Pendudukan Jepang di Kabupaten Lamongan


PERIODE PENDUDUKAN JEPANG

Tatkala Perang Pasifik sudah menjalar sampai di wilayah Hindia Belanda (Indonesia). Belanda yang berada di pihak Sekutu menyadari akan bahaya itu. Untuk menghadapi kemungkinan serangan Jepang itu, Belanda membangun pertahanan berupa sarang meriam, jebakan, dan pagar kawat berduri di sepanjang pantai Brondong sampai Paciran. Tetapi ternyata Jepang tidak mendarat di Brondong dan sekitarnya, melainkan di pantai Glondong dan Bulu sebelah barat Tuban. Dari sini mereka menuju Tuban dan sebagian menuju ke Babat, sebagian yang lain menuju ke Brondong dan Paciran. Dari Babat sebagian pasukan langsung menduduki kota Lamongan dan sebagian terus ke timur menuju ke Gresik dan Surabaya. Demikian juga pasukan yang lewat Paciran, sebagian masuk ke kota Lamongan dan sebagian lagi terus ke arah timur menduduki Gresik dan Surabaya.

Ketika mereka mulai menduduki ibu kota Kabupaten dan beberapa kota Kecamatan, mereka melepaskan para tahanan dan narapidana serta membebaskan mereka untuk menjarah dan merampok toko-toko atau pabrik-pabrik padi dan sebagainya. Tetapi ketika keadaan tidak lagi dapat dikendalikan, tentara Jepang dengan sangat kejam membunuh beberapa orang di antara mereka didepan umum. Situasi mulai berubah, sikap rakyat yang sebelumnya merasa gembira dengan kehadiran Jepang berubah menjadi ketakutan yang mencekam.

Sebagai tentara pendudukan, Jepang pada dasarnya memang tidak mengadakan pengaturan administratif yang baru. Mereka hanya melanjutkan penataan yang sudah ada dan mapan, tetapi memberinya jiwa dan semangat Japanisme pada setiap nama jabatan dan pejabatnya. Jabatan-jabatan penting yang dahulunya dipegang oleh orang-orang Belanda seperti Residen, Kepala Kepolisian, dan Direktur diganti oleh orang-orang Jepang. Juga rupiah Belanda diganti menjadi rupiah Jepang.

Penataan dan pemberian jiwa serta semangat Japanisme itu tidak terbatas pada segala sesuatu yang menyangkut bidang pemerintahan saja, melainkan juga pada bidang-bidang kehidupan kemasyarakatan. Dengan demikian rakyat bisa diharapkan berada dalam suasana alam administrasi, jiwa dan semangat Jepang. Dalam administrasi kepemerintahan, Jepang hanya “mendampingi” dalam arti mengawasi pejabat Indonesia sampai ke tingkat Bupati (Kencho) dan terkadang sampai ke tingkat Wedana ( Guncho).

Dalam waktu yang singkat, secara serentak dilakukan gerakan Japanisasi dalam banyak hal ke dalam kehidupan penduduk. Keharusan belajar bahasa Jepang diterapkan mulai dari pendidikan tingkat Sekolah Desa hingga ke tingkat yang paling tinggi. Demikian pula keharusan meniru sikap dan perilaku Jepang juga diberlakukan secara paksa dalam kehidupan sehari-hari, seperti menunjukan sikap menghormat yang amat mencolok di antara orang yang berbeda tingkat sosialnya, terutama memberikan hormat dengan membungkukkan badan ke arah istana Kaisar Tenno Haika pada setiap pagi yang disebut Seikeirei.

Japanisasi diberlakukan sampai pada tingkat cara hidup sehari-hari, terutama kepada anak-anak sekolah, seperti keharusan mencukur rambut sampai benar-benar plonthos.

Gerakan yang dilakukan Jepang dalam rangka memenangkan perang melawan tentara Sekutu, antara lain :

  1. Melatih para pemuda sebagai anggota Seinendan (Barisan Pemuda) dan anggota Keibodan (Barisan Pembantu Polisi) yang sangat berat dan banyak menyita waktu kerja. Kedua Barisan tersebut dibentuk pada tanggal 29 April 1943, bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito/Tenno Haika yang ke 42.
  2. Anak-anak sekolah disuruh melakukan kinrohoshi(kerja bakti) menanam jarak dan mencari iles-iles di hutan-hutan.
  3. Melaksanakan KyoseiRodoikerja paksa) sebagai Romushabzgi penduduk laki-laki. Mereka dikirim ke tempat-tempat yang telah ditentukan, mereka wajib bekerja pada suatu projek untuk keperluan perang tanpa dibayar.
  4. Melaksanakan Bakti negara dan masyarakat atau Sbinjitsu na Kuni to Kokumin no tameni bagi seluruh penduduk, termasuk kaum wanita.
  5. Kaum wanita dihimpun dalam Fujin Kai.
  6. Penyerahan wajib hasil panen dan harta lain pada pemerintah, mencapai sepertiga atau separohnya.
  7. Kaum ulama tidak ketinggalan dari perhatian Jepang. Diantara mereka ada yang digunakan pengaruhnya, ada juga yang digunakan tenaganya untuk pertahanan. Suatu hal yang menarik bahwa Jepang minta kepada Ulama Islam untuk membaca do’a (pujian) pada setiap habis adzan sebelum iqomat, untuk mendo’akan bagi kemenangan Jepang dalam perangnya melawan Sekutu.
  8. Pertanian juga dimajukan, jenis tanaman yang harus ditanam harus sesuai dengan perintah dan pilihan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pendudukan Jepang. Jarak tanaman padi diatur dengan kekerasan.
  9. Waduk-waduk selain didalamkan dengan gugur-gunung, petugas-petugas pengatur airnya pun diawasi secara ketat. Setelah panen, petani diwajibkan menyerahkan hasilnya kepada pemerintah sebanyak 20 % sampai 25 %, dan penyerahan itu mulai dari penimbangan sampai kepada pengangkutannya diawasi aparat pemerintahan secara berlapis.

Agaknya tidak ada satupun unsur kehidupan rakyat ini yang sengaja dibina dan dibangun oleh Jepang benar-benar untuk kesejahteraan rakyat Lamongan secara murni, melainkan semuanya itu dengan maksud untuk memperkuat posisi dan perbekalan Jepang dalam perang dan ambisi Asia Timur Raya-nya.

Penderitaan rakyat Lamongan sebagaimana penderitaan rakyat seluruh Indonesia pada masa pendudukan Jepang bertambah hari bertambah berat. Kesan dan kenangan pahit dari penderitaan yang sudah sampai pada tingkat di bawah titik kritis, tetap membekas di hati rakyat Lamongan yang mengalaminya.

Tatkala tentara Jepang sudah mulai terdesak oleh pasukan Sekutu di berbagai medan pertempuran, Pemerintah Pedudukan Jepang di Indonesia berusaha mengorganisasikan kekuatan rakyat Indonesia terutama para pemudanya.

Pengerahan pemuda (milisi) untuk menjadi Heiho (Pasukan Pembantu Tentara) yang dibentuk pada 22 April 1943, anggota Bo-ei Giyugun (Tentara Pembela Tanah Air – PETA) yang dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943, anggota Shuishintai (Barisan Pelopor) yang dibentuk pada tanggal 1 November 1944, anggota Jibakutai(Barisan Berani Mati) yang dibentuk pada tanggal 8 Desember 1944, dan anggota Kaikyo Seinen Teishintai (Barisan Hizbullah) yang dibentuk pada tanggal 15 Desember 1944.

Di daerah Lamongan dibentuk Dai Ichi Daidan dari Bo-ei Giyugun Bojonegoro Shu (Tentara PETA Batalyon I Karesidenan Bojonegoro) bermarkas di Babat dan dipimpin oleh Daidancho Kyai Masykur. Setelah Daidancho Kyai Masykur gugur diganti oleh Daidancho Soeman.

Di balik latihan-latihan kemiliteran yang diadakan oleh Jepang dengan disiplin tinggi dan aturan yang amat ketat, ternyata ada hikmah yang sangat besar dalam menyongsong hari depan tanah air. Saat itu mereka umumnya masih berusia sekitar 20 – 25 tahun. Dengan latihan-latihan kemiliteran tersebut mereka mencapai suatu taraf militansi tertentu yang mengantarkan mereka menjadi tenaga penggerak perjuangan sebelum dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Lamongan Memayu Raharjaning Praja, Lamongan: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan, 1994

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lamongan, Sejarah, Th. 1994 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s