembunyi- sembunyi. Saatitu, ia masih bersekolah di HCS(Hollands Chinese School – SD pada zaman Belanda) . Dia berlatih di klub “Tiong Hoa” Jalan Pasar

Besar Wetan Kiem Bie juga pernah berlatih di PB Shuang Sheh di Jalan Rajawali. Rumah Kiem Bie ketika itu di Jalan Canton(daerah Simolawang). Dia anak ketiga dari delapan bersaudara. Untuk pergi ke tempat latihan dia

berjalan kaki atau mengendarai sepeda. Karena anaknya sering berlatih bulutangkis kedua orang tua Kiem bie waswas. Mereka khawatir sekolah anaknya terganggu. “Kalau saya terlambat pulang dari latihan ayah saya sudah mencegat di pintu dengan membawa kemucing. Mau jadi apa kamu besok,” tutur Kiem Bie menirukan ucapan ayahnya Njoo Khing Swie.

Setelah menamatkan HCS Kiem Bie melanjutkan sekolahnya ke Sin Hwa High School di Jalan Ngaglik pada 1939. Hasil latihan bulutangkis membuat otot-otot tubuhnya lebih kuat dan lentur. Gerakan ‘ kakinya pun makin lincah. Di sekolah menengah permainan Kiem Bie mulai menonjol. Pukulannya makin keras dan penempatan bolanya makin akurat. Dalam berbagai seleksi

yang dilakukan klubnya Kiem Bie selalu menjadi nomor satu. Prestasi itu sangat disyukuri oleh Kiem Bie. Sebab, selama menggeluti bulutangkis kondisi fisiknya tidak ditopang oleh pasokan nutrisi dan gizi yang memadai. Dia memang bukan berasal dari keluarga kaya karena ayahnya hanya karyawan Bank Bumi Daya. “Namun, saya tidak pernah melewatkan untuk minum jamu Jawa. Dua hari sekali saya pasti minum jamu Jawa,” kenangnya.

Karir Kiem Bie sebagai pemain bulutangkis terus menanjak. Kekha- watiran ayahnya mulai terbukti. Se- bab, Kiem Bie lebih ^senang menekuni bulutangkis dari- pada melanjutkan sekolahnya. Namun, saat itu dia punya satu tekad. Dia ingin membuktikan bahwa dengan bulutangkis pun dia bisa mem- buat kedua orang- tuanya bangga.

Setelah Kiem Bie ikut membantu Indonesia merebut Thomas Cup barulah orang tuanya sadar bahwa anaknya juga mampu mengharumkan nama bangsa. Kedua orangtuanya tak kuasa membendung air mata mereka ketika Kiem Bie menunjukkan medali dan piagam penghargaan yang ia terima.

Pada 1961 Kiem Bie ikut memper- tahankan Thomas Cup di Jakarta, la kemudian mendapatkan penghargaan JSatya Lencana Kebudayaan dari pemerintah. Selain itu, ia juga mendapatkan hadiah rumah dari Presiden RI pertama Bung Karno. Dia juga pernah mendapatkan tanda jasa dari IBF pada 1987.

Dari pernikahannya dengan Sisca Sing, dia dianugerahi dua anak perempuan. Namun, kedua anaknya tidak ada yang mengikuti jejaknya sebagai pemain bulutangkis.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Johnny Budi Martono & Mulyono. Buku Peringatan 100 Tahun POR Suryanaga, Surabaya: Suryanaga, 2008

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sosok, Surabaya, Th. 1994 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s